Oleh: Ghefira Mannawa Salwa
Suara USU, Medan. Pernahkah dalam satu hari kamu melakukan banyak hal, tetapi ketika hari berakhir, kamu justru merasa tidak benar-benar menikmati apa pun? Bangun tidur, kuliah atau bekerja, mengerjakan tugas, bertemu orang lain, bermain media sosial, lalu kembali tidur. Besoknya, rangkaian yang sama kembali dilakukan. Tanpa sadar, aktivitas yang awalnya hanya kebiasaan perlahan menjadi rutinitas yang terus diulang.
Kesibukan memang menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Namun, terlalu terbiasa menjalani rutinitas juga bisa membuat seseorang lupa bertanya kepada dirinya sendiri, apa sebenarnya tujuan dari semua hal yang dilakukan setiap hari?
Di tengah kehidupan yang serba cepat, muncul konsep intentional living yang mengajak seseorang untuk menjalani hidup dengan lebih sadar. Secara sederhana, intentional living merupakan cara menjalani kehidupan dengan lebih sadar dalam menentukan pilihan, terutama dalam menggunakan waktu, energi, dan perhatian. Konsep ini bukan berarti seseorang harus mengubah seluruh rutinitas atau menjalani hidup dengan sempurna, melainkan mulai memahami hal-hal yang memang penting dan memberikan arti bagi diri sendiri. Penerapan konsep ini bisa dimulai dengan mengenali prioritas, kemudian memberikan perhatian lebih pada aktivitas yang memang dibutuhkan. Dengan begitu, seseorang tidak hanya menjalani kegiatan karena sudah terbiasa melakukannya, tetapi juga memahami alasan di balik pilihan tersebut.
Hal pertama dalam memahami intentional living adalah mulai menyadari setiap pilihan yang dibuat. Terdapat nanyak keputusan yang dilakukan secara otomatis dalam keseharian seseorang. Misalnya, membuka media sosial setiap kali merasa bosan, menerima semua ajakan karena segan untuk menolak, atau menghabiskan waktu untuk sesuatu hanya karena sudah menjadi kebiasaan. Padahal, tidak semua hal yang sering dilakukan berarti benar-benar dibutuhkan.
Menjalani hidup dengan lebih sadar berarti mulai memberikan sedikit jeda sebelum menentukan pilihan. Seseorang bisa bertanya kepada dirinya sendiri, “Apakah kegiatan ini memang penting bagi saya?” atau “Apakah waktu yang saya gunakan untuk hal ini memberikan sesuatu yang berarti?”
Kesadaran sederhana seperti ini dapat membantu seseorang lebih memahami bagaimana waktu dan energinya digunakan. Bukan berarti setiap kegiatan harus selalu menghasilkan sesuatu yang besar, tetapi setidaknya seseorang mengetahui alasan mengapa ia memilih untuk melakukannya.
Setelah mulai sadar terhadap pilihan yang diambil, langkah berikutnya adalah menentukan apa yang menjadi prioritas. Setiap orang tentu memiliki kebutuhan dan tujuan yang berbeda. Oleh karena itu, sesuatu yang dianggap penting oleh orang lain belum tentu memiliki nilai yang sama bagi diri sendiri.
Misalnya bagi mahasiswa, menyelesaikan tugas kuliah mungkin menjadi prioritas pada hari tertentu. Namun, di waktu lain, beristirahat, berkumpul bersama keluarga, atau melakukan hobi juga bisa menjadi hal yang penting. Menentukan prioritas bukan berarti harus selalu mendahulukan pekerjaan atau produktivitas, tetapi memahami apa yang memang sedang dibutuhkan.
Hal ini juga dapat membantu seseorang mengurangi kebiasaan membandingkan kehidupannya dengan orang lain. Ketika sudah mengetahui prioritas diri sendiri, seseorang tidak perlu terus merasa harus mengikuti aktivitas orang lain hanya karena terlihat lebih produktif atau menyenangkan. Sebab, menjalani hidup bukan tentang seberapa banyak kegiatan yang berhasil dilakukan dalam satu hari, melainkan seberapa bermakna kegiatan tersebut bagi diri sendiri.
Menjalani hidup dengan sadar juga berarti tahu kapan harus berhenti sejenak. Di tengah rutinitas yang padat, istirahat sering dianggap sebagai sesuatu yang menghambat produktivitas. Padahal, memberikan waktu untuk beristirahat justru dapat membantu seseorang kembali melihat apa yang sedang dijalani. Slow down bukan berarti berhenti mengejar tujuan, tetapi memberikan ruang untuk menikmati proses dan memahami apa yang sebenarnya dibutuhkan. Waktu untuk melakukan hobi, berbicara dengan orang terdekat, menikmati makanan, atau sekadar beristirahat juga menjadi bagian dari kehidupan yang perlu dihargai.
Intentional living bukan tentang bagaimana seseorang harus menjalani hidup dengan sempurna atau selalu produktif. Konsep ini merupakan kesadaran dalam menentukan pilihan dan memahami apa yang memang penting bagi diri sendiri. Rutinitas yang dilakukan berulang kali memang bisa membuat hari terasa melelahkan. Namun, ketika seseorang mulai mengenali prioritas, mengatur waktu dan energi, serta memberi ruang untuk beristirahat, maka aktivitas yang dijalani dapat terasa lebih berarti. Intentional living bukan tentang melakukan lebih banyak hal, melainkan lebih sadar dalam memilih hal yang memang ingin dan perlu dilakukan. Hidup bukan hanya soal terus bergerak, tetapi juga memberi diri sendiri kesempatan untuk menikmati perjalanan.
Redaktur: Alya Nayla Sahirah S.
Leave a comment