Home Kabar Kampus Pembakaran Ban Jadi Simbol Kekecewaan BEM USU atas Absennya Pemerintah
Kabar Kampus

Pembakaran Ban Jadi Simbol Kekecewaan BEM USU atas Absennya Pemerintah

Share

Reporter: Yolanda Febriana Sinaga dan Raka Rafzan Rasyid

Suara USU, Medan. Aliansi mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU) di bawah Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) USU menggelar aksi penyampaian aspirasi di depan Lapangan Merdeka Medan pada Kamis (20/8). Aksi bertajuk refleksi ulang tahun ke-81 Indonesia tersebut diwarnai dengan orasi, pembacaan tuntutan, pembakaran ban, hingga penyalaan lilin sebagai bentuk keresahan mahasiswa terhadap kondisi bangsa.

Aksi dimulai sekitar pukul 15.30 WIB. Sekitar pukul 16.03 WIB, massa masih menyampaikan orasi dan melakukan pembakaran ban sebagai simbol keresahan terhadap berbagai persoalan yang dinilai belum mendapat perhatian pemerintah. Orasi disampaikan oleh Zainal Arham Lubis dan Santrio Bakti Sianturi, Kepala Divisi Kajian dan Aksi Strategis BEM FEB USU.

Rangkaian aksi kemudian dilanjutkan dengan menyanyikan lagu “Tanah Airku”. Sekitar pukul 16.24 WIB, peserta membagikan dan menyalakan lilin sambil mengelilingi spanduk perjuangan. Penyalaan lilin tersebut menjadi simbol semangat mahasiswa dalam menyuarakan aspirasi.

Aksi dilanjutkan dengan menyanyikan lagu “Buruh Tani” dan “Mars Mahasiswa”. Pada pukul 16.43 WIB, peserta memadamkan lilin yang berada di sekitar spanduk perjuangan sebagai simbol bahwa perjuangan mahasiswa tidak berhenti dan akan terus dilanjutkan

Koordinator aksi, Angga Al Maaris Harahap, mengatakan kegiatan tersebut berjalan sesuai dengan hasil konsolidasi mahasiswa USU. Pemilihan Lapangan Merdeka sebagai lokasi aksi dilakukan agar aspirasi mahasiswa dapat dilihat lebih luas oleh masyarakat dan mendapat perhatian dari berbagai pihak.

“Alhamdulillah aksi hari ini berjalan sesuai dengan yang kami rencanakan. Kawan-kawan mahasiswa dan masyarakat telah menyampaikan keresahan serta aspirasi yang selama ini dirasakan. Harapan kami, suara ini dapat didengar oleh pemerintah,” ujar Angga.

Namun, tidak terlihat perwakilan pemerintah maupun anggota DPRD yang hadir untuk menerima aspirasi mahasiswa. Kondisi tersebut menjadi perhatian mahasiswa karena tidak adanya respons langsung dari pihak yang diharapkan dapat mendengarkan aspirasi mereka.

“Kami kecewa karena aspirasi masyarakat kembali tidak mendapatkan respons langsung. Seharusnya pejabat yang menjadi perwakilan rakyat hadir untuk mendengarkan apa yang dirasakan masyarakat,” katanya.

Meski jumlah peserta aksi tidak terlalu besar, mahasiswa menilai hal tersebut bukan menjadi ukuran utama dalam menyampaikan aspirasi. Menurut mereka, keberanian menyuarakan keresahan masyarakat merupakan bagian dari tanggung jawab mahasiswa sebagai kelompok intelektual.

“Kami berharap aksi ini menjadi pemantik bagi mahasiswa dan masyarakat lainnya bahwa menyampaikan aspirasi tetap penting. Tidak harus menunggu jumlah massa yang besar untuk memperjuangkan sesuatu yang dianggap benar,” ujarnya.

BEM USU menegaskan akan terus mengawal berbagai isu yang berkembang di masyarakat. Mahasiswa menyatakan akan tetap menyuarakan aspirasi melalui berbagai cara, termasuk melalui ruang digital.

Redaktur: Erni Yuli Simatupang

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.