Reporter: Dhita Luna dan Dinda Sajidah
Suara USU, Medan. Program Studi S1 Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Sumatera Utara (USU) menghadirkan akademisi Malaysia, Prof. Lee Kam Hing, dalam kuliah umum bertajuk “Ganyang Malaysia: The Indonesia-Malaysia Confrontation” untuk membekali mahasiswa baru dengan perspektif sejarah mengenai konfrontasi Indonesia dan Malaysia, Selasa (18/8/2026). Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 14.00 WIB tersebut digelar secara luring di Gedung Serbaguna Prof. T. Amin Ridwan FIB USU dan disiarkan secara daring melalui platform Zoom.
Ketua Program Studi S1 Ilmu Sejarah FIB USU, Lestari Dara Cinta Utami Ginting, S.S., M.A., mengungkapkan bahwa pemilihan tema tersebut bertujuan memberikan perspektif sejarah yang lebih mendalam kepada mahasiswa, khususnya mengenai hubungan Indonesia dan Malaysia pada masa konfrontasi. Menurutnya, meskipun Indonesia dan Malaysia memiliki kedekatan budaya sebagai negara serumpun, kedua negara pernah mengalami ketegangan politik yang memuncak pada masa pemerintahan Presiden Soekarno.
Salah satu bentuk ketegangan tersebut terlihat melalui slogan “Ganyang Malaysia” yang digaungkan Presiden Soekarno sebagai bagian dari sikap politik Indonesia terhadap pembentukan Federasi Malaysia. Menurut Lestari, pembahasan mengenai peristiwa tersebut penting untuk memberikan pemahaman kepada mahasiswa mengenai hubungan kedua negara dari sudut pandang sejarah.
Untuk membahas peristiwa tersebut secara lebih luas, pihak program studi menghadirkan Prof. Lee Kam Hing, akademisi dari New Era University College, Selangor, Malaysia. Kehadiran akademisi tersebut menjadi bagian dari upaya program studi menghadirkan perspektif dari pihak Malaysia dalam pembelajaran sejarah konfrontasi Indonesia-Malaysia.
Lestari menyatakan bahwa Prof. Lee bersedia hadir dan membagikan pengetahuannya kepada mahasiswa tanpa meminta kompensasi finansial. Menurutnya, kesediaan tersebut menjadi bentuk kontribusi Prof. Lee dalam bidang pendidikan sekaligus memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk memperoleh perspektif langsung dari akademisi Malaysia.
Lebih lanjut, Lestari menjelaskan bahwa kuliah umum tersebut dirancang agar mahasiswa baru memperoleh pengalaman belajar di luar kegiatan perkuliahan reguler sejak awal masa studi. Menurutnya, kegiatan akademik seperti kuliah umum dapat memperluas pemahaman mahasiswa karena memberikan ruang untuk berinteraksi dengan narasumber dan menguji pemahaman yang telah diperoleh di kelas. “Ketika ada kuliah umum seperti ini, mahasiswa akan merasakan bahwa pemahaman yang didapat di dalam kelas itu mungkin masih sangat kecil. Saya suka mengingatkan di kelas, jangan seperti katak dalam tempurung. Lewat kegiatan ini kita bisa menguji apakah kita berani memberikan pertanyaan atau tanggapan atau ujung-ujungnya hanya diam saja,” pungkasnya dalam wawancara dengan Suara USU, Selasa (18/8/2026).
Selain memperluas wawasan sejarah, kegiatan tersebut juga diarahkan untuk mendorong mahasiswa mengembangkan kemampuan literasi dan berpikir kritis. Lestari berharap mahasiswa dapat mulai membiasakan diri menyampaikan pemikiran melalui ruang diskusi maupun tulisan, baik dalam konteks akademik maupun melalui media sosial. Menurutnya, mahasiswa perlu berlatih menyusun dan menyampaikan pemikiran secara mandiri di tengah perkembangan teknologi, termasuk penggunaan kecerdasan buatan. Ia menilai teknologi dapat digunakan sebagai alat bantu untuk memeriksa penggunaan bahasa, tetapi tidak dapat menggantikan proses berpikir mahasiswa.
“Saya berharap mereka berani bicara di ruang-ruang diskusi dan mulai berlatih menulis pendapatnya sendiri. Silakan gunakan kecerdasan buatan (AI) sebatas untuk mengecek diksi atau ejaan, tetapi yang paling dipentingkan itu adalah keberanian untuk menulis atau bicara karena hasil pemikiran sendiri, bukan karena dibantu-bantu oleh yang lain,” pungkasnya.
Redaktur: Alya Nayla Sahirah S,
Leave a comment