Oleh: Ezra Adelia Sinaga
Suara USU, Medan. Layar ponsel di tangan Kirana berkedip lambat. Di koridor lantai dua gedung perkuliahan yang mulai sepi sore itu, ia bersandar pada dinding semen yang dingin. Halaman portal pengumuman final Beasiswa periode ini yang sudah ia perjuangkan berbulan-bulan akhirnya terbuka sempurna.
Ia menggulir layar dengan jemari yang luar biasa gemetar. Sebuah kalimat di bagian bawah portal langsung menyergap pandangannya, bertuliskan “Kami mengapresiasi perjuangan Anda hingga ke Tahap Wawancara Akhir. Mohon maaf, Anda belum berhasil menjadi bagian dari penerima beasiswa tahun ini.”
Tubuhnya mendadak kaku. Ini sudah ketiga kalinya ia gagal di tahap final berbagai seleksi beasiswa yang pernah ia coba. Di semester empat ini, ia mati-matian begadang menyusun esai dan mengorbankan waktu tidur demi melengkapi dokumen pendukung, hanya untuk didepak kembali ke tanah tepat di garis kekalahan. Penolakan ini bukan sekadar ketidakberuntungan biasa, itu adalah kepastian bahwa bulan depan ia harus memutar otak sendirian mencari cara membayar UKT dan biaya hidup yang makin mencekik di perantauan, tanpa boleh mengeluh atau meminta sepeser pun ke rumah.
“Kirana! Akhirnya ketemu juga. Lo dari mana aja?”
Suara langkah kaki yang terburu-buru mendekat. Itu Rian, teman satu kelompoknya untuk proyek riset mini mata kuliah metodologi penelitian, diikuti dua anggota kelompok lainnya, Sarah dan Dito.
“Kita udah nungguin lo dari tadi di laboratorium, Kir,” Dito menimpali, nadanya terdengar agak jengkel sambil menaruh tumpukan hasil kuesioner di pembatas koridor. “Bab analisis data sama pembahasan kan ada di lo. Malam ini drafnya harus lo kirim ke grup. Deadline-nya nanti malam, Kir. Lo gak lupa kan kalau tugas ini gak selesai, kita gak bisa ikut UAS?”
Kirana tersentak. Kepalanya yang mendadak pening dipaksa berputar cepat. “Eh … itu, tinggal dikit lagi, Dit. Tinggal masukin bagian interpretasi tabel statistiknya aja.”
Sarah menghela napas panjang, melipat kedua tangannya di dada. “Kir, tolonglah jangan lambat lagi responnya kayak kemarin. Kita ini juga tahu lo lagi sibuk ngurus berkas beasiswa itu, tapi tugas kelompok ini bobot nilainya besar banget. Kalau lo lupa, bobot penilaian matkul ini besar banget. Kalo terlambat, kita bisa-bisa gak lulus mata kuliah ini.”
“Iya, Kir,” sahut Rian dengan nada yang lebih tenang, tetapi tetap menuntut profesionalitas. “Kita paham lo lagi banyak pikiran. Tapi kita semua di sini juga punya beban masing-masing. Tolong bantuannya ya, jangan sampai nilai kita hancur bareng-bareng.”
Kalimat mereka menghantam telinga Kirana seperti tamparan tak kasat mata. Kirana memaksakan sebuah senyum tipis, sebuah topeng hambar yang biasa ia gunakan untuk menyembunyikan luka agar tidak dianggap lemah atau tidak bertanggung jawab. “Maaf ya semuanya, dua jam lagi aku kirim file lengkapnya ke grup kita. Aku duluan ya.”
Ia menyandang ransel hitamnya yang terasa berkali-kali lipat lebih berat sore itu, berpamitan dengan langkah cepat. Kirana berjalan menunduk membelah jalanan kota yang mulai diguyur gerimis tipis, menuju satu-satunya tempat persembunyiannya.
***
Kamar kos berukuran tiga kali tiga meter itu menyambutnya dengan kesunyian yang mencekam. Kirana melemparkan tasnya ke sudut lantai semen, lalu duduk di depan laptopnya. Ia memaksa matanya yang perih untuk menatap angka-angka dan diagram hasil penelitian kelompoknya. Jemarinya mengetik dengan ritme cepat, berkejaran dengan air mata yang mulai menggenang. Tepat dua jam kemudian, ia menekan tombol send di grup kelompoknya. Tugasnya selesai dengan rapi dan tepat waktu.
Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. Gawai di samping laptopnya bergetar hebat. Layar menyala berkedip-kedip, menampilkan nama panggilan yang paling ia takuti sekaligus ia rindukan, ibu, memanggil dari balik ponselnya.
Jantung Kirana berdegup gila. Ia menarik napas sedalam yang ia bisa, menahan isak tangisnya di dalam dada, dan memijat lehernya yang kaku agar suaranya terdengar riang. Ia menggeser tombol hijau.
“Halo, Bu? Kira baru pulang kampus ini,” sapa Kirana. Suaranya bertransformasi total, terdengar begitu renyah dan penuh energi.
Di seberang telepon, suasana terdengar bising oleh suara desis minyak panas dari kuali warung gorengan kelontong kecil di teras rumah mereka, satu-satunya sumber penghasilan sejak bapaknya sakit-sakitan.
“Oh, baru pulang ya, Kak? Sudah makan? Kok suaranya agak serak? lagi sakit?” tanya ibu, nadanya penuh selidik.
“Enggak ada, Bu. Cuma haus aja tadi habis jalan kaki ke kos,” bohong Kirana. Lidahnya kelu, tetapi kalimat dusta itu meluncur dengan sangat rapi demi ketenangan orang rumah.
Dari seberang sana terdengar ibu menghembuskan napasnya lega. “Bagaimana keadaan di sana?”
“Uang bulanan? Masih aman kok, Bu. Di sini semuanya lancar. Ibu sama Bapak jangan pikirkan biaya di sini ya.”
“Syukurlah kalau begitu, Kak. Bapakmu semalam bilang, untung anak pertama kita ini pintar dan mandiri di sana, selalu bisa cari jalan buat bantu orang tua. Bapak sama Ibu tenang kali di rumah, enggak pernah khawatir. Biar nanti kalau kamu cepat lulus, bisa langsung bantu tengok adikmu yang mau masuk SMA ya, Kak? Jaga kesehatanmu di sana ya, Kak.”
Kalimat ibu yang tulus itu mendarat di dada Kirana seumpama hantaman palu besar pada kaca yang sudah retak. Air matanya kini luruh tanpa suara. Tangan kirinya meremas seprai kuat-kuat hingga kukunya memutih.
Menjadi anak sulung sering kali berarti merawat kebohongan demi melindungi senyum orang-orang yang dicintai. Kebohongan itu lahir dari rasa kasih sayang yang mendalam, juga sekaligus menjadi belati paling tajam yang ia tancapkan ke dadanya sendiri. Ia memilih memikul racun kebohongan itu sendirian, asal orang tuanya di kampung bisa tidur dengan tenang tanpa beban tambahan.
“Iya, Bu. Pasti. Kuliah Kirana lancar semua kok di sini. Kakak tutup dulu ya, mau lanjut ngerjain tugas.”
“Ya sudah, Asalamualaikum.”
“Waalaikumsalam, Bu.”
Sambungan terputus. Detik itu juga, pertahanan Kirana runtuh total. Ia menarik kedua lututnya ke dada dan menangis sesenggukan tanpa suara di sudut kamar yang gelap. Gagal di beasiswa, ditekan oleh tuntutan kelompok, dan harus memikul ekspektasi raksasa dari rumah. Rasa putus asa itu mencekik pelan-pelan.
Namun, menangis malam ini bukanlah tanda bahwa ia kalah atau menyerah pada keadaan. Menangis adalah cara paling jujur bagi jiwa yang telanjur lelah untuk beristirahat sejenak dari topeng kesempurnaan.
Adakalanya kita perlu mengizinkan diri sendiri untuk hancur sejenak, bukan untuk menyerah, melainkan untuk mengumpulkan kembali puing-puing kekuatan yang terserak. Kejujuran pada diri sendiri bahwa kita sedang tidak baik-baik saja adalah langkah awal untuk benar-benar bangkit.
Malam yang panjang dan basah itu akhirnya habis, menyisakan hawa dingin yang menusuk pori-pori. Ketika cahaya fajar yang abu-abu mulai merayap masuk melalui celah ventilasi kamar kos, Kirana membuka kelopak matanya yang terasa membengkak dan berat. Kesedihan semalam tidak mengubah apa pun, saldo rekeningnya tetap menipis, dan tagihan kos untuk bulan depan tidak akan lunas hanya dengan air mata.
Ia bangkit dengan tubuh yang remuk, melangkah ke kamar mandi, dan mengguyur kepalanya dengan air sedingin es. Saat menatap cermin kecil yang retak di dekat pintu, ia melihat bayangan seorang gadis berusia sembilan belas tahun dengan mata sembap yang berantakan, tetapi ada sesuatu yang mengeras di rahangnya. Kilatan kepasrahan semalam telah mengkristal menjadi sebuah keteguhan.
***
Pukul delapan pagi, Kirana sudah berdiri di koridor kampus yang mulai ramai oleh hilir mudik mahasiswa yang bersiap menghadapi minggu tenang menjelang UAS. Langkahnya datar, tetapi kepalanya tidak lagi menunduk seperti kemarin sore.
Di dekat meja birokrasi jurusan, ia berpapasan dengan Rian, Sarah, dan Dito. Suasana canggung sempat menggantung sejenak di antara mereka. Sarah menatap mata sembap Kirana dengan dahi berkerut, seolah menyadari ada badai besar yang baru saja menggilas teman sekelompoknya itu semalam.
“Kir … soal yang kemarin sore, maaf ya kalau omongan kita agak kasar,” Rian membuka suara, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Kita cuma panik aja karena dosennya agak killer.”
Kirana menarik sudut bibirnya, kali ini sebuah senyum yang jauh lebih tulus dan lepas. “Gak apa-apa, Rian. Kalian benar, tugas kelompok tetap tanggung jawab bersama. File yang kukirim semalam udah aman, kan?”
“Aman banget, Kir! Malah interpretasi data yang lo buat di puji sapa Pak Wiryo!” Dito menimpali dengan cengiran lega, mencoba mencairkan ketegangan.
“Syukurlah kalau begitu,” jawab Kirana pendek.
Setelah berpamitan dengan teman-temannya, Kirana tidak melangkah menuju perpustakaan seperti biasanya. Ia memilih berbalik arah, berjalan menuju papan pengumuman besar di dekat mading pusat fakultas. Di sana tertera selembar kertas pengumuman yang sudah agak usang: Lowongan Pengajar Paruh Waktu – Laboratorium Komputer Jurusan & Administrasi Perpustakaan Pusat.
Jemari Kirana bergerak menyentuh permukaan kertas tersebut. Menjadi anak sulung telah mengajarkannya satu hal yang sangat mahal, berharap pada uluran tangan orang lain, sering kali berakhir dengan kekecewaan yang melumpuhkan. Namun, mengandalkan kekuatan kaki sendiri, sekecil apa pun langkahnya, tidak akan pernah mengkhianati usaha.
Ia mengeluarkan gawai dari saku celananya. Kali ini, ia tidak membuka portal pengumuman yang menyakitkan itu lagi. Ia mengarahkan kamera ponselnya, memotret nomor kontak penanggung jawab lowongan kerja paruh waktu tersebut, dan langsung mengetikkan sebuah pesan permohonan kerja dengan kalimat yang lugas dan tegas.
Pesan terkirim. Kirana memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku kemeja.
Sesungguhnya dari takdirnya sebagai anak pertama bukanlah tentang bagaimana cara menahan beban tanpa pernah mengeluh, melainkan tentang kesadaran bahwa pundaknya diciptakan bukan untuk patah, melainkan untuk tumbuh menjadi lebih lebar dan kokoh setiap kali badai menghantamnya. Kebohongan yang ia katakan pada ibunya semalam bukan lagi seumpama racun, melainkan janji suci yang harus ia tebus dengan kerja kerasnya sendiri di tanah perantauan ini.
Kirana membetulkan posisi tali ransel hitamnya yang bertengger di bahu kanan. Ia membalikkan badan, melangkah dengan tegap membelah kerumunan mahasiswa di koridor lantai dua, menuju kelas pertamanya hari itu. Langkah kakinya tidak lagi berisik oleh keraguan atau ketakutan. Kirana tahu jalan di depannya masih berliku dan penuh kerikil tajam, tetapi hari ini, di bawah langit Medan yang mulai cerah, ia berjalan dengan satu keyakinan penuh. Si Sulung telah selesai menangis, dan kini saatnya ia mengambil alih kendali hidupnya sendiri. Perjuangannya tidak lagi digantungkan pada sebuah pengumuman, melainkan pada setiap ayunan langkah kakinya yang menolak untuk menyerah.
Redaktur: Rifatul Suaidah
Leave a comment