Home Tulisan Saat Standar Kecantikan Membuat Perempuan Lupa pada Dirinya Sendiri
Tulisan

Saat Standar Kecantikan Membuat Perempuan Lupa pada Dirinya Sendiri

Share

Oleh: Jelita Br Sagala (240902092)

“Harus putih.”
“Harus mulus.”
“Harus langsing.”
“Harus punya wajah yang sesuai standar.”

Kalimat seperti itu mungkin terdengar biasa. Namun, jika terus didengar dan dilihat, standar tersebut perlahan dapat membuat seseorang bertanya kepada dirinya sendiri, “Apa aku sudah cukup cantik?”

Di era media sosial, pertanyaan seperti itu semakin mudah muncul. Setiap hari kita melihat berbagai konten tentang kecantikan, mulai dari makeup, skincare, fashion, bentuk tubuh, hingga tren penampilan yang terus berganti. Tidak ada yang salah dengan merawat diri atau mengikuti tren. Masalahnya muncul ketika merawat diri bukan lagi menjadi pilihan, melainkan terasa seperti kewajiban agar bisa dianggap cantik dan diterima.

Padahal, siapa yang sebenarnya menentukan seperti apa perempuan yang disebut cantik?

Standar kecantikan bukan sesuatu yang benar-benar tetap. Ia berubah mengikuti zaman, budaya, industri, dan lingkungan sosial. Di Indonesia sendiri, gambaran tentang kecantikan juga mulai mengalami perubahan. Survei ZAP Beauty Index 2024 terhadap 9.000 perempuan Indonesia menunjukkan hanya 1,1 persen responden yang menganggap kulit putih sebagai definisi cantik, angka yang jauh menurun dibandingkan 13,6 persen pada 2021. Survei tersebut juga menunjukkan bahwa 98,5 persen perempuan yang menjadi responden merasa semakin percaya diri dengan kondisi kulitnya.

Perubahan tersebut tentu menjadi hal yang menarik. Artinya, pemaknaan terhadap kecantikan mulai menjadi lebih beragam. Namun, bukan berarti persoalan standar kecantikan sudah selesai.

Perempuan masih sering dinilai berdasarkan penampilan. Bentuk tubuh, warna kulit, wajah, rambut, bahkan cara berpakaian dapat menjadi bahan komentar dan penilaian. Di media sosial, keadaan ini dapat semakin kuat karena seseorang terus-menerus melihat gambaran orang lain yang dianggap lebih menarik. Padahal, apa yang terlihat di layar tidak selalu menggambarkan kehidupan yang sebenarnya. Foto dapat dipengaruhi pencahayaan, sudut pengambilan gambar, filter, dan berbagai proses penyuntingan. Ketika gambaran tersebut terus dibandingkan dengan diri sendiri, seseorang bisa merasa dirinya kurang.

Kementerian Kesehatan juga pernah membahas bagaimana citra tubuh yang dibentuk oleh lingkungan dan media dapat berkaitan dengan fenomena body shaming serta kepercayaan diri pada remaja. Karena itu, cara masyarakat membicarakan tubuh dan penampilan bukan persoalan sepele.

Persoalan ini kemudian menjadi bagian dari isu gender. Perempuan sering kali menghadapi tuntutan untuk tidak hanya berprestasi, tetapi juga terlihat menarik. Seorang perempuan dapat memiliki pendidikan tinggi, kemampuan yang baik, dan berbagai pencapaian, tetapi penampilannya masih menjadi hal yang mudah dikomentari. Seolah-olah perempuan harus mampu memenuhi dua tuntutan sekaligus, menjadi seseorang yang kompeten dan tetap terlihat sesuai standar kecantikan. Padahal, perempuan seharusnya memiliki ruang untuk menentukan bagaimana dirinya ingin tampil tanpa harus merasa bahwa nilai dirinya bergantung pada penampilan.

Di sinilah pemberdayaan perempuan menjadi penting. Pemberdayaan perempuan bukan berarti mengatakan bahwa perempuan tidak boleh memperhatikan penampilannya. Perempuan tetap memiliki kebebasan untuk menggunakan makeup, merawat kulit, memilih pakaian, atau melakukan hal-hal yang membuat dirinya nyaman. Yang penting, pilihan tersebut tidak muncul karena merasa dirinya tidak berharga tanpa memenuhi standar tertentu.

Perempuan yang berdaya adalah perempuan yang memiliki kesempatan untuk mengenali dirinya, mengembangkan kemampuan, mengambil keputusan, dan menentukan kehidupannya sendiri.

Hal ini juga berkaitan dengan kesejahteraan sosial. Kesejahteraan sosial bukan hanya persoalan terpenuhinya kebutuhan ekonomi, tetapi juga berkaitan dengan kesempatan seseorang untuk mengembangkan potensi, menjalankan fungsi sosial, mendapatkan akses terhadap berbagai sumber daya, dan hidup secara layak.

Ketika perempuan terus merasa harus memenuhi standar penampilan tertentu agar diterima, ruang untuk mengembangkan dirinya dapat menjadi lebih sempit. Sebaliknya, ketika perempuan memiliki kesempatan untuk belajar, bekerja, berkarya, bersosialisasi, dan mengambil keputusan tanpa terus dibatasi oleh penilaian terhadap penampilan, hal tersebut dapat mendukung kesejahteraannya.

Karena itu, menciptakan kesejahteraan bagi perempuan tidak cukup hanya dengan memberikan akses ekonomi atau pendidikan. Kita juga perlu membangun lingkungan sosial yang menghargai perempuan secara lebih utuh. Keluarga dapat menjadi tempat pertama untuk mengajarkan bahwa nilai seseorang tidak ditentukan oleh penampilannya. Sekolah dan kampus dapat menjadi ruang yang aman bagi setiap orang untuk berkembang. Media juga memiliki tanggung jawab untuk menghadirkan representasi perempuan yang lebih beragam, bukan hanya satu gambaran tentang tubuh dan kecantikan yang dianggap ideal.

Kita juga perlu menjadi lebih kritis sebagai pengguna media sosial. Tidak semua tren harus diikuti dan tidak semua standar harus dijadikan ukuran untuk menilai diri sendiri. Sebab, kecantikan seharusnya tidak menjadi perlombaan. Perempuan tidak harus memiliki wajah, tubuh, warna kulit, rambut, atau gaya yang sama untuk dianggap cantik. Keberagaman justru menunjukkan bahwa perempuan tidak bisa ditempatkan dalam satu standar yang sama.

Pada akhirnya, persoalannya bukan tentang apakah perempuan boleh ingin terlihat cantik. Tentu saja boleh. Persoalannya adalah ketika perempuan mulai merasa harus terlihat dengan cara tertentu agar merasa berharga.

Mungkin sudah waktunya kita mengubah pertanyaan dari, “Apakah aku sudah cukup cantik?” menjadi, “Apakah aku sudah memiliki ruang untuk menjadi diriku sendiri?”

Karena perempuan memiliki nilai yang jauh lebih luas daripada sekadar penampilan. Ada pendidikan yang diperjuangkan, pekerjaan yang dikerjakan, keluarga yang dirawat, karya yang dihasilkan, gagasan yang disampaikan, dan kontribusi yang diberikan kepada masyarakat. Ketika perempuan tidak lagi dibatasi oleh standar kecantikan yang sempit, mereka memiliki lebih banyak ruang untuk berkembang. Dan ketika perempuan memiliki ruang untuk berkembang, yang tumbuh bukan hanya rasa percaya dirinya, tetapi juga kesempatan untuk mencapai kehidupan yang lebih sejahtera. Perempuan tidak harus berhenti menjadi cantik. Kita hanya perlu berhenti menjadikan kecantikan sebagai ukuran utama nilai seorang perempuan.

Artikel ini merupakan publikasi UTS Mata Kuliah Gender dan Pemberdayaan Perempuan dengan Dosen Pengampu Dr. Hairani Siregar, S.Sos., M.SP. dan Dra. Berlianti, M.SP.

Redaktur: Emia Timentha Tarigan

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.