
Oleh: Lucy Kezia Simarmata
“Jurang” adalah metafora untuk sisi gelap kehidupan seseorang: trauma, tuntuan hidup, ketidakpercayaan diri, kehampaan, keterasingan. Mereka yang dilabeli “si ceria”, “badut tongkrongan”, “paling kuat”, atau bahkan seseorang yang kerap menggunakan topeng ketika berinteraksi dengan banyak orang sebenarnya punya jurangnya masing-masing. Dan mereka berdiri di sana, di tepi jurang, mempertahankan siklus bernama peradaban. Saat itu muncul pula kawanan manusia lain yang gagal menepati janji sebagai manusia seutuhnya. Manusia yang sering bicara seenaknya tanpa tahu bahwa satu kalimat saja bisa menjadi “dorongan terakhir” seseorang untuk terjun ke jurang itu.
Dan di sinilah ia berada. Tika, yang saat ini berada di tepi jembatan penyeberangan kota. Pikirannya kalut, hilang arah, merasa hampa. Fisiknya ada, tapi mentalnya tercabik habis, menggerotogi tubuhnya yang mungil, dan sepertinya sebentar lagi ia akan habis ditelan pikirannya sendiri.
***
Semua orang mengenal Tika sebagai pribadi yang ceria, aktif di organisasi, selalu ada saat dibutuhkan, rela menolong banyak orang, ramah, dan senyumnya yang membahagiakan dunia – setidaknya begitu yang terlihat.
“Pagi, semuanya!”
“Ceria banget, karena jam pertama matkul kecintaanmu pasti,” salah satu teman Tika menyeletuk.
Tika mengerutkan dahi, menggeleng kecil sembari tertawa mendengar gurauan temannya itu.
“Eh, Ka, bantuin aku kerjain ini dong, please,” Anjali menyodorkan buku besar kepada Tika, tepat di seberang tangannya yang saat ini terlipat.
“Boleh,” Tika menyambut buku itu, “bayar tapi, ya,” tawarnya sembari terkikik.
“GAS AJA DAH,” pungkas Anjali cepat sambil mengedipkan matanya jail.
“Tika, pipi lo kelihatan lebih tirus dari biasanya,” ujar Ardi, sahabat Tika yang memperhatikan dengan jelas wajahnya yang tampak berbeda.
“Masa sih? Bagus dong, jadi makin cantik, kan?” Tika mengangkat sebelah alisnya. Tak lama, tawanya menyusul.
Gurauan pahit semacam itu saja yang mampu Tika lontarkan. Sebab, nyatanya siapa sangka perasannya tak utuh? Ada banyak bagian dalam dirinya yang tidak terisi. Kehangatan, cinta, cita-cita, rasanya sangat jauh, seumpama ia tak akan mampu menjemput semuanya. Tidak ada yang tahu bahwa di dalam dirinya, ada jurang yang terus melebar. Jurang yang terbentuk dari tuntutan tak berujung, dari luka masa lalu yang terus diabaikan, dan dari rasa lelah yang tak pernah diberi tempat. Tak ada telinga yang menjadi tempat untuk mendengar keluh kesahnya. Mungkin, hanya langit malam dan bintang-bitang yang ada di seberang jendela kamarnya yang tahu Tika serapuh apa selama ini.
Sejak ayahnya meninggal dunia, Tika menggantikan ayahnya menjadi tulang punggung keluarga. Ibunya tidak penah benar-benar sembuh secara emosional, setiap hari tangisannya mememenuhi penjuru rumah. Sementara kakaknya, bukannya mampu membantu mencari pemasukan, justru sibuk menyalahkan keadaan. Setiap malam, ruang di kepala hanya terisi dengan kekhawatiran perihal uang, masa depan, dan dirinya sendiri. Tika, masih terperangkap dalam selimut kegelapan dan menunggu cahaya yang entah kapan akan datang demi megusir gelapnya.
***
Setelah semua hal dalam hidup Tika terasa runtuh dalam kubangan gelap yang menakutinya, ia memutuskan untuk bangkit. Ia mulai menulis di jurnal kecil, datang diam-diam ke konseling kampus, dan sesekali membuka percakapan jujur dengan sahabat lamanya. Langkah kecil, tapi itu cukup untuk menjauhkannya beberapa langkah dari tepi jurang.
Namun, langkah kecil yang tengah diusahakan kedatangan hari itu.
Hari itu, Tika keluar dari ruangan konseling di Fakultas Psikologi yang ada di kampusnya. Benar, ia sudah beberapa kali menjadi pasien tetap untuk para konselor di sini. Kebetulan pula, ia masih harus menghadiri rapat kepanitiaan yang akan dimulai lima belas menit lagi. Dengan motor butut yang selama ini menjadi saksi perjuangannya, ia menembus langit yang sudah mengabu dan siap menyumbangkan hujan sore ini.
Rapat organisasi sore itu lebih padat dari biasanya. Tika datang agak terlambat karena baru keluar dari sesi konseling. Rambutnya masih sedikit basah karena hujan, wajahnya pucat.
“Aduh Tika, drama lagi nih kayaknya,” cemooh yang dilontarkan Fara, salah seorang teman organisasinya menyambut kedatangan Tika dari seberang meja. Suaranya keras, cukup untuk didengar semua orang.
Tika hanya menatapnya, bingung.
Fara melanjutkan sambil tertawa kecil, “Telat mulu. Capek banget liat hidup kamu, bawaannya mellow. Hidup tuh dijalanin, bukan dipikirin doang, ngerti nggak? Kamu tuh bukan satu-satunya orang di dunia yang punya masalah, Ka.”
Beberapa orang dengan watak serupa Fara di sana ikut tertawa, yang lainnya memilih diam dan menatap kaku. Canggung. Tika hanya mengangguk dan tersenyum kecil, melangkah berlalu di hadapan Fara.
Tapi di dalam, ia remuk. Bukan karena kalimat itu berdampak, tapi karena itu mengingatkan dia bahwa tak semua orang ingin mengerti. Kadang, luka dianggap lelucon. Kadang, penderitaan orang lain dijadikan bahan sindiran, karena kita terlalu malas untuk berhati-hati. Tika tak menganggap bahwa bebannya adalah yang paling berat, tapi inikah balasan diamnya selama ini? Inikah yang ia dapat setelah berusaha terlihat luar biasa kuat dan tegar selama ini? Kalau iya, berapa harga yang harus ia bayar untuk hasil semengecewakan ini?
***
Malamnya, ia kembali berdiri di jembatan itu. Hatinya berat, kepalanya berat, tapi tubuhnya terasa lebih ringan untuk melakukan ini.
Hujan turun ringan. Jaketnya mulai basah, tapi ia tidak peduli. Ia memejamkan mata, mendengar lagi potongan-potongan suara: teriakan ibunya, cibiran prasangka orang-orang di sekitar, juga tawa Fara. Semuanya berputar dalam kepalanya seperti gema yang menyakitkan.
Tangannya menggenggam pagar lebih erat.
“Aku capek,” desirnya pada dirinya sendiri.
“Aku cuma pengin berhenti sebentar,” lirih Tika dalam hati.
drrrtt
Ponsel Tika bergetar.
Ia mengabaikannya.
drrrtt
Bergetar lagi.
Tika mulai terdistraksi, pikirannya yang seakan diperangkap seakan ditarik kembali ke masa kini. Matanya masih terus mengairi wajah, dengan enggan, ia meraih ponsel dan melihat layar. Sebuah pesan dari Ardi—teman lama yang dulu pernah ia temani saat sedang depresi. Bergetar tangan Tika menyentuh layar ponselnya, menerima panggilan tersebut.
“Ka… lo inget nggak dulu gue mau ngilang, dan lo bilang, ‘Gue nggak tahu rasanya, tapi gue mau nemenin’?” suara Ardi terdengar dari seberang.
“Hari ini entah kenapa aku ngerasa kamu butuh itu juga.”
Mata Tika mengerjap pelan, badannya berbalik membelakangi jembatan. Telinganya seakan ingin mendengar lanjutan kalimat sahabatnya itu.
“Kamu nggak sendiri, Ka. Aku ada di sini, begitu pula teman-teman yang tulus menyayangi kamu. Aku dan teman-teman yang mengerti dirimu tanpa harus kamu gembar-gembor jelasin tentang dirimu. Kita semua punya jurang, tapi percayalah kalo kamu nggak harus jatuh ke sana sendirian.”
Suara di seberang sana terhenti.
Tangis Tika pecah seketika. Bukan karena sedih, tapi karena akhirnya… ada seseorang yang tidak menghakimi. Tidak menyuruhnya kuat, tidak meremehkan, tidak menggurui. Hanya hadir, dan mau menemani.
Ia duduk di lantai jembatan, hujan masih turun, tapi kini terasa seperti pelukan kecil dari langit. Ia menangis sepuasnya—untuk semua yang ia tahan, untuk semua luka yang ia sembunyikan, untuk jurang yang hampir menelannya.
Semua orang punya jurang. Ada yang dalam, ada yang gelap, ada yang tak terlihat. Kita tak pernah tahu siapa yang sedang berdiri di bibir jurangnya sendiri.
Maka kalaupun kita tak bisa menarik mereka, setidaknya—jangan mendorong mereka jatuh.
Dan kadang, satu kalimat sederhana bisa jadi tali yang menyelamatkan nyawa seseorang.
Seperti malam itu.
Seperti Tika.
Yang memilih pulang, memeluk luka-lukanya untuk perlahan pulih dan berlabuh penerimaan.
Redaktur: Fatimah Roudatul Jannah
Leave a comment