Oleh: Nur Faizah Rania Naila Tamin, Muhammad Rizky Fitari, Jovanuel manullang, Rabiatul, Adawiyah Nasution, Wahyu Elia Dhelfia, Arinaa Manaasikanaa
Suara USU, Medan. Fenomena tawuran remaja masih menjadi persoalan sosial yang serius di tengah masyarakat. Hasil penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara mengungkap bahwa keterlibatan remaja dalam tawuran tidak hanya dipicu oleh konflik sesaat, tetapi juga dipengaruhi oleh faktor sosial, psikologis, dan lingkungan yang kompleks.
Penelitian yang dilaksanakan pada 18 April 2026 di kawasan Jalan Pembangunan menunjukkan bahwa tekanan dari kelompok pertemanan menjadi salah satu faktor dominan yang mendorong remaja terlibat dalam aksi kekerasan. Banyak remaja mengikuti tawuran bukan karena memiliki konflik pribadi, melainkan karena dorongan untuk menjaga solidaritas dan menghindari pengucilan dari kelompok.
Salah satu narasumber, warga setempat Andreas Ginting, mengungkapkan bahwa sebagian besar remaja hanya ikut-ikutan tanpa memahami akar persoalan.
“Banyak anak-anak itu sebenarnya tidak punya masalah langsung, tetapi ikut karena ajakan teman. Kalau tidak ikut, mereka takut dianggap tidak solid,” ujarnya saat diwawancarai.
Selain itu, fenomena *Fear of Missing Out* (FOMO) turut memperkuat kecenderungan tersebut. Remaja merasa perlu terlibat agar tetap diakui sebagai bagian dari kelompok sosialnya. Kondisi ini menunjukkan bahwa keputusan untuk ikut tawuran sering kali tidak didasarkan pada pertimbangan rasional, melainkan akibat tekanan sosial yang kuat.
Penelitian juga menemukan bahwa tawuran mulai mengalami pergeseran makna di kalangan remaja. Dalam beberapa kelompok, tindakan tersebut tidak lagi dipandang sebagai perilaku menyimpang, tetapi justru dianggap sebagai simbol keberanian dan sarana memperoleh pengakuan sosial.
“Sekarang malah ada yang merasa bangga kalau pernah ikut tawuran. Mereka merasa lebih dihargai di kelompoknya,” tambah Andreas.
Dari sisi lingkungan, lemahnya kontrol sosial juga menjadi faktor yang memperburuk kondisi. Minimnya pengawasan dari orang tua, terbatasnya keterlibatan masyarakat, serta kurangnya pemantauan di titik-titik rawan menjadi celah bagi terjadinya konflik antarkelompok remaja.
Seorang warga lain yang enggan disebutkan namanya menyampaikan kekhawatirannya terhadap situasi tersebut.
“Kalau malam sudah mulai kumpul-kumpul, kami jadi waswas. Takut tiba-tiba terjadi keributan. Lingkungan jadi tidak nyaman,” tuturnya.
Dampak tawuran tidak hanya dirasakan oleh pelaku, tetapi juga oleh masyarakat sekitar. Warga mengaku mengalami rasa tidak aman serta terganggunya ketertiban umum. Selain itu, lingkungan yang kerap menjadi lokasi tawuran berpotensi memperoleh stigma negatif yang dapat memengaruhi kehidupan sosial masyarakat.
Penelitian tersebut menekankan bahwa penanganan tawuran remaja memerlukan pendekatan yang komprehensif, tidak hanya melalui penegakan hukum, tetapi juga melalui upaya pencegahan, seperti edukasi, penguatan nilai moral, serta penyediaan kegiatan positif bagi remaja.
“Remaja sebenarnya butuh wadah. Kalau ada kegiatan positif, mereka bisa menyalurkan energi ke hal yang lebih baik, bukan ke tawuran,” ujar salah satu informan.
Dengan demikian, peran keluarga, sekolah, dan masyarakat menjadi sangat penting dalam menciptakan lingkungan yang kondusif bagi perkembangan remaja sekaligus mencegah berkembangnya perilaku kekerasan di kalangan generasi muda.
Artikel ini merupakan publikasi tugas mata kuliah Pendidikan Pancasila kelas 9 dari kelompok 6 dengan dosen pengampu Bapak Dr. Onan Marakali Siregar, S.Sos., M.Si.
Redaktur: Erni Yuli Simatupang
Leave a comment