Oleh: Anastasyia Sitinjak
Ayah, namamu adalah doa
yang memeluk setiap waktu.
Meski lelah menyelimuti ragamu,
engkau tetap ada untukku.
Di balik bajumu yang lusuh,
terselip perjuangan panjang penuh cinta.
Kau pendam lelah meski rapuh
demi keluarga tercinta.
Tangan yang terlihat kasar
menjadi bukti perjuanganmu yang nyata.
Engkau tuntun aku dengan sabar
agar tak hilang arah dan asa.
Ayah, engkau bukan sekadar pejuang keluarga,
tetapi juga perisai tempatku berteduh.
Saat dunia menuntutmu tanpa cela,
ada lelah yang kau dekap dengan teguh.
Ayah, maafkan aku
yang sering membuatmu terluka.
Atas ego yang belum mampu kukendalikan,
izinkan aku menghapus lukamu dengan doa.
Ayah, terima kasih atas segalanya.
Engkau cahaya dalam hidupku.
Tak ada kata yang mampu membalasnya,
selain doa yang selalu kupanjatkan untukmu.
Redaktur: Debora Gracia Nauli
Leave a comment