Home Opini Ketika Mahasiswa Sibuk Menyelesaikan, Bukan Menciptakan
Opini

Ketika Mahasiswa Sibuk Menyelesaikan, Bukan Menciptakan

Share

Oleh: Deswina Listiani Matondang

Suara USU, Medan. Pemandangan mahasiswa yang sibuk menyusun makalah, mengerjakan tugas, hingga mempersiapkan presentasi sudah menjadi hal yang lumrah di lingkungan perguruan tinggi. Dari luar, aktivitas tersebut terlihat produktif dan menunjukkan semangat akademik yang tinggi. Namun, di balik padatnya rutinitas tersebut, muncul pertanyaan yang lebih mendasar, apakah seluruh proses itu benar-benar mendorong mahasiswa untuk berpikir kritis dan inovatif, atau sekadar menyelesaikan kewajiban demi memperoleh nilai yang baik.

Fenomena ini menunjukkan adanya paradoks dalam dunia pendidikan tinggi. Mahasiswa tidak kekurangan aktivitas akademik, tetapi sering kali kekurangan ruang untuk membangun keberanian berpikir, mempertanyakan sesuatu secara mendalam, dan menciptakan gagasan baru. Fokus utama banyak mahasiswa pada akhirnya bukan lagi memahami ilmu atau menghasilkan ide, melainkan memastikan tugas selesai tepat waktu dan memperoleh nilai memuaskan.

Padahal, jiwa inovatif tidak selalu berkaitan dengan tingkat kecerdasan atau tingginya indeks prestasi kumulatif (IPK). Inovasi lahir dari keberanian mencoba hal baru, mempertanyakan sesuatu yang dianggap biasa, serta tidak takut melakukan kesalahan. Sayangnya, sistem pendidikan di Indonesia dinilai masih cenderung menempatkan mahasiswa pada pola belajar yang seragam dan terpaku pada format. Sejak di bangku sekolah hingga perguruan tinggi, peserta didik lebih sering diarahkan untuk mencari jawaban yang dianggap benar dibanding didorong untuk mengeksplorasi kemungkinan baru.

Dikutip dari Jurnal Baitul Hikmah, kondisi tersebut kemudian memengaruhi cara mahasiswa menyelesaikan tugas akademik. Proses belajar yang seharusnya menjadi ruang berpikir justru berubah menjadi aktivitas mencari jawaban instan. Mahasiswa cukup mencari referensi di internet, menyusun ulang beberapa kalimat, lalu menjadikannya tugas akhir. Bahkan, penggunaan kecerdasan buatan kini semakin mempercepat proses tersebut. Masalah utamanya bukan semata penggunaan teknologi, melainkan kecenderungan menerima informasi secara mentah tanpa mempertanyakan validitas maupun relevansinya.

Persoalan ini bukan berarti mahasiswa tidak mampu berpikir kritis dan inovatif. Sebagian besar mahasiswa sebenarnya memiliki potensi tersebut. Namun, sistem akademik dinilai belum benar-benar menuntut proses berpikir mendalam. Tugas sering kali dinilai berdasarkan kelengkapan struktur dan kesesuaian format, bukan kualitas gagasan yang dibangun. Presentasi pun lebih banyak dinilai dari tampilan slide dan kelancaran berbicara dibanding orisinalitas ide yang disampaikan.

Dalam situasi seperti ini, kreativitas akhirnya tidak menjadi prioritas utama. Mahasiswa cenderung memilih cara paling aman agar tugas selesai dengan cepat dan nilai tetap terjaga. Kondisi tersebut semakin diperkuat oleh budaya akademik yang masih menempatkan IPK sebagai ukuran utama keberhasilan mahasiswa.

Dikutip dari tulisan Kompasiana berjudul “Mudahnya Copy-Paste, Sulitnya Berkarya”, obsesi terhadap IPK secara perlahan ikut memengaruhi cara mahasiswa memandang pendidikan. Banyak mahasiswa berlomba memperoleh nilai tinggi karena IPK dianggap menjadi syarat penting untuk mendapatkan pekerjaan, beasiswa, maupun peluang lainnya. Akibatnya, proses memahami ilmu secara mendalam sering kali menjadi nomor dua.

Selain itu, beban akademik yang tinggi juga menjadi faktor yang tidak dapat diabaikan. Mahasiswa kerap dihadapkan pada banyak tugas dalam waktu bersamaan, mulai dari makalah, kuis, hingga presentasi untuk berbagai mata kuliah. Dalam kondisi seperti itu, menyelesaikan tugas secepat mungkin sering kali menjadi pilihan realistis. Situasi ini menunjukkan bahwa persoalannya bukan semata kemalasan mahasiswa, melainkan sistem akademik yang belum sepenuhnya memberikan ruang refleksi dan eksplorasi.

Padahal, pemerintah sebenarnya telah menyediakan wadah yang mendukung pengembangan kreativitas mahasiswa, salah satunya melalui Program Kreativitas Mahasiswa atau PKM. Program tersebut dirancang agar mahasiswa mampu mengembangkan ide inovatif dan menghasilkan karya nyata. Namun, kenyataannya tidak semua mahasiswa melihat PKM sebagai ruang pengembangan diri. Sebagian masih menganggapnya sebagai kegiatan tambahan yang menyita waktu dan tenaga.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan inovasi mahasiswa bukan hanya terkait fasilitas, tetapi juga budaya akademik yang terbentuk di lingkungan perguruan tinggi. Kampus, dosen, dan kurikulum memiliki peran besar dalam membangun atau justru menghambat tumbuhnya pola pikir inovatif. Perguruan tinggi sering kali lebih fokus pada capaian administratif dan jumlah lulusan berpredikat cum laude dibanding menciptakan lingkungan belajar yang benar-benar mendorong eksplorasi gagasan.

Padahal, inovasi tidak lahir dari ruang kelas yang kaku. Inovasi tumbuh dari rasa ingin tahu, keberanian berdiskusi, dan kebebasan untuk mencoba sekaligus melakukan kesalahan. Karena itu, sudah saatnya cara pandang terhadap mahasiswa berprestasi mulai diubah. Mahasiswa yang baik seharusnya tidak hanya dinilai dari kerapian tugas atau tingginya IPK, tetapi juga dari keberanian mereka mempertanyakan sesuatu, mencoba hal baru, dan menciptakan gagasan yang bermakna.

Sebab, pada akhirnya, bangsa ini tidak hanya membutuhkan lulusan yang mampu mengikuti sistem, tetapi juga generasi yang berani menciptakan perubahan di dalamnya.

Redaktur: Debora Gracia Nauli

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.