
Oleh: Suci Rahmawati Siregar
Tidakkah kau berkaca, manusia?
Seolah rasa syukur telah lama larut,
tenggelam di dasar jiwa…
Apakah masih tersisa nurani hidup di kedalamannya?
Bumi yang senantiasa menoreh ribuan langkahmu,
menjerit, terpekik di setiap jejakmu yang acapkali terburu-buru
Keliru… tingkah polahmu itu keliru!
Tidak barang sedetikpun kau sadari betapa keji perbuatanmu
Sungguh…
Air yang menyapu luas hamparan pemukiman dan jalanan tanpa ampun,
api yang berkobar melahap habis pepohonan,
tanah longsor yang lahap menelan sisa kehidupan
Sungguh nyata kerakusan menggerayangi kelestarian
Bumi yang tidak lebih luas dari keserakahanmu ini
Dialiri sungai-sungai yang beberapa sisinya keruh itu
Duhai, seberapa parah jejak hatimu tercemar?
Coba dengarkan dengan segenap panca indramu
Tangis air yang tak lagi jernih
Jeritan daun lenyap terbakar, meluap dalam abu
Tak terhitung sudah korban atas kerusakan ini
Ingin kau mengelak, menepis jejak perbuatanmu?
Yakin engkau menutup mata dan telinga?
Membiarkan kaki tanganmu bebas menabur luka,
sementara bumi merintih dalam derita
Tidakkah ego, tamak, dan keangkuhanmu retak perlahan?
Tidakkah luruh keduniawian dari tangan yang merusak?
Luka-luka itu tetap bersuara
Suara yang memantulkan wajahmu di permukaan bumi yang perih
Redaktur: Fatimah Roudatul Jannah
Leave a comment