
Oleh: Syafira Sari
Dalam kelam yang memeluk bumi dengan lengan beku dan sunyi
Aku terdiam, menatap langit yang menyimpan rahasia tak berbatas
Di balik bayang-bayang bintang yang jauh dari jangkauan tangan ini,
tersimpan tanya yang tak kunjung reda, tentang waktu yang terlampau lekas
Malam mencengkeram tanpa luka, tapi menusuk dasar dada
Menyibak lembar demi lembar kenangan yang tak sempat terucap
Aku bercakap dengan bisu, menyusuri riwayat yang terbata-bata
Mencari celah terang di antara retak-retak harap yang telah lelap
Adakah dosa yang masih berdiam di sudut-sudut langkahku yang rapuh?
Atau janji-janji yang kubiarkan gugur sebelum sempat tumbuh?
Aku berkaca di beningnya gelap, di tempat jujur tak dapat disembunyikan
Segala yang kusimpan muncul kembali, menyusun luka, menabur rindu
Langit malam menjadi saksi dialogku dengan masa depan yang bisu
Kupintal khayal dan ketakutan menjadi doa yang tak pernah bulat
Akankah esok mengampuni masa lalu yang penuh ragu dan sendu?
Ataukah waktu mengajarkan bahwa luka harus dilalui tanpa syarat?
Namun dari gelap, lahir cahaya yang menyala di ujung lamunan,
bahwa segala resah bukan kutuk, tapi titah untuk lebih memahami
Bahwa malam bukan sekadar penutup hari, tapi ruang perenungan,
tempat jiwa mendengar dirinya sendiri tanpa perlu disangkal lagi
Dan dalam cengkeraman malam yang hening nan mengguncang…
Aku bukan lagi sekadar bayang yang terombang-ambing arah
Aku adalah tanya, juga jawaban, sekaligus luka yang terus berkembang
Namun juga harapan yang meski rapuh, tak pernah benar-benar punah
Redaktur: Fatimah Roudatul Jannah
Leave a comment