Home Entertaiment Keliling Dunia sambil Mencuri Inspirasi dalam film Where to Invade Next
EntertaimentFilm

Keliling Dunia sambil Mencuri Inspirasi dalam film Where to Invade Next

Share

 

Sumber: IMDb

Oleh: Nadira Arfan

Suara USU, Medan. Kata “invasi” seringkali diasosiasikan dengan tentara dan senjata. Jadi apa hal yang pertama kali muncul di kepalamu tentang sebuah film berjudul ‘­Where To Invade Next’ Ternyata, para pembuat film ini sengaja memilih judul tersebut untuk mengelabui para penontonnya. Dalam film ini, “invasi” yang dimaksud adalah mengambil ide-ide positif dari negara yang didatangi dan mengadopsinya untuk membangun tatanan negara yang lebih baik.

Michael Moore merupakan seorang penulis buku serta sutradara asal Amerika Serikat. Film-film yang disutradarai oleh Moore umumnya bertemakan dokumenter politik yang mengkritik pemerintahan Amerika dengan pendekatan yang satir dan investigatif. Salah satu film Moore yang dikenal yaitu Where to Invade Next yang dirilis pada tahun 2015.

Film ini telah berhasil meraih penghargaan dari Chicago Film Critics Association Awards pada nominasi Best Documentary dan Chicago International Film Festival pada nominasi Audience Choice Award for Best Documentary Feature. Selain itu, film yang berdurasi 120 menit ini juga mendapat respon positif dari berbagai kritikus film dan audiens.

Dalam film Where to Invade Next ini dijelaskan bahwa daripada menginvasi negara-negara kecil di seluruh dunia dan menimbulkan kerusakan, mengapa tidak mengadopsi gagasan dan ide yang positif dari negara-negara tersebut. Dengan topi baseball khasnya, sang pembuat film membawa kita mengelilingi negara-negara di Eropa dan Afrika Utara. Dimana ia bertemu dengan para penduduk lokal yang menyambutnya dengan baik.

Pada setiap negara yang dikunjunginya, ia dikejutkan oleh perbedaan kebijakan yang cukup signifikan dengan negara asalnya yaitu Amerika. Memulai perjalanannya di Italia, dimana para pekerja di sana memiliki cuti kerja yang lebih panjang, bahkan selama mengambil cuti mereka tetap dibayar. Hal ini jauh berbeda dengan budaya Amerika dimana para pekerja memiliki libur yang lebih sedikit yang mengakibatkan rendahnya keseimbangan antara kehidupan kerja dan kehidupan pribadi.

Melanjutkan perjalanannya dari Italia, Monroe juga mengunjungi Perancis, Finlandia, Slovenia, Jerman, Portugal, Norwegia, Tunisia, hingga Islandia. Dari masing-masing negara ini, kita dapat mengadopsi kebijakan-kebijakan positif yang dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Film ini menonjolkan ide-ide bagus yang diterapkan oleh pemerintah negara tersebut yang dinilai bagus.

Dialog yang disajikan dalam film dokumenter ini terbilang ringan, sebab narasumber yang diwawancarai oleh sang pembuat film merupakan orang-orang biasa. Tanpa bahasa akademis yang rumit, penonton dapat lebih menikmati dan mengambil kesimpulan dari percakapan yang terjalin dalam film. Selain itu, cara Moore menanggapi orang-orang yang bertukar dialog dengannya juga menunjukkan sikap yang santai.

Dalam dokumenter ini Moore juga mengkritik kebijakan di Amerika Serikat, melalui narasi film ia seolah berkata bahwa masalah-masalah yang banyak dihadapi di Amerika sudah memiliki solusi yang jelas. Pemerintah dapat mempelajari bagaimana negara-negara yang ditunjukkan dalam film mengatasi masalah sosial mereka dan mengadopsinya untuk menyelesaikan masalah yang serupa.

Walaupun dokumenter ini cenderung menaruh fokus pada pemerintah Amerika, namun para penonton film yang berasal dari negara lain juga ikut bertanya dan merenungkan kebijakan yang ditetapkan pemerintah. Film ini tidak memberikan jawaban pasti yang menggurui, namun mengajak para penontonnya berpikir kritis dan untuk tidak terbiasa pada sistem yang masih harus diperbaiki.

Melalui film Where to Invade Next kita dapat menarik kesimpulan bahwa kita harus bersikap terbuka dan memelihara keinginan untuk belajar, karena kita dapat menemukan solusi dimanapun. Jika kamu sedang mencari film dokumenter yang mengajakmu berpikir namun juga lucu dan menyentuh, maka film ini dapat menjadi pilihan yang tepat.

Redaktur: Zahra Zaina Rusty

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.