Home Cerpen Kemakmuran yang Tertambang
CerpenSastra

Kemakmuran yang Tertambang

Share
Ilustrator: Priyanka Az Zahra

Oleh: Annisya Putri A

Raja Ampat adalah rumah bagi laut biru, gugusan pulau yang lahir dari cinta Tuhan pada negeri ini. Di sini, angin berbisik lembut pada pohon-pohon dan karang bersenandung untuk ikan-ikan yang menari. Di sini, kami hidup bersahabat dengan alam. Hanya tangan kasar manusia rakus yang bisa tega mengusiknya.

Namun, pemerintah kami yang semestinya menjadi pelindung, menjadi ayah bagi tanah ini, datang membawa wajah tersenyum, menyembunyikan mata serakah di balik kacamata gelap dan jas kebesaran. Mereka datang bukan untuk melindungi, tetapi untuk menjual.

“Masa depan Raja Ampat ada pada nikel,” kata mereka dengan suara manis yang menipu. “Kalian akan makmur, anak-anak akan sekolah tinggi, rumah kalian akan beratap seng mengkilap.”

Padahal kami tak pernah mengeluh miskin. Kami cukup dengan hasil laut, cukup dengan udara yang bersih dan tanah yang subur. Tapi mereka, bersama antek-antek modal yang mengintai dari balik meja, memutuskan untuk menukar surga ini dengan tambang nikel.

Pada suatu sore, aku mendengar suara Pak Leman, nelayan tua, menggerutu pada petugas yang menyodorkan kertas persetujuan.

“Kami ini nelayan, Pak. Kami butuh laut, bukan lubang-lubang tambang. Apa kalian tak kasihan pada tanah ini?”

Petugas itu hanya tersenyum tipis, menepuk bahu Pak Leman seolah menghibur, padahal penuh penghinaan.

“Bapak ini kuno sekali. Nikel itu emas masa depan. Dunia butuh nikel, bukan ikan.”

Aku hanya bisa menggenggam pasir pantai yang mulai hitam oleh lumpur tambang, menahan marah yang tak bisa diucap.

Laut kami dijadikan jalan keluar-masuk kapal besar. Bukit kami dirobek jadi lubang raksasa. Tanah kami, yang dulu kami pijak dengan bangga, kini hanya tinggal tanah merah berlumpur, licin, penuh sisa tambang.

Mereka berkata pembangunan, padahal yang kami lihat adalah perampokan. Mereka berkata kemakmuran, padahal yang kami rasakan adalah pengusiran perlahan dari rumah sendiri. Ketika kami bersuara, ketika kami mengadu bahwa laut kami kini bau solar, bahwa ikan-ikan mati mengapung, mereka menganggap kami musuh pembangunan. Raja Ampat kini hanya cerita di brosur pariwisata, sisanya adalah tanah luka yang dibungkus janji-janji kosong.

Aku menulis ini bukan untuk berharap pada pemerintah. Harapan itu sudah lama mereka tambang bersama nikel. Aku menulis ini agar tanah ini suatu hari kelak bersuara lewat luka-lukanya, agar mereka tahu, bahwa kemakmuran yang mereka janjikan itu, ternyata cuma untuk kantong sendiri.

Beberapa hari lalu, di bawah langit mendung yang seolah turut berduka, aku duduk bersama Banu, pemuda yang dulu sempat kuliah di kota dan pulang dengan mata yang terbuka.

“Kau tahu,” katanya sambil menatap hamparan laut yang kini bergaris abu. “Mereka sebut ini kawasan strategis nasional. Artinya, semua bisa dikorbankan.”

“Termasuk kita?” tanyaku.

“Terutama kita,” jawabnya, pahit.

Kami tak tahu harus ke mana lagi mengadu. LSM datang dan pergi seperti angin, media hanya hadir saat ada demo besar, lalu lupa. Pejabat-pejabat lokal lebih memilih diam, mungkin karena janji proyek atau takut kehilangan jabatan.

Kami, anak-anak pulau, hanya bisa menyaksikan bagaimana kemakmuran didefinisikan oleh mereka yang tak pernah tinggal di sini. Mereka yang tak pernah mandi di sungai ini, tak pernah mencium bau laut, tak pernah tahu suara burung pagi. Mereka hanya tahu angka, grafik, dan potensi ekspor. Mereka tidak tahu arti rumah, arti tanah, arti laut yang direnggut.

Maka jika suatu saat kalian datang ke Raja Ampat dan melihat pemandangan yang tak lagi perawan, air laut yang mulai keruh, karang yang retak, dan wajah-wajah kami yang sunyi, ingatlah, ini bukan karena kami malas membangun, tapi karena kami telah dibangun atas nama kemajuan yang bukan untuk kami.

Dan jika kalian melihat burung cendrawasih hanya di logo-logo lembaga, bukan lagi di pepohonan, tanyakanlah pada mereka, kemakmuran macam apa yang menambang surga menjadi neraka?

Redaktur: Fatimah Raudatul Jannah

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.