Oleh: Theresa Melyasari
Di balik sejumlah merek kosmetik yang menghiasi meja rias jutaan perempuan Indonesia, terdapat sosok penting bernama Nurhayati Subakat. Ia merupakan perempuan kelahiran Padang Panjang, Sumatera Barat, yang dikenal sebagai pendiri sekaligus Komisaris Utama PT Paragon Technology and Innovation. Perusahaan kosmetik nasional tersebut kini menjadi salah satu yang terbesar di Indonesia dengan menguasai sekitar 30 persen pangsa pasar kosmetik nasional serta menaungi 14 merek ternama, termasuk Wardah, Make Over, Emina, dan Kahf.
Perjalanan Nurhayati tidak terlepas dari latar pendidikan yang kuat. Ia menempuh pendidikan menengah di Pondok Pesantren Diniyyah Puteri, Padang Panjang, sebelum melanjutkan jenjang pendidikan di SMA Negeri 1 Padang dan berhasil meraih predikat juara umum. Kecerdasannya membawanya diterima di Jurusan Farmasi Institut Teknologi Bandung (ITB) dan lulus sebagai lulusan terbaik S-1 Farmasi ITB. Setahun kemudian, ia kembali menorehkan prestasi gemilang dengan menjadi lulusan terbaik Program Profesi Apoteker ITB serta meraih penghargaan Kalbe Farma Award.
Pada 1985, Nurhayati bersama suaminya merintis perusahaan kosmetik berskala industri rumahan, yaitu PT Pusaka Tradisi Ibu. Produk pertamanya adalah perawatan rambut bermerek Putri yang dipasarkan langsung dari salon ke salon di wilayah Tangerang. Namun, perjalanannya tidak selalu berjalan mulus. Di tengah masa pertumbuhan perusahaan, pabrik pertamanya terbakar habis tanpa sisa. Musibah itu mengguncang perusahaan hingga ke akar-akarnya. Meski demikian, alih-alih menyerah, Nurhayati justru memilih untuk tetap bertanggung jawab kepada karyawan dan mitra bisnisnya. Hal ini didasarkan pada keyakinan bahwa “setiap kesulitan pasti ada kemudahan” yang membuatnya tetap tegar dalam menjalani masalah ini.
Dimasa sulit tersebut, Nurhayati masih menyempatkan diri untuk berangkat menunaikan ibadah haji yang semakin memberinya kekuatan mental untuk kembali berjuang. Dengan modal seadanya yang berasal dari tabungan pribadi dan pinjaman bank, ia membangun kembali usahanya dari nol. Kebangkitan kembali perusahaan tersebut sukses melahirkan terobosan besar yaitu merek Wardah pada tahun 1995. Merek ini menjadi jawaban dari keresahan para muslimah yang kesulitan menemukan produk kecantikan bersertifikat halal.
Nurhayati memperkenalkan Wardah pertama kali di lingkungan pesantren dengan strategi pemasaran dari pintu ke pintu. Langkah yang sederhana tetapi visioner ini terbukti mengubah lanskap industri kecantikan Indonesia. Wardah tumbuh menjadi pionir kosmetik halal pertama di tanah air.
Pada 2011, PT Pusaka Tradisi Ibu resmi berganti nama menjadi PT Paragon Technology and Innovation. Perubahan ini dilakukan untuk menunjukkan transformasi perusahaan yang semakin berorientasi pada riset dan inovasi. Di bawah kepemimpinan Nurhayati, Paragon terus melahirkan merek-merek baru seperti Make Over untuk segmen profesional, Emina untuk remaja, hingga Kahf sebagai produk perawatan diri khusus pria. Hingga kini, perusahaan tersebut telah mempekerjakan lebih dari 10.000 karyawan, memiliki 41 pusat distribusi, dan bahkan membuka kantor perwakilan di Malaysia.
Kepemimpinan Nurhayati sedikit berbeda dengan pemimpin perusahaan umumnya. Perbedaan tersebut terletak pada sistem kerjanya yang menggabungkan nilai-nilai spiritual dengan profesionalisme modern. Terdapat lima nilai inti perusahaan yang dibuat oleh Nurhayati, yaitu ketuhanan, kepedulian, kerendahan hati, ketangguhan, dan inovasi. Lima nilai ini menjadi fondasi utama untuk budaya kerja yang kolaboratif dan mengesampingkan birokrasi kaku.
Nurhayati tidak hanya memimpin sebuah perusahaan kosmetik, tetapi membangun sebuah ekosistem yang berbasis pada karakter. Sebagai seorang pemimpin yang memiliki jiwa servant leadership, ia memandang karyawan bukan sekadar alat produksi, melainkan keluarga besar yang memiliki visi ibadah dalam bekerja, sehingga menciptakan loyalitas internal yang sangat kuat.
Nurhayati juga dikenal sebagai pemimpin yang humanis dan dekat dengan karyawannya, ia bahkan membuat sebutan khusus untuk seluruh karyawannya, yaitu Paragonian. Sebutan ini dibuat untuk membangun hubungan yang lebih dekat dengan karyawan-karyawannya. Nurhayati juga selalu memberikan penghargaan kepada karyawannya untuk mengapresiasi kinerja mereka.
Sepak terjang Nurhayati di dunia bisnis mengukir rangkaian penghargaan bergengsi. Pada 2000, namanya masuk dalam daftar Wanita Paling Berpengaruh di Indonesia versi majalah SWA. Pada 2018, ia menjadi salah satu dari dua perempuan Indonesia yang masuk dalam jajaran Pebisnis Wanita Paling Berpengaruh di Asia versi Forbes. Setahun kemudian, ITB menganugerahinya gelar Doktor Kehormatan (honoris causa) atas kontribusinya di dunia industri. Di tahun yang sama, Nurhayati meraih ASEAN Business Award (ABA) untuk kategori Women Entrepreneur di Bangkok, Thailand.
Pada 2022, Fortune Indonesia menobatkannya sebagai salah satu Wanita Paling Berpengaruh, namanya bersanding dengan tokoh-tokoh seperti Megawati Soekarnoputri dan Sri Mulyani. Belum lama ini, Nurhayati juga kembali menorehkan prestasi, yaitu meraih penghargaan Outstanding Ethical Business Leader in Beauty Industry dalam ajang Indonesia Leading Women Awards 2026 yang diselenggarakan CNN Indonesia.
Selain prestasi dalam dunia bisnis, Nurhayati juga dikenal sebagai filantropis. Ia pernah menyumbangkan Rp52 miliar kepada ITB untuk keperluan riset, beasiswa, dan infrastruktur. Saat pandemi COVID-19 melanda, ia juga turut menyumbangkan dana sekitar Rp40 miliar untuk mendukung tenaga kesehatan yang berada di garis terdepan.
Kisah Nurhayati Subakat adalah bukti bahwa bisnis yang besar bisa lahir dari nilai yang tulus. Ia tidak hanya membangun perusahaan kosmetik, tetapi juga ekosistem yang menjadikan manusia sebagai pusat dari segala keputusan. Di tengah kerasnya persaingan industri global, sosok Nurhayati menjadi pengingat bahwa keberhasilan sejati bukan hanya diukur dari seberapa besar perusahaan yang dibangun, tetapi dari seberapa banyak orang yang bisa tumbuh dan berkembang di dalamnya.
Redaktur: Muhassanah Nasution
Leave a comment