Home Kuliner Gonggong, Hidangan Laut Sederhana Khas Melayu
Kuliner

Gonggong, Hidangan Laut Sederhana Khas Melayu

Share

Oleh: Deswina Listiani Matondang

Indonesia dikenal sebagai negara maritim yang kaya akan sumber daya laut. Kekayaan tersebut melahirkan beragam kuliner khas berbahan hasil perairan. Salah satu makanan khas yang cukup unik berasal dari wilayah Kepulauan Riau, yaitu gonggong. Meski namanya terdengar seperti suara anjing, gonggong sebenarnya merupakan hidangan berbahan dasar siput laut yang menjadi ikon kuliner masyarakat Melayu di daerah tersebut. Hidangan ini sangat populer di kota-kota pesisir, seperti Batam dan Tanjungpinang, bahkan sering dianggap sebagai kuliner wajib bagi wisatawan yang berkunjung ke sana. 

Dilansir dari Kompas.com, gonggong berasal dari sejenis siput laut bernama Laevistrombus Canarium yang hidup di perairan dangkal dengan dasar pasir berlumpur. Hewan ini banyak ditemukan di sekitar pesisir Bintan, Batam, hingga Lobam. Bentuknya menyerupai keong dengan cangkang spiral berwarna putih kecokelatan.

Dalam budaya masyarakat Melayu Kepulauan Riau, gonggong bukan sekadar makanan biasa, tetapi juga bagian dari identitas lokal yang merepresentasikan kedekatan masyarakat dengan laut yang menjadi sumber kehidupan mereka. Satu porsi masakan gonggong dijual dengan harga yang bervariasi, tergantung pada tempat penjualannya. Secara umum, harga satu porsi gonggong berkisar mulai dari Rp7.000. Namun, di beberapa tempat, hidangan ini dapat dijual hingga Rp250.000 per porsi. Sementara itu, jika ingin membeli dalam keadaan mentah, gonggong dapat ditemukan di pasar tradisional dengan harga sekitar Rp35.000 per kilogram.

Keunikan gonggong terletak pada kesederhanaan cara pengolahannya. Berbeda dengan seafood lainnya yang diolah dengan berbagai bumbu masakan, gonggong justru hanya direbus atau dikukus agar cita rasa aslinya tetap terjaga. Setelah matang, siput ini disajikan dalam kondisi utuh bersama sambal cabai, saus asam pedas, atau kecap bercampur irisan cabai dan jeruk limau. Cara memakannya pun cukup khas, daging siput harus dikeluarkan dari cangkangnya menggunakan tusuk gigi kecil atau dapat juga dihisap langsung. Proses ini memberikan pengalaman makan yang unik sekaligus menyenangkan bagi penikmatnya. 

Gonggong memiliki cita rasa yang khas dan cukup berbeda dibandingkan hidangan laut lainnya. Teksturnya cenderung kenyal, tetapi tetap terasa lembut saat dikunyah. Tekstur ini menyerupai perpaduan antara kerang dan siput air tawar. Selain itu, aroma laut yang ringan membuat hidangan ini terasa segar dan alami. Gongong yang diolah hanya dengan direbut atau dikukus tanpa tambahan bumbu juga memberikan rasa asli yang lebih menonjol. Sensasi gurih yang terasa alami inilah yang membuat banyak orang tertarik untuk mencobanya.

Biasanya, masyarakat setempat menikmati gonggong sebagai teman bersantai, terutama saat berkumpul bersama keluarga di daerah pesisir pantai dengan aneka makanan laut lainnya. Tidak mengherankan jika berbagai restoran seafood di wilayah Batam maupun Tanjungpinang selalu menghadirkan menu ini sebagai salah satu hidangan favorit pelanggan. 

Di balik kesederhanaannya, gonggong juga memiliki nilai gizi yang baik untuk tubuh. Hewan laut ini dikenal mengandung protein yang tinggi, sehingga dapat menjadi sumber nutrisi yang bermanfaat untuk membantu memenuhi kebutuhan energi tubuh. Kandungan lemak gonggong juga tergolong rendah, menjadikannya seafood yang relatif lebih sehat untuk dikonsumsi. Selain itu, gonggong mengandung sejumlah mineral penting, seperti zat besi dan kalsium yang berperan dalam menjaga kesehatan tulang serta membantu pembentukan sel darah merah. Kombinasi antara cita rasa unik dan kandungan nutrisi inilah yang membuat gonggong tidak hanya diminati sebagai makanan tradisional, tetapi juga dipandang sebagai kuliner laut yang menyehatkan. 

Lebih dari sekadar makanan, gonggong menunjukkan filosofi hidup masyarakat Melayu yang sederhana, tetapi kaya rasa. Siput yang mudah ditemukan di laut diolah tanpa teknik rumit, tetapi tetap menghasilkan hidangan yang digemari banyak orang. Kesederhanaan inilah yang membuat gonggong terasa autentik. Tidak ada penyajian mewah atau bumbu kompleks, hanya siput laut rebus, sambal, dan kebersamaan saat menyantapnya. 

Di tengah modernisasi kuliner yang semakin kreatif dan beragam, gonggong tetap mempertahankan identitasnya sebagai makanan tradisional. Kesederhanaan pengoalahan dan penyajian gonggong menjadi kekuatan utama di tengah banyaknya makanan berlomba tampil modern. Hal ini membuktikan bahwa cita rasa lokal tidak selalu harus rumit untuk meninggalkan kesan mendalam. Bagi pencinta wisata kuliner, mencicipi gonggong adalah pengalaman yang tidak boleh dilewatkan ketika berkunjung ke Kepulauan Riau. Dari teksturnya yang khas, cara makan yang unik, hingga nilai budayanya yang kuat, gonggong menawarkan pengalaman kuliner yang lebih dari sekadar rasa, tetapi juga merepresentasikan budaya pesisir Melayu yang sederhana, autentik, dan penuh karakter. 

Redaktur: Muhassanah Nasution

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.