
Oleh: Syafira Sari
Di ruang senat, suara bisik-bisik berisik,
bergelut idealisme dan kursi empuk yang diperebutkan
Apakah benar kita memilih dengan hati dan ‘isi’?
Atau pilihan hanya sekadar menimbang siapa yang paling pandai tersenyum dan melambaikan tangan meyakinkan
Ada nama yang terucap lantang,
Bukan sebab gagasan yang ditampilkan, melainkan pergaulan dan kedekatan
Buku-buku sumber tumbuh kembang dunia berdebu di perpustakaan,
tapi ‘lobi-lobi’ mereka sepanjang malam selalu diramai-ramaikan
Kita diajari memilih, mereka bilang sebagai ‘hak’,
tapi hak jenis apa yang terkesan mencipta kewajiban yang diarahkan?
Seolah pilihan kita jatuh dalam kotak kosong
yang sejatinya telah penuh terisi ‘gelap’ sejak awal oleh tangan tak kasat mata
Di spanduk masa rayuan itu, janji bergulir manis
“Transparansi, integritas, masa depan cerah“
Gundah, di balik huruf-huruf cemerlang itu
Tinta samar di sebaliknya seolah berujar “asal kau tahu cara membalas budi“
Yang dipilih tersenyum di atas podium,
menebar salam dan janji reformasi
Namun, bukankah yang telah lalu juga dapat menguar cerita?
Bahwa kursi -kursi kepentingan kerap jadi kursi sandiwara mereka
Sengaja memilih, atau dipilih secara sengaja
Hampir tidak kasat bedanya, seperti asap di jendela kelas.
Apakah kita saksi demokrasi yang tulus?
Ataukah hanya figuran dalam panggung yang telah diskenariokan?
Maka benar adanya, pemilu datang dan pergi,
nama berganti, janji berputar, diulang kembali
Yang abadi hanyalah pertanyaan sederhana
apakah ‘memilih’ benar dilandasi kebebasan atau sekadar ilusi yang dipoles rapi?
Redaktur: Fatimah Roudatul Jannah
Leave a comment