Home Puisi Sandiwara Pemilihan
PuisiSastra

Sandiwara Pemilihan

Share
Sumber: STH Indonesia Jentera

Oleh: Syafira Sari

Di ruang senat, suara bisik-bisik berisik,

bergelut idealisme dan kursi empuk yang diperebutkan

Apakah benar kita memilih dengan hati dan ‘isi’?

Atau pilihan hanya sekadar menimbang siapa yang paling pandai tersenyum dan melambaikan tangan meyakinkan

 

Ada nama yang terucap lantang,

Bukan sebab gagasan yang ditampilkan, melainkan pergaulan dan kedekatan

Buku-buku sumber tumbuh kembang dunia berdebu di perpustakaan,

tapi ‘lobi-lobi’ mereka sepanjang malam selalu diramai-ramaikan

 

Kita diajari memilih, mereka bilang sebagai ‘hak’,

tapi hak jenis apa yang terkesan mencipta kewajiban yang diarahkan?

Seolah pilihan kita jatuh dalam kotak kosong

yang sejatinya telah penuh terisi ‘gelap’ sejak awal oleh tangan tak kasat mata

 

Di spanduk masa rayuan itu, janji bergulir manis

“Transparansi, integritas, masa depan cerah“

Gundah, di balik huruf-huruf cemerlang itu

Tinta samar di sebaliknya seolah berujar “asal kau tahu cara membalas budi“

 

Yang dipilih tersenyum di atas podium,

menebar salam dan janji reformasi

Namun, bukankah yang telah lalu juga dapat menguar cerita?

Bahwa kursi -kursi kepentingan kerap jadi kursi sandiwara mereka

 

Sengaja memilih, atau dipilih secara sengaja

Hampir tidak kasat bedanya, seperti asap di jendela kelas.

Apakah kita saksi demokrasi yang tulus?

Ataukah hanya figuran dalam panggung yang telah diskenariokan?

 

Maka benar adanya, pemilu datang dan pergi,

nama berganti, janji berputar, diulang kembali

Yang abadi hanyalah pertanyaan sederhana

apakah ‘memilih’ benar dilandasi kebebasan atau sekadar ilusi yang dipoles rapi?

Redaktur: Fatimah Roudatul Jannah

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Related Articles