Home Entertaiment “Hati dan Paru-Paru” Lomba Sihir, Peluk Untuk Mereka yang Sedang di Kota Orang
EntertaimentMusik

“Hati dan Paru-Paru” Lomba Sihir, Peluk Untuk Mereka yang Sedang di Kota Orang

Share
Sumber: Spotify.com

Oleh: Nurur Rahmah

Pernah tidak sih kamu merasa sendirian di tengah keramaian kota? Sudah jauh dari rumah, hidup pas-pasan, tapi harus tetap pasang senyum biar dianggap kuat. Nah, Lomba Sihir kayaknya tahu banget rasanya. Lewat lagu “Hati dan Paru-paru,” mereka memberi semacam pelukan dalam bentuk lagu buat kita-kita yang lagi berjuang di perantauan.

Di tengah derasnya lagu-lagu bertema cinta dan romansa, Lomba Sihir justru hadir dengan sesuatu yang berbeda. Tepat pada 26 Februari 2021, band yang digawangi Baskara Putra, Natasha Udu, Tristan Juliano, Rayhan Noor, dan Enrico Octaviano ini merilis single berjudul “Hati dan Paru-Paru”. Lagu ini jadi pembuka dari album “Selamat Datang di Ujung Dunia”, sekaligus jadi semacam pelukan hangat buat para anak rantau yang sedang berjuang di kota besar.

Meski musiknya terdengar ceria dan bersemangat, ternyata liriknya menyimpan makna yang cukup dalam. Lagu ini seperti nasihat terbuka untuk para perantau yang sedang meniti jalan hidup jauh dari rumah. Penuh sindiran halus dan kritik sosial, lagu ini jadi pengingat agar kita tetap waspada dalam menghadapi kerasnya kehidupan kota. Bisa dibilang, ini bukan sekadar lagu tapi semacam surat terbuka yang penuh pesan untuk mereka yang membawa banyak harapan ke kota besar, tapi tidak semua siap dengan tekanan dan dinamika yang menyertainya.

Kota memburu anak yang lugu

Jadilah licik seperti hantu

Sedikit senyum palsu

Bawa luaran baru

Pada kutipan lirik ini menggambarkan bagaimana ‘Kota’ yang diibaratkan sebagai entitas akan memburu anak-anak ‘lugu’ atau yang tidak cukup berpengalaman dalam menghadapi dinamika di kota besar. Bagi anak rantau yang baru menapaki dunia luar, ini bisa jadi peringatan keras: jangan terlalu lugu, karena kota tidak selalu ramah.

Lomba Sihir seolah menyarankan, kalau mau bertahan di kota, kamu harus belajar baca situasi. Kata ‘licik seperti hantu’ bukan ajakan untuk jadi jahat, tapi lebih ke pesan supaya kita cerdik dan punya strategi dalam bersosialisasi. ‘Sedikit senyum palsu, bawa luaran baru’ yang bisa diartikan sebagai tampilkan citramu yang dapat diterima oleh sekitar walaupun itu bukan jati dirimu yang sebenarnya.

Kau jaga hati dan paru-paru

Dari taring tajam malam minggu

Lirik yang satu ini dapat memiliki makna mendalam yang dapat kita artikan sebagai pesan bahwa anak perantauan haruslah menjaga dirinya dari ‘pergaulan’ di kota besar. Sering kali kita melihat banyaknya anak perantauan yang terjerumus oleh pergaulan yang merusak dirinya hingga melenceng dari tujuan dari perantauan itu sendiri.

‘Hati’ dalam lirik ini dapat diartikan sebagai emosi, ataupun perasaan. ‘Paru-paru’ sendiri dapat diartikan sebagai fisik, sehingga ‘kau jaga hati dan paru-paru’ dapat diartikan bahwa sebagai anak perantauan haruslah menjaga dengan benar untuk tujuan, prinsip, dan fisik kita dalam merantau dari segala godaan pergaulan sesat yang ada di kota perantau. Janganlah terbuai gemerlap Ibu Kota. Kota itu bisa menjadi sangat kejam jika dirimu tidak kuat mental

Yang bikin lagu ini menarik adalah kontrasnya musik yang ceria dan bikin semangat, tapi liriknya pahit dan penuh makna. Kombinasi ini justru jadi kekuatan utama “Hati dan Paru-Paru”. Bukan lagu yang datang untuk menggurui, tapi lebih ke teman mengobrol yang kasih nasihat lewat cara yang santai, bahkan bisa bikin kita goyang dulu sebelum akhirnya merenung.

Mungkin buat sebagian orang, lagu ini terasa ‘berat’ karena banyak perumpamaan dan kiasan di dalam liriknya. Tapi buat kamu yang sedang atau pernah merantau, lagu ini bisa jadi cermin. Lomba Sihir berhasil meramu pesan sosial yang lumayan ‘nusuk’ dalam balutan musik yang ringan dan catchy. Kita bisa menikmati nadanya tanpa beban, tapi kalau sempat menyimak liriknya, bisa-bisa langsung teringat betapa kerasnya hidup di kota orang.

“Hati dan Paru-Paru” jadi bukti kalau musik tidak cuma soal cinta-cinta atau patah hati. Lagu ini memperlihatkan kalau musik juga bisa jadi media kritik sosial, sekaligus pengingat buat anak-anak rantau agar tetap waras dan sadar arah, walau jauh dari rumah.

Redaktur: Zahra Zaina Rusty

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.