
Oleh: Alya Nayla Sahirah
Halaman ke sekian, istana katanya akan terapung di danau impian
Lampu-lampu akan menari setiap malam di pelataran
Sedang di balik punggung kota, malam kami dibalut selimut cemas
Kabel terputus dan lilin yang kehabisan napas
Ada yang sibuk menyusun rencana bergelar ‘peradaban’
Beratribut mufakat sesat dan jargon tentang kemajuan
Lantas di lereng, di lembah, di kampung yang senyapnya tak sempat disapa,
Ibu kami menimba harapan dari sumur yang nyaris tiada
Demi Tuhan, perencana mendirikan mimpi dengan pondasi anggaran
Mengalir deras, tapi tak kunjung tersalur ke akar pedalaman
Entah siapa yang menakar jarak
Adakah peta mereka memuat jalur ke dusun kami?
Atau arah kompas memang sahaja condong ke gedung yang lebih tinggi?
Sudut kota baru
Akankah hadir ia di tapak kaki kami yang berdebu?
Menggilap beton dan baja di barat yang terlupa
Yang anak-cucunya memanggil hujan sebab keran pun tak berbicara.
Kami…
Kami, yang sialnya, sekali lagi kami
Wahai para arsitek janji, bukan megahnya ruang rapatmu yang kami nanti
Namun lunasnya nyeri di tanah penuh lebam ini
Yang setiap sudutnya dibungkam rapi
Redaktur: Fatimah Roudatul Jannah
Leave a comment