
Oleh: Siti Aisyah
Medan, Suara USU. Dalam sejarah Indonesia, kisah para penyintas tragedi 1965 kerap tenggelam dalam kabut ketakutan dan pembungkaman. Onak dan Tari di Bukit Duri: Catatan Harian tentang Utati karya Magdalena Sitorus hadir sebagai upaya untuk menyingkap kembali bagian sejarah yang tak hanya kelam, tapi juga penuh daya hidup. Buku ini menyuarakan pengalaman personal Utati Koesalah, seorang perempuan yang menjadi korban kriminalisasi politik dan seksisme sistemik rezim Orde Baru.
Buku ini merupakan karya pertama Magdalena yang membahas kisah penyintas 1965, difokuskan pada sosok Utati—seorang anggota Pemuda Rakyat yang ditahan selama sebelas tahun di Rumah Tahanan Bukit Duri tanpa pernah diadili. Utati, yang juga merupakan anggota Paduan Suara Dialita, bukanlah figur politik aktif. Aktivitasnya kala itu hanya berupa kegiatan kesenian seperti menari dan menyanyi. Namun karena Pemuda Rakyat dianggap sebagai underbow PKI, ia ikut disasar dalam gelombang penangkapan besar-besaran.
“Kami membuat lagu, puisi, dan tulisan. Diam-diam kami nyanyikan lagu itu di kamar mandi atau saat menyapu halaman penjara. Itu cara kami bertahan sebagai manusia.”
Bait ini mencerminkan bagaimana kreativitas menjadi ruang perlawanan paling sunyi namun paling dalam. Di balik jeruji dan stigma sebagai “perempuan PKI”, Utati dan kawan-kawan membuktikan bahwa mereka tidak kehilangan nurani maupun harga diri. Penjara bukan tempat akhir, melainkan ruang sunyi tempat benih-benih kemanusiaan tetap tumbuh. Di tengah isolasi dan penindasan, ekspresi seni menjadi semacam pelarian spiritual yang justru memperkuat identitas dan daya hidup mereka sebagai manusia.
Magdalena menyusun narasi bukan sekadar untuk menunjukkan ketidakadilan politik, melainkan untuk memetakan bagaimana tubuh perempuan menjadi medan tempur kekuasaan. Utati tidak hanya ditahan karena afiliasi politiknya, melainkan karena ia adalah perempuan berpendirian kuat di tengah tatanan yang patriarkis. Perempuan dalam organisasi seperti Gerwani kerap dilabeli liar, nakal, bahkan tidak bermoral, bukan karena tindakan mereka, tetapi karena mereka berani menyuarakan hak-haknya.
“Tuduhan terhadap kami bukan soal politik semata, tapi juga soal moral. Mereka mencoreng tubuh kami agar masyarakat percaya kami memang pantas dipenjara.”
Stigma terhadap Gerwani sebagai “perempuan liar” atau “penggoda” diperkuat dengan narasi kekerasan seksual yang direkayasa. Buku ini menampik mitos itu dengan fakta, kesaksian, dan keberanian. Magdalena menunjukkan bahwa Gerwani adalah organisasi perempuan progresif yang memperjuangkan hak-hak buruh perempuan, pendidikan, dan kesehatan. Narasi yang selama ini dominan ternyata dipenuhi rekayasa dan manipulasi negara untuk membungkam gerakan perempuan yang kritis.
Uniknya, Onak dan Tari di Bukit Duri tidak ditulis dengan nada marah atau dendam. Ia penuh dengan kesabaran, cinta, dan kenangan yang jernih. Utati bercerita tentang masa kecilnya, tentang tari, tentang buku yang ia baca di masa penahanan, dan tentang suara jangkrik yang menemaninya di malam-malam penuh ketidakpastian. Di antara jeruji besi dan ketidakpastian hidup, kenangan menjadi pelipur dan sekaligus alat perlawanan.
“Aku menyanyikan lagu kesukaan ibu diam-diam, sambil memeluk lututku sendiri. Lagu itu menjadi pengganti pelukan.”
Kenangan menjadi tempat berlindung. Ia menyusun ulang identitas yang dihancurkan negara, menjahit kembali harga diri yang diremukkan oleh stigma. Dalam konteks ini, Magdalena seperti tukang sulam sejarah—menyatukan potongan-potongan kecil dari hidup Utati dan menjadikannya utuh kembali. Buku ini menjadi arsip alternatif yang tidak hanya mencatat peristiwa, tapi juga rasa, luka, dan semangat bertahan hidup.
Sebagai bagian dari seri Perempuan Penyintas 1965, buku ini juga berfungsi sebagai dokumentasi penting dalam upaya rekonsiliasi dan keadilan transisional. Ia bukan hanya catatan pribadi, tetapi juga seruan moral bagi negara dan masyarakat untuk tidak terus membungkam para penyintas. Pengakuan, dalam hal ini, bukan hanya bersifat administratif, tapi menyangkut pengembalian martabat manusia.
“Kami hanya ingin didengar, diakui sebagai manusia yang pernah disakiti, bukan musuh negara.”
Seruan ini terasa relevan hingga kini. Ketika masih banyak penyintas yang hidup dalam stigma, buku ini menegaskan pentingnya mendengarkan suara mereka dan membuka ruang dialog yang sehat. Magdalena berhasil menjadikan suara Utati sebagai representasi ratusan bahkan ribuan perempuan lain yang mengalami nasib serupa namun tak sempat bersuara. Buku ini bukan hanya tentang masa lalu, tapi juga tentang bagaimana kita memperlakukan ingatan dan kemanusiaan hari ini.
Onak dan Tari di Bukit Duri adalah lebih dari sekadar kisah individu. Ia adalah refleksi sosial, sejarah, dan spiritual. Buku ini penting dibaca oleh siapa saja yang ingin memahami dampak kekerasan negara secara lebih empatik, khususnya terhadap perempuan. Magdalena Sitorus mengajak kita untuk tidak hanya mengingat, tetapi juga merawat ingatan dengan rasa hormat dan cinta kasih.
Sebagaimana Utati menyanyikan lagu ibunya di tengah dinginnya sel penjara, buku ini adalah sebuah nyanyian kecil dari reruntuhan sejarah. Pelan, lembut, namun tak akan pernah padam. Di tangan Magdalena, suara perempuan yang selama ini dibungkam menjadi terang yang tak bisa lagi diabaikan.
Redaktur: Zahra Salsabilla
Leave a comment