
Oleh : Lucy Kezia Simarmata
Suara USU, Medan. Dentuman gendang berpadu dengan tiupan sarune yang melengking menciptakan harmoni yang khas. Inilah Genderang Sisibah, musik tradisional masyarakat Pakpak yang tidak hanya mengiringi upcara adat melainkan telah merekam jejak budaya yang diwariskan turun-temurun.
Genderang Sisibah merupakan alat musik khas Pakpak yang berasal dari daerah Sumatera Utara. Terdiri atas sembilan buah gendang satu sisi (single-head drums) dengan ukuran berbeda, yang masing-masing menghasilkan suara yang unik. Perbedaan ukuran ini membentuk harmoni kompleks saat dimainkan.
Orang yang memainkan alat ini disebut Pande. Arti dari kata Pande sendiri ialah orang yang dianggap bijaksana dan mengerti adat. Musik yang dihasilkan membentuk irama yang khas dan memiliki irama tersendri dalam berbagai upacara adat. Musik yang dihadirkan bukan sekadar dengungan musik belaka, di dalamnya terkandung doa, harapan, sampai ke permohonan dari pelaksana dan peserta upacara kepada Tuhan ( atau yang kerap disebut dibata bagi masyarakat Pakpak) serta kekuatan lain sesuai kepercayaan mereka. Oleh karena itu, musik ini disebut juga markata genderang yang artinya genderang ‘berkata’.
Dalam ensembel, genderang dikombinasikan dengan instrumen lain seperti empat gong (gung sada rebaan), kelodang, kecapi, simbal (cilat-cilat), dan alat tiup sarune atau aboe. Dahulu, permukaan gendang dibuat dari kulit rusa (balkih), namun kini menggunakan kulit sapi yang dikeringkan dan diikat pada kayu silinder dengan rotan.
Bagi masyarakat Pakpak, kehadiran Genderang Sisibah dalam suatu perayaan menandakan bahwa perayaan tersebut memiliki tingkatan yang tinggi, sangat penting, dan juga sakral. Seperti pada upacara kerje mbaik, yaitu upacara syukuran atau kebahagiaan yang paling tinggi. Contoh perayaan yang termasuk dalam upacara kerje mbaik ini seperti pernikahan, peresmian rumah baru dan pesta mejan. Maka, tidak semua acara atau perayaan bisa menggunakan atau memakai Genderang Sisibah, hanya acara denga kriteria khusus itulah yang bisa menggunakan seperangkat alat musik ini sebagai iringannya. Selain itu, bersamaan dengan dimainkannya Genderang Sisibah, harus ada kurban yang rela disembelih, seperti kerbau (kerbo). Jadi, kerbo alias kurban, upacara kerje mbaik, dan Genderang Sisibah adalah tiga hal yang tidak bisa dilepaskan.
Selain itu, Genderang Sisibah ini juga punya peranan tersendiri dalam kehidupan masyarakat suku Pakpak, seperti di upacara adat, bunyi genderang ini mengiringi jalannya upacara dan menciptakan suasana khidmat. Selain upacara, genderang juga sering dimainkan dalam seni pertunjukan, seperti teater atau tarian tradisional. Irama yang tercipta membuat pertunjukan terasa lebih hidup dan menarik. Dalam kehidupan sehari-hari bunyi genderang juga dimanfaatkan untuk menyampaikan pesan, seperti peringatan untuk berkumpul, panggilan rapat, atau sebagai pertanda bahaya.
Genderang berawal dari kebiasaan nenek moyang suku Pakpak yang dahulu tinggal di hutan. Mereka menciptakan suara dengan memukul kayu-kayu yang memiliki ukuran berbeda, sehingga menghasilkan variasi bunyi dan menciptakan irama. Dari irama tersebut, lahirlah lagu-lagu tradisional yang awalnya disebut nangen untuk perempuan dan Odong-odong untuk laki-laki. Ketika Genderang dimainkan, irama yang terbentuk disesuaikan dengan lagu-lagu yang telah mereka ciptakan. Seiring waktu, irama tersebut berkembang menjadi nada-nada yang tersusun, hingga akhirnya terbentuk sembilan gendang yang dikenal dengan nama Genderang Sisibah.
Seiring dengan perkembangannya, peran Genderang mengalami pergeseran dalam berbagai acara, terutama dalam pembuka pada pesta adat pernikahan. Genderang Sisibah mulai dipadukan dengan lagu-lagu tradisional yang dibagi menjadi 3 jenis, yaitu Nangen yang berisi ungkapan rindu kesedihan atas kematian, Odong-odong yang menggbarkan kegiatan mencari kemenyan di hutan, serta Mardembas yang mencerminkan tarian dua anak muda di bawah cahaya bulan.
Meski dilestarikan, minat generasi muda mempelajari Genderang Sisibah masih terbatas. Upaya pelatihan melalui sekolah dan festival budaya terus dilakukan agar warisan ini tidak punah. Genderang Sisibah adalah simbol kebanggaan masyarakat Pakpak penghubung antara manusia, leluhur, dan alam semesta. Melalui dentumannya, terkandung doa, sejarah, dan identitas yang harus dijaga agar tetap bergema di masa depan.
Redaktur: Muhammad Halim
Leave a comment