Reporter: Ruth Jelita Laia
Suara USU, Medan. Komunitas Medan Cultural Change berkolaborasi dengan Clapham menggelar ruang diskusi bertajuk “Better City Talk: Merawat Cerita, Membentuk Kota” di Kompleks Ruko Centre Point Medan pada Sabtu (22/8/2026) pukul 09.30 WIB. Acara ini diselenggarakan untuk mengajak generasi muda dan masyarakat umum mengenal Kota Medan lebih dalam serta membangun kesadaran kolektif terhadap nilai warisan sejarah (heritage) di tengah modernisasi dan arus globalisasi yang kian pesat.
Kegiatan yang dihadiri oleh 75 peserta ini menghadirkan tiga narasumber dari berbagai latar belakang, yaitu Yulianto Qin dari komunitas Urban Sketchers Medan, Rizky Nasution dari Medan Heritage, serta kreator konten Ghandy November yang aktif membagikan narasi lokal melalui media digital.
Acara dibuka oleh Iki Sembiring selaku moderator yang memaparkan gambaran umum Kota Medan beserta beragam dinamika di dalamnya. Ia menyoroti fenomena banyaknya pendatang yang mengalami gegar budaya (culture shock) saat tiba di Medan. Selain itu, stigma negatif yang kerap melekat pada kota ini, mulai dari permasalahan kualitas sumber daya manusia (SDM), bencana banjir tahunan, hingga potensi konflik horizontal, turut mengikis kesadaran masyarakat terhadap nilai penting kotanya. Padahal, Medan memiliki modal perkembangan yang kuat dengan keunikan budaya, sejarah panjang, dan dinamika sosial masyarakat yang kaya.
Menanggapi hal tersebut, Yulianto Qin membagikan pengalamannya mengenai minimnya wadah apresiasi visual di kota ini. Menurutnya, ruang bagi para penggambar sketsa (sketcher) di Medan sangat terbatas dan komunitas serupa tergolong langka. Keterbatasan inilah yang melatarbelakangi berdirinya Urban Sketchers Medan. Yulianto menekankan bahwa Medan menyimpan banyak narasi visual menarik, mulai dari arsitektur kolonial bersejarah hingga tradisi multikultural seperti Festival Thaipusam dan kawasan Pasar Hindu.
Yulianto juga mengungkapkan bahwa Medan dahulu menyandang julukan Paris van Sumatra, tetapi seiring berjalannya waktu, makna julukan tersebut kian luntur dan bahkan banyak generasi muda yang tidak mengetahuinya lagi.
Pernyataan tersebut dipertegas oleh narasumber kedua, Rizky Nasution dari Medan Heritage. Ia menilai bahwa pudarnya memori kolektif tersebut terjadi akibat rendahnya kepedulian generasi muda terhadap nilai sejarah kota di tengah derasnya pembangunan fisik. Oleh karena itu, komunitas ini hadir untuk menjembatani anak muda agar kembali mengenali kotanya.
“Hal yang dapat dilakukan adalah mengajak anak muda untuk mengenal karena sejatinya kita tak punya kekuatan untuk melestarikan. Oleh sebab itu, kami memulai dengan edukasi entertainment,” tegas Rizky.
Sementara itu, Ghandy November menyoroti peran media digital dalam merawat ingatan publik. Baginya, tantangan terbesar saat ini bukanlah ketiadaan cerita, melainkan cara menjaga cerita-cerita tersebut agar tetap hidup dan mudah diakses oleh publik. Ghandy konsisten memproduksi seri video bertajuk Investighandi, yang mengulas sudut-sudut Kota Medan mulai dari bangunan cagar budaya, kuliner legendaris, hingga karakter unik masyarakatnya. Ia meyakini bahwa bersikap kritis terhadap dinamika perkotaan merupakan salah satu wujud nyata dari cinta terhadap tanah kelahiran.
Salah satu peserta, Fitri, mengungkapkan apresiasinya terhadap penyelenggaraan diskusi ini. Ia mengaku bahwa sudut pandangnya terhadap Kota Medan berkembang setelah menyimak pemaparan dari para narasumber. “Setelah mendengarkan diskusi ini, saya menyadari dan mengamini bahwasanya Medan memiliki banyak potensi dan hal itu dapat kita gerakkan bersama dengan kesadaran bersama,” ujarnya. Fitri juga menambahkan bahwa perubahan kota ke arah yang lebih inklusif dan tertata harus dimulai dari inisiatif individu untuk mau mengenal, merawat, dan mencintai kotanya sendiri.
Diskusi ini melahirkan simpulan bersama antara peserta dan pemateri mengenai urgensi mentransformasikan gagasan menjadi tindakan konkret. Rizky menyampaikan bahwa Medan Heritage berencana menggelar pemutaran film bertajuk layar tancap dengan membuka ruang kolaborasi terbuka bersama publik. Senada dengan hal itu, Urban Sketchers Medan juga terus melanjutkan agenda rutin bulanan mereka, salah satunya melalui gelaran pameran karya visual pada 29 Agustus 2026 mendatang.
Redaktur: Alya Nayla Sahirah S.
Leave a comment