Home Buku Mengambil Jeda Sejenak dan Menemukan Kembali Diri Sendiri dalam Book’s Kitchen
Buku

Mengambil Jeda Sejenak dan Menemukan Kembali Diri Sendiri dalam Book’s Kitchen

Share

Oleh: Tania Renata Panjaitan

Suara USU, Medan. Kesibukan dan kebutuhan untuk terus melanjutkan hidup sering kali membuat manusia lupa mengambil jeda dan menemukan kembali ketenangan dalam dirinya. Gagasan tentang jeda tersebut menjadi napas utama dalam Book’s Kitchen karya Kim Jee-Hye, yang menghadirkan kisah sederhana tentang orang-orang yang dilanda lelah dan ingin mencari ruang untuk beristirahat dari kehidupan mereka. Dengan memadukan genre healing fiction (fiksi penyembuhan) dan slice of life, buku yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama pada tahun 2024 ini mengajak pembaca untuk melihat kembali arti beristirahat dan menemukan diri.

Alur buku setebal 280 halaman ini mengisahkan Yu-jin, tokoh utama sekaligus mantan pemilik perusahaan rintisan (start-up) yang beralih mendirikan kedai buku (book café) sekaligus penginapan bernama Soyang-ri Book’s Kitchen di daerah pegunungan dan danau yang tenang, jauh dari hiruk-pikuk kota. Dengan menawarkan nuansa yang menenteramkan, Soyang-ri Book’s Kitchen menjadi pilihan yang tepat bagi mereka yang menginginkan ruang yang lapang dan lepas dari ingar-bingar kota. Hal ini ditunjukkan oleh beberapa pengunjung yang memilih Soyang-ri Book’s Kitchen sebagai tempat untuk melupakan persoalan dan kelelahan masing-masing.

Beragam kisah yang dihadirkan para pengunjung mewarnai Soyang-ri Book’s Kitchen dengan lika-liku kehidupan manusia. Ada pengunjung yang merasa kehilangan dirinya sendiri usai menginjak tahap popularitas, pengunjung muda yang khawatir menghadapi transisi usia dewasa beserta tekanan hidupnya, pengunjung yang tak pernah mengenal kata “jeda” dalam kehidupannya yang serba cepat, pengunjung yang ingin mencari ketenangan dalam pergolakan batinnya, hingga pengunjung yang mengalami pergumulan dengan anggota keluarganya. Meski Yu-jin menjadi tokoh utama yang menghubungkan keseluruhan cerita, Book’s Kitchen justru banyak menyoroti kisah para pengunjung yang datang dengan persoalan mereka masing-masing. Berbagai kisah pengunjung inilah yang akan memperkenalkan pembaca pada kegamangan yang tak jarang menerpa kehidupan manusia.

Mengambil jeda dan beristirahat sejenak adalah ungkapan yang dapat menggambarkan hal yang dilakukan para pengunjung saat memutuskan untuk mengunjungi Soyang-ri Book’s Kitchen. Ketenangan dan kedamaian batin adalah sesuatu yang diharapkan para pengunjung usai tiba di Soyang-ri Book’s Kitchen yang memiliki suasana teduh. Namun, ketenangan yang mereka cari bukanlah bentuk pelarian dari kehidupan, melainkan kesempatan untuk berhenti sejenak, mengurai kegundahan, dan kembali memahami diri sendiri sebelum menata kembali langkah yang akan ditempuh. Kim Jee-Hye tidak menggambarkan jeda sebagai bentuk kemunduran dan istirahat sebagai bentuk kemalasan. Dengan makna yang terselip rapi dalam potongan kisah para pengunjung, ia menginterpretasikan jeda dan istirahat sebagai kesempatan untuk menerima keadaan, memahami keinginan diri sendiri, dan menentukan haluan dalam perjalanan.

Book’s Kitchen menunjukkan bahwa proses menemukan kembali diri sendiri tidak selalu membutuhkan cara yang besar atau perjalanan yang spektakuler. Terkadang, ia hadir melalui hal-hal yang selama ini kerap luput dari perhatian. Aroma makanan yang akan disantap, buku yang dibaca, dialog yang terjalin, hingga suasana pedesaan yang teduh menjadi bagian dari pengalaman pengunjung dalam mengambil jeda dan kembali menemukan jati diri mereka. Tak hanya itu, riuh-rendahnya kehidupan membuat kita memandang remeh waktu untuk istirahat. Sering kali kita menganggapnya sebagai aktivitas yang membuang-buang waktu, hingga gaduhnya isi kepala yang menyuruh kita beristirahat justru membuat kita merasa tertekan. Manusia memang akan selalu berada di tengah-tengah tuntutan untuk terus bergerak dan mencari sesuatu, seolah kehidupan yang kita jalani tak mengenal kata cukup. Namun, untuk mengambil jeda, melepas penat, dan menemukan diri sendiri, kita tak perlu pencapaian yang besar. Yang dibutuhkan hanyalah sebuah ruang untuk berhenti, bernapas, dan mendengarkan kembali apa yang sebenarnya dirasakan. Dengan demikian, Kim Jee-Hye tak sekadar menuangkan arti berhenti dalam kata jeda, melainkan juga proses mengenali diri sendiri.

Gaya penceritaan kehidupan yang hangat dan interaksi antarkarakter yang terasa dekat menjadi kelebihan tersendiri buku ini. Hal tersebut membuat pembaca merasa dekat dan menemukan keterkaitan dengan kisah-kisah yang dihadirkan. Selain itu, penggambaran suasana Soyang-ri Book’s Kitchen yang menenangkan dan detail membuat pembaca seolah-olah dapat turut hadir dan merasakan keteduhan tempat tersebut. Buku ini juga menyampaikan pesan-pesan reflektif tentang kehidupan, seperti pengingat bahwa hati memerlukan waktu untuk memulihkan diri, seseorang membutuhkan harapan agar yakin bahwa hidup akan baik-baik saja, serta kesadaran bahwa tidak ada kesempurnaan dalam hidup yang tengah kita jalani.

Meski demikian, Book’s Kitchen tetap memiliki beberapa hal yang dapat menjadi catatan bagi para pembaca. Terdapat beberapa bagian yang mungkin tidak cocok bagi setiap pembaca, seperti penyajian cerita yang cenderung tenang dan alur yang berjalan perlahan. Bagi pembaca yang terbiasa dengan alur cerita dan konflik yang kuat, alur Book’s Kitchen mungkin akan terasa kurang dinamis dan membosankan.

Pada akhirnya, Book’s Kitchen tak hanya bercerita mengenai sebuah tempat untuk beristirahat, melainkan juga tentang sebuah ruang yang diberikan manusia untuk dirinya sendiri dalam kembali menemukan ketenteraman. Buku ini juga mengingatkan kita bahwa mengambil jeda pun merupakan bagian dari perjalanan hidup. Oleh karena itu, buku ini akan menjadi bacaan yang tepat bagi para pembaca yang tengah mencari bacaan ringan, hangat, dan reflektif. Bagi mereka yang letih dan merasa tertinggal, Book’s Kitchen karya Kim Jee-Hye menjadi pengingat bahwa sesekali berhenti bukan berarti tertinggal, melainkan kesempatan untuk kembali menemukan diri sendiri.

Redaktur: Lucy Kezia Simarmata

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.