Home Cerpen Pulang kepada Diri yang Terlupa
Cerpen

Pulang kepada Diri yang Terlupa

Share

Oleh: Rosani Margaretha Samosir

Suara USU, Medan. ​Barangkali, luka yang paling lama sembuh bukanlah luka yang membuat tubuh kita berdarah, melainkan luka yang tumbuh pelan-pelan ketika kita terlalu sering meninggalkan diri sendiri demi memastikan orang lain tidak merasa sendirian.

​Ada orang-orang yang tumbuh dengan keyakinan bahwa menjadi baik adalah satu-satunya cara agar tetap disayangi. Mereka belajar tersenyum bahkan sebelum memahami rasa kecewa, belajar mengalah sebelum mengenal batas kekuatan dirinya sendiri. Pelan-pelan, mereka hidup lebih banyak untuk orang lain daripada untuk diri sendiri, hingga akhirnya, mereka tidak lagi tahu apakah kebaikan itu sebuah pilihan tulus atau sekadar kebiasaan yang tidak pernah dipertanyakan.

​Nara tumbuh seperti seseorang yang selalu berjalan sedikit lebih lambat dari ritme hidupnya sendiri. Ia bukan tertinggal, ia hanya sering berhenti untuk memastikan tidak ada orang lain yang tertinggal di belakangnya. Sejak kecil, ia terbiasa memahami orang lain lebih cepat daripada memahami dirinya sendiri. Mengulurkan bantuan terasa seperti hal yang paling wajar, seolah-olah itu adalah satu-satunya cara agar dunia di sekitarnya tetap tenang.

​Saat masih di sekolah dasar, seorang teman pernah duduk dengan wajah menunduk lesu karena lupa membawa bekal. Nara tanpa ragu mendorong kotak makannya ke atas meja itu, seolah hal tersebut memang sudah semestinya ia lakukan. “Ini saja,” ucapnya tenang. Temannya menerima dengan senyum lega. Nara hanya mengangguk kecil tanpa banyak berpikir, lalu kembali melanjutkan harinya seperti biasa. Ia mengira semua urusan sudah selesai dengan benar.

​Sesampainya di rumah, sang ibu memperhatikan kotak makan yang kosong itu lebih lama dari biasanya. Ada jeda sebelum ibunya berbicara, seperti sedang menahan sepotong kalimat yang tidak ingin jatuh terlalu keras.

“Bekalnya mana?” tanya ibunya.

“Aku kasih ke teman, Bu,” jawab Nara jujur.

Ibunya menghela napas pelan, bukan tanda marah, bukan pula pujian. Kalimat yang keluar setelahnya terdengar sederhana, tetapi tertanam dalam di pikiran Nara, “Kamu itu terlalu gampang mengalah.”

​Nara tidak menjawab. Ia tidak benar-benar mengerti apa yang dimaksud ibunya saat itu karena di kepalanya, mengalah justru terdengar seperti sebuah kebajikan. Malam itu ia tidur tanpa tahu bahwa satu kalimat sederhana tersebut sedang menetap diam-diam di dalam dirinya.

​Sejak saat itu, kata “mengalah” mulai menjadi kompas bagi Nara dalam menjalani hidup. Ia tumbuh menjadi anak yang selalu datang lebih awal, tinggal lebih lama, dan mengisi kekosongan yang bahkan bukan miliknya.

“Kalau Nara saja bagaimana?”

“Dia pasti mau, kok.”

“Nara kan tidak pernah menolak.”

Rentetan kalimat itu mulai menggantikan namanya sebagai seorang manusia. Ia tidak lagi dipandang sebagai seseorang yang memiliki pilihan, melainkan sebagai jawaban instan untuk semua hal yang tidak ingin diurus oleh orang lain. Pelan-pelan, ia terbiasa ada untuk semua orang, kecuali untuk dirinya sendiri.

​Memasuki masa remaja, untuk pertama kalinya ia mencoba menolak satu permintaan kecil. Tidak ada pertengkaran, tidak ada suara tinggi, hanya ada perubahan atmosfer yang hampir tidak terlihat. Namun, seseorang menatapnya cukup lama sebelum berbicara dengan nada datar, “Sekarang kamu beda.” Kalimat itu tidak terdengar marah, tetapi memancarkan jarak yang tiba-tiba diciptakan. Nara tidak menjawab, hanya diam lebih lama dari biasanya. Saat itulah ia mulai memahami bahwa satu penolakan ternyata bisa mengubah cara orang melihat seluruh dirinya. Sejak hari itu, ia belajar menjadi lebih hati-hati; lebih cepat berkata “iya”, dan lebih lambat mendengar suaranya sendiri. Tanpa sadar, ia kembali menjadi orang yang sama, hanya dengan cara yang jauh lebih sunyi.

​Kebiasaan itu tidak pernah benar-benar hilang hingga ia dewasa. Nara membawa dirinya seperti seseorang yang selalu siap mengisi ruang kosong orang lain, bahkan ketika jiwanya sendiri mulai keropos tanpa ia sadari. Di tempat kerja, ia dikenal sebagai rekan yang paling mudah dimintai tolong dan paling sulit berkata tidak. Ia tidak pernah benar-benar menghitung berapa banyak hal yang telah ia berikan, hanya saja ia semakin jarang memedulikan dirinya sendiri.

​“Bisa bantu ini sebentar?”

“Kalau kamu tidak sibuk, ya.”

“Kamu kan biasanya masih bisa tinggal lebih lama.”

Nara selalu mengangguk tanpa banyak pertanyaan. Bahkan ketika tubuhnya mulai kelelahan, ia tetap merasa bahwa menolak hanya akan membuat keadaan orang lain menjadi lebih sulit. Entah sejak kapan, perasaan itu menjelma menjadi kebiasaan mutlak. Ia hanya tahu satu hal: jika ia berhenti, rasa bersalah akan langsung menghantuinya.

​Lama-kelamaan, ia mulai kehilangan hal-hal kecil yang dulu sempat ia inginkan. Nara mulai terbiasa hidup dalam penundaan terhadap kebahagiaannya sendiri. Semua impiannya selalu mengantre dalam daftar tunggu, tetapi giliran itu tidak pernah benar-benar datang. Ia tidak merasa sedang dipaksa, ia hanya merasa bahwa jika ia berhenti, akan ada sesuatu yang runtuh di sekitarnya.

​Suatu malam di kantor, lampu-lampu sudah hampir padam dan hanya menyisakan satu ruangan yang masih menyala. Nara masih duduk di depan layar komputer, menyelesaikan pekerjaan yang sebenarnya bukan sepenuhnya tanggung jawab dia. Di luar, hujan turun pelan, membuat kaca jendela seolah menyimpan bayangan yang tidak utuh, seperti dunia yang ikut lelah tetapi dipaksa tetap bergerak.

​Seorang rekan kerja melewati mejanya sebelum melangkah pulang. “Kamu masih di sini?” tanyanya.

Nara tersenyum kecil tanpa mengangkat kepala terlalu lama, “Iya, sebentar lagi selesai.”

Orang itu mengangguk, lalu mendadak berhenti sejenak sebelum benar-benar pergi. “Kamu orang baik, Nara. Tapi pernah tidak sih kamu kepikiran… jangan-jangan orang-orang terlalu terbiasa menerima kebaikanmu sampai mereka lupa kalau kamu juga bisa lelah? Aku bahkan tidak pernah tahu apa yang sebenarnya kamu inginkan.”

​Kalimat itu tidak meminta jawaban, tetapi justru meninggalkan ruang kosong yang aneh di udara, seperti pintu yang sengaja dibuka sedikit lalu dibiarkan begitu saja. Setelah rekan kerjanya pergi, Nara tetap terpaku di kursinya, duduk lebih lama dari yang seharusnya. Untuk pertama kalinya, pertanyaan menohok itu tidak bisa ia jawab dengan kebiasaan “iya” yang selama ini selalu menyelamatkannya.

​Apa yang sebenarnya aku mau?

​Ia mencoba memikirkan hal-hal sederhana. Istirahat. Pulang. Tidur. Namun, semuanya terasa seperti kata-kata yang mengambang jauh, seolah-olah bukan miliknya lagi. Kata-kata itu menyerupai bahasa yang dulu pernah ia mengerti, tetapi perlahan-lahan terlupakan. Semakin keras ia mencari jawaban, semakin ia merasa tidak mengenali dirinya sendiri.

​Hujan masih turun pelan dalam perjalanan pulang. Lampu jalanan memantul di atas aspal yang basah seperti ingatan yang tidak kunjung selesai, seperti sesuatu yang tidak pernah benar-benar ditutup. Nara berjalan tanpa terburu-buru, seolah tidak ada tempat lain yang benar-benar menunggunya selain rutinitas membosankan yang akan kembali berulang esok hari.

​Setibanya di dalam rumah, ia tidak langsung menyalakan lampu. Ia membiarkan dirinya duduk dalam kegelapan yang pekat, tanpa suara, tanpa tergesa-gesa mengusir sunyi. Kini, sunyi tidak lagi terasa asing bagi Nara. Justru di sanalah ia menemukan kembali ruang yang selama ini hilang, sebuah ruang personal yang tidak menuntutnya untuk menjadi siapa pun.

​Di dalam keheningan itu, sebuah pertanyaan muncul tanpa suara, Kalau aku selalu berusaha jadi orang yang baik… kenapa aku merasa begitu lelah?

​Tidak ada jawaban yang datang membalas. Hanya waktu yang terus berdetak berjalan, sementara pertanyaan itu menetap pelan di dalam dadanya. Namun, malam itu Nara tidak lagi berusaha mengabaikannya. Ia membiarkan pertanyaan itu tinggal dan memberikan dirinya sendiri kesempatan untuk didengarkan. Ia hanya duduk lebih lama di sana. Lebih lama dari biasanya. Seolah-olah, ia sedang berhenti menjadi segala sesuatu bagi semua orang, agar perlahan-lahan bisa kembali pulang menjadi dirinya sendiri.

Redaktur: Alya Nayla Sahirah S. 

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.