
Oleh: Ines Eliyana Br Ginting
Suara USU, Medan. Kita hidup di era yang menawarkan kenyamanan tanpa batas. Teknologi semakin canggih, pekerjaan bisa dilakukan dari tempat tidur, hiburan tersedia hanya dengan menyentuh layar, dan makanan bisa datang ke rumah tanpa perlu berjalan ke luar. Tapi di balik kenyamanan itu, tersembunyi ancaman yang kian nyata gaya hidup sedentary, kebiasaan duduk dan kurang gerak yang perlahan-lahan merusak tubuh.
Di Indonesia, tren gaya hidup minim gerak ini kian mengkhawatirkan, terutama di kalangan remaja. Berdasarkan data Riskesdas 2018, sebanyak 66,4% remaja di Indonesia tidak cukup melakukan aktivitas fisik. Sementara itu, data dari Kementerian Kesehatan RI menunjukkan bahwa prevalensi aktivitas fisik rendah pada remaja usia 15-19 tahun mencapai 49,6%, dengan Jawa Barat mencatatkan angka 37,5%. Ini bukan sekadar statistik, tetapi cerminan dari pola hidup yang berpotensi membawa bencana kesehatan di masa depan.
Lebih dari sekadar malas bergerak, gaya hidup sedentary mencakup berbagai aktivitas pasif seperti duduk terlalu lama, menatap layar sepanjang hari, hingga tidur berlebihan tanpa diimbangi dengan aktivitas fisik yang cukup. Aktivitas seperti ini bukan hanya mengikis kebugaran fisik, tetapi juga membuka pintu bagi berbagai penyakit kronis seperti obesitas, diabetes, penyakit jantung, dan gangguan metabolik lainnya.
Data dari World Health Organization (WHO) memperingatkan bahwa gaya hidup sedentary bertanggung jawab atas sekitar 2 juta kematian per tahun di seluruh dunia. Angka ini lebih tinggi dari kematian akibat beberapa penyakit menular yang selama ini menjadi sorotan. Namun ironisnya, bahaya dari kebiasaan pasif ini jarang menjadi prioritas dalam diskursus kesehatan publik.
Gaya hidup sedentary kini menjadi norma baru bagi generasi muda. Penelitian oleh Aulia et al. (2024) menunjukkan bahwa sebanyak 37,5% remaja usia 15-19 tahun memiliki tingkat aktivitas fisik yang rendah. Ini sejalan dengan temuan Etika et al. (2024) yang mencatat peningkatan signifikan angka gaya hidup sedentary dari 21,3% pada tahun 2013 menjadi 26,5% di tahun 2018, dengan kelompok usia remaja sebagai penyumbang tertinggi.
Kondisi ini diperkuat oleh temuan dari jurnal Ilmiah Kesehatan Masyarakat yang melakukan studi di SMPM Pamulangpada tahun 2019. Penelitian ini melibatkan 94 remaja putri dan menemukan bahwa 77,7% dari mereka hanya melakukan aktivitas fisik ringan kurang dari dua jam dalam sehari. Sementara itu, 17,7% menghabiskan 2-4 jam untuk aktivitas pasif, dan 5,3% bahkan lebih dari 4 jam. Meski tingkat obesitas yang tercatat hanya sebesar 10,63%, hal ini belum mencerminkan risiko laten lain seperti gangguan metabolik, stres kronis, dan penurunan kualitas hidup jangka panjang.
Fakta ini menunjukkan bahwa tubuh muda yang seharusnya aktif dan energik, justru terjebak dalam rutinitas pasif yang secara perlahan mengikis ketahanan fisik dan mental. Hal ini bukan hanya tanggung jawab individu, tetapi juga sistem sosial yang semakin permisif terhadap kenyamanan instan. Masalahnya bukan hanya malas, tapi sistemik. Pendidikan yang mengutamakan duduk berjam-jam di kelas, pekerjaan rumah digital, serta hiburan berbasis layar semuanya mendorong kebiasaan diam yang sulit dihindari. Bahkan banyak orangtua, guru, dan pembuat kebijakan belum cukup sadar bahwa gaya hidup anak-anak mereka diam-diam menjadi bom waktu kesehatan.
Ironisnya, dalam banyak konteks urban dan digital, gaya hidup sedentary sering kali disamarkan dengan kata “produktif”. Duduk di depan komputer selama delapan jam dianggap sebagai kerja keras. Menghabiskan waktu berjam-jam menonton seminar daring atau membuat konten dianggap sebagai upaya membangun masa depan. Tanpa disadari, tubuh kehilangan haknya untuk bergerak. Padahal, tubuh manusia tidak dirancang untuk diam. Dalam keadaan normal, aktivitas fisik membantu menjaga aliran darah, metabolisme tubuh, dan memperkuat sistem imun. Ketika gerak dibatasi, tubuh tidak hanya melemah, tetapi juga lebih rentan terhadap penyakit.
Jika tidak ditangani serius, gaya hidup sedentary akan menjadi salah satu penyumbang terbesar penyakit tidak menular di masa depan. Lebih buruk lagi, beban kesehatan akibat gaya hidup ini tidak hanya berdampak secara individu, tetapi juga sistemik meningkatkan biaya kesehatan nasional, menurunkan produktivitas kerja, dan memperpendek harapan hidup. Maka, perlu ada gerakan kolektif untuk menyadarkan masyarakat, khususnya generasi muda, akan pentingnya hidup aktif.
Pendidikan kesehatan harus memasukkan kesadaran akan risiko sedentary lifestyle sebagai bagian kurikulum. Sekolah dan lingkungan kerja harus mulai menata ulang struktur aktivitas agar lebih banyak ruang untuk bergerak. Media juga harus berperan aktif dalam kampanye anti-sedentary dengan menampilkan narasi yang membangun budaya hidup sehat, bukan sekadar mengejar kenyamanan.
Gaya hidup aktif tidak harus mahal. Jalan kaki 30 menit sehari, naik tangga alih-alih lift, bersepeda ke sekolah, atau sekadar peregangan tiap satu jam duduk sudah sangat berarti. Gerakan kecil ini bisa menjadi perubahan besar jika dilakukan bersama-sama.Gaya hidup sedentary mungkin terasa nyaman di awal, tapi diam-diam ia menyimpan potensi kehancuran. Di tengah dunia yang serba praktis, justru keberanian untuk bergeraklah yang bisa menyelamatkan generasi kita dari krisis kesehatan yang lebih dalam. Sudah saatnya kita keluar dari zona nyaman karena diam bisa jadi awal dari akhir.
Redaktur: Katrin Alina
Leave a comment