Home Cerpen “NAJIS”
Cerpen

“NAJIS”

Share
Ilustrator: Gaisha Putri

Oleh: Zahra Salsabilla

“Najis! Semuanya bernajis! Dimana tanah? Sabun? Aku ingin semuanya!”

“Najis, najis, dan najis”.

Baik saat siang maupun malam, Nila akan terus berteriak “najis” sambil mengelilingi rumah. Baik saat terjaga maupun tertidur, Nila akan terus berteriak “najis” sambil menggaruk-garuk tubuhnya hingga berdarah-darah. Lalu, ia akan secara tiba-tiba menangis histeris sambil mengorek-ngorek tanah di halaman belakang. Tidak lama setelah itu, ia akan mendekam di kamar mandi. Tanpa merasakan perih, ia gosok-gosok tubuhnya dengan tanah, juga berbotol-botol dan berbatang-batang sabun.

Sejak Nila mulai rajin berteriak “najis”, Ibu menjadi lebih rajin bersih-bersih, karena badannya terikut gatal-gatal mendengar kata “najis”. Seluruh tubuhnya akan berkedut dan keringatnya akan bercucuran. Mulanya hanya tangan yang gatal, perlahan menjalar sampai ke sekujur tubuh. Saat itu jugalah ia akan mulai berlari, melompat, dan berjongkok ke sana kemari membersihkan segalanya.

Seisi rumah menjadi ricuh hingga Ayah merasa tidak nyaman lagi saat membaca koran di teras. Tidak ada lagi pagi syahdu dengan secangkir kopi dan timbunan berita tentang kebobrokan orang penting yang membuat ia berpikir setiap harinya. Sekarang, hanya kata “kotor” dan istri yang mondar-mandir untuk bersih-bersih sebagai pengisi pagi yang dulunya syahdu.

Kelakuan aneh Nila ini pun tidak luput dari lirikan mata orang-orang yang tinggal bersebelah pintu dengan mereka. Setelah mereka melihat, liang telinga mereka akan terbuka lebar dan dalam, untuk mendengarkan setiap bunyi dari pintu sebelah. Dari telinga, bibir mereka akan memonyong ke satu sama lain sambil menguntaikan kalimat-kalimat tak berfakta sebagai bentuk hiburan di kala berkumpul ria.

“Perempuan gila!”

“Sepatutnya dimasukkan rumah sakit jiwa.”

“Kurasa ia kerasukan.”

“Ia perlu dirukiyah.”

“Dia sudah jauh dari agama!”

“Mereka sekeluarga sudah dikutuk!”

Untaian kalimat itu akan redam sendirinya jika mereka sudah berkumpul di gerobak tukang sayur setiap pagi bersama Ibu Nila. Mereka akan menampilkan senyuman serta simpati hangat yang fiksi. Mereka hanya ingin melemparkan kayu ke dalam tungku ego mereka sendiri. Tidak akan terasa asik bagi mereka jika tidak bermain peran barang sehari saja.

Semuanya berantakan. Tidak ada cara yang bisa dipikirkan oleh Ibu serta Ayahnya untuk menghentikan Nila. Bahkan berbagi pikiran pun bukannya memberi solusi, malah berakhir bersitegang dan pisah ranjang. Mereka akan saling diam sampai akhirnya kembali duduk dan bertukar pikiran lagi ketika Nila pingsan karena kelelahan.

Rutinitas semacam itu akan terus berulang, entah sampai kapan akan berhenti.

***

Lama tidak dianggap serius, Nila pun semakin menjadi-jadi. Teriakannya semakin lantang dan tangisnya semakin histeris. Dari pagi bertemu malam sampai malam bertemu pagi, ia tidak akan berhenti bertingkah sebelum ia pingsan. Tanah di halaman belakang tidak lama lagi akan tandas. Sabun di kedai akan ludes dan pemilik kedai akan tertawa-tawa sambil menghitung uang. Ayah-Ibu pun semakin sering bersitegang dan bisa terhitung jari berapa kali mereka tidur seranjang.

Nila perlahan semakin asing dengan dunia luar yang pernah akrab dengannya. Tidak pernah lagi ia menginjakkan kaki keluar rumah hingga banyak orang mulai mencarinya.

Teman-teman sekelompoknya selalu mengirimkan pesan bertubi-tubi ke nomor Whatsapp-nya, memintanya untuk segera menyelesaikan tugas bagiannya. Ketua organisasinya terus melayangkan pertanyaan-pertanyaan pada Nila karena tidak pernah terlihat datang dalam setiap kegiatan. Pelatih taekwondonya juga berulang kali menghela napas karena harus merelakan posisi calon atlet nasional Nila pada orang lain.

Petaka juga mencari-cari Nila. Para dosen sudah berancang-ancang untuk memberikannya nilai C atau D mutlak karena keabsenannya selama perkuliahan. Beasiswanya terancam putus karena gerakan ancang-ancang dari para dosennya. Kuliahnya mulai terbengkalai. Namun, dari semua hal tersebut, tidak pernah ada yang benar-benar mencarinya sampai sekarang.

Orang-orang sebelah pintu sudah merasa sangat terganggu dengan tingkah gila Nila. Mereka menjadi tidak sabaran hingga langsung menodong Ibu Nila dengan berbagai kalimat yang mencoba menjadi masukan dan nasihat pagi itu.

“Bu Nila, anak Anda sudah putus urat kewarasannya! Ada baiknya jika dia dibawa berobat,” seseorang berseru-seru pada Ibu Nila.

“Tidak. Mungkin saja ia kerasukan setan, Bu. Ibu sendiri kan tahu dia senang pulang malam-malam. Siapa tahu ketempelan,” seorang lagi menimpali dengan mimik geram.

“Bu, Ibu tidak bisa diam begini saja, Bu. Kasihan Nila. Kami juga jujur, terasa terganggu dengan tingkah Nila,” salah seorang pula menodongkan keluhannya.

Ibu Nila hanya bisa diam. Ia menolak dan ingin membantah, tetapi ucapan mereka terdengar hampir benar bagi dirinya. Pernyataan-pernyataan itu menumbuhkan gelisah semakin tidak karuan di hatinya, sehingga tepat saat sore hari tiba, ia dengan cepat menekan nomor di layar gawainya untuk menghubungi orang yang sekiranya bisa membantu Nila.

Orang yang Ibu Nila telepon pun datang pada malam harinya. Dia laki-laki. Tubuhnya tinggi dan tegap, rambutnya yang tipis panjang terikat. Entah mengapa ia memanjangkan rambutnya yang tipis itu. Ia tidak terlihat seperti karakter komik berambut panjang yang tampan. Lebih mirip seperti orang yang duduk di belakang sesajen, gemar menyembur-nyemburkan air dari mulut. Tampangnya tidak cocok dengan gelarnya yang ahli agama.

Ia duduk di ruang tengah sambil berkomat-kamit. Awalnya membaca selawat dan surah-surah pendek hingga panjang, tetapi lama-kelamaan ucapan yang keluar dari mulutnya tidak dapat dialih bahasakan. Tangannya melambai-lambai ke langit seperti hendak menggenggam sesuatu. Matanya terpejam erat. Sungguh lagaknya nampak profesional dengan apa yang ia lakukan.

Ia berjanji akan membantu. Ayah dan Ibu bernapas lega, tetapi Nila nampaknya tidak ingin dibantu. Semenjak lelaki itu menginjakkan kaki ke dalam rumah, ia menjadi histeris. Semua barang yang ada di dekatnya akan di lempar ke lelaki itu.

“Najis! Najis! Usir dia dari sini! Aku jijik melihatnya!” Vas bunga di rumah pun terlempar, terkulai di lantai dan disusul satu vas lainnya.

Perilaku Nila sangat tidak sopan terhadap tamu hingga kedua orang tuanya menguncinya di dalam kamar. Ia tidak berhenti. Ia masih berteriak-teriak dan melempari semua barang yang ada di kamarnya ke pintu. Lelaki itu mengangguk-angguk, lalu dengan langkah pasti, lelaki itu menggenggam tasbih dengan erat dan masuk ke dalam kamar. Ia berpesan kepada Ayah dan Ibu Nila untuk tidak masuk ke dalam kamar sampai ia keluar.

Pintu terbuka dan terkunci dari dalam. Dari luar, terdengar suara teriakan miris dari Nila. Ia terus memberontak dengan mengatakan “najis, najis, dan najis”. Hati kedua orang tuanya tersayat-sayat setiap kali suara Nila menggema di tiap dinding rumah. Cukup lama ia berteriak sampai akhirnya suara mereda dan kunci pintu berbunyi.

“Ia benar-benar dalam kondisi yang sangat buruk. Sangat buruk.” Ia menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Benarkah itu? Tolong bantu dia. Bantu dia!” Ibu Nila menangis sambil menepuk-nepuk dada.

“Nampaknya ia sangat jauh dari Tuhan hingga doa-doa jelek orang berefek padanya. Liliti badannya dengan pakaian panjang dan tutupi juga rambutnya. Jangan sampai ia keluar rumah dengan pakaian terbuka. Kurung ia di rumah. Jangan terlalu sering keluar apa lagi malam-malam. Ajarkan ia cara berbicara yang baik. Bacakan doa-doa dan suruh ia rajin berzikir. Dengan begitu, mungkin ia akan selamat. Saya akan sering datang ke sini untuk memantau Nila.”

Malam itu, Ayah dan Ibu Nila tidak henti-henti mengucap syukur. Akhirnya, anak mereka punya kemungkinan sembuh. Mulai saat itu juga, mereka pun semakin sering berzikir dan berdoa. Tidak lupa selalu mereka kurung Nila di kamar dengan menggunakan pakaian panjang dan kepala yang ditutupi. Mereka mulai berpikir untuk melarang Nila pulang malam-malam ketika ia sembuh nanti.

Pengobatan itu nampaknya berhasil. Tidak ada lagi suara teriakan, uang habis untuk sabun, dan ancaman tanah halaman belakang akan tandas. Ibu bisa bersih-bersih dengan tenang dan Ayah dapat membaca koran sambil minum kopi lagi di pagi hari. Semua tenang. Sangat tenang.

***

Ayah dan Ibu Nila sadar rasa tenang itu tidaklah lama. Semua itu hanya hening sebelum petaka. Tidak akan ada yang menyangka bahwa tenangnya Nila akan menimbulkan peristiwa dimana ia menggorok lehernya sendiri dengan pisau silet di dalam kamarnya. Melihat jasadnya saja sudah membuat semua orang bergidik.

Pakaian panjangnya sudah tidak lagi dikenakan. Rambutnya tergerai dengan lumuran cairan merah menempel di tiap helainya. Tubuhnya tertelentang di atas kasur yang sudah lembab karena darah. Lehernya tergorok dari telinga satu sampai ke telinga lainnya. Kedua pergelangan tangannya tersayat-sayat. Pisau silet itu … masih ada di dalam genggaman tangannya.

Hari itu Ayah dan Ibu Nila histeris. Para orang-orang sebelah pintu pun histeris hingga mulai kembali memonyongkan bibir.

“Dia benar-benar sudah jauh dari Tuhan!”

“Astaga, lihatlah akhir hidupnya yang menyedihkan! Bahkan neraka pun enggan menelannya.”

“Setan sudah mengambil alih dirinya!”

Lelaki yang mengobatinya terus-terusan menggelengkan kepalanya, merasa tidak percaya bahwa ia tidak berhasil menyelamatkan nyawa Nila. Matanya yang sayu akan terus menderaikan air mata ketika melihat tubuh Nila yang telah dibungkus kain putih. “Aku gagal! Aku gagal!” Ia akan terus mengatakan hal tersebut berulang kali sambil memegang tasbihnya erat-erat.

Sejak kejadian mengerikan itu, Ibu Nila semakin sering bersih-bersih di rumah. Dari pagi hingga malam ia akan berlari, melompat, dan berjongkok membersihkan segalanya. Tubuhnya menjadi gatal-gatal ketika mendengar kata “najis” dan ingin cepat-cepat berbersih. Ayah Nila pula tidak lagi suka duduk di teras saat pagi sambil menyesap kopi dan membaca berita kebobrokan orang penting yang membuatnya berpikir. Ia hanya duduk di kamar mendiang anak gadisnya sambil berpikir apa itu “najis”.

Si lelaki berambut tipis itu akan terus membakar satu per satu bajunya yang ada di lemari. Ia berkata, “Baju ini dilumuri najis. Harus kubakar semuanya.” Alasan yang aneh dan membuat orang menggaruk kepala. Namun, ia sama sekali tidak menganggap itu aneh. Ia terus membakar dan membakar semuanya hingga baju yang tertempel di tubuhnyalah yang tersisa. Asap mengepul setiap hari, membawa kabar bahwa semua yang ber’najis’ harus dibakar.

Redaktur: Fatimah Roudatul Jannah

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.