Home Tulisan Minimnya Komunikasi Keluarga dan Risiko Pergaulan Bebas di Sosial Media
Tulisan

Minimnya Komunikasi Keluarga dan Risiko Pergaulan Bebas di Sosial Media

Share
Kompasiana.com

Oleh: Syahla Nur Azizah

Suara USU, Medan. Pernahkah kamu merasa lebih nyaman untuk menyampaikan cerita melalui pesan singkat atau membagikan curahan hati melalui fitur cerita di Instagram, WhatsApp, atau bahkan Twitter dibandingkan berbicara langsung kepada orang tua? Jika iya, kamu tidak sendiri.

Saat ini, tidak sedikit remaja yang merasa lebih terbuka di media sosial. Mereka membagikan berbagai hal, mulai dari kisah percintaan, permasalahan pertemanan, dinamika keluarga, hingga kegelisahan pribadi. Namun, yang menjadi ironi adalah ketika berada di lingkungan rumah, komunikasi justru menjadi hal yang canggung. Ada rasa takut dimarahi ketika ingin bercerita, serta kekhawatiran disalahpahami atau dianggap berbohong. Akhirnya, media sosial menjadi tempat pelarian yang terasa paling aman dan nyaman.

Pada dasarnya, keluarga merupakan lingkungan pertama tempat seseorang belajar bersikap, memahami batasan, serta mengenal kasih sayang. Akan tetapi, tidak semua individu memiliki pengalaman demikian. Banyak keluarga yang anggotanya sibuk dengan urusan masing-masing, minim ruang untuk saling mendengarkan, dan interaksi yang terjadi terbatas pada hal-hal fungsional semata.

Ketika suasana rumah tidak memberikan kehangatan emosional, banyak individu terutama remaja mencari kedekatan secara emosional di tempat lain. Di era digital ini, media sosial menjadi ruang yang mudah diakses untuk hal tersebut. Di platform tersebut, seseorang dapat merasa diperhatikan, mendapatkan respons berupa tanda suka, komentar positif, atau dukungan dari sesama pengguna. Namun, di balik kenyamanan itu, terdapat pula risiko yang tidak dapat diabaikan, seperti paparan terhadap konten yang tidak layak, standar hidup yang tidak realistis, serta potensi pengaruh pergaulan bebas.

Media sosial sesungguhnya bukanlah tempat yang benar-benar aman. Saat membuka platform seperti Instagram, TikTok, atau Twitter, kita sering melihat unggahan dari sesama pengguna yang tampak menyenangkan, bebas, dan seolah-olah kehidupannya sempurna. Padahal, banyak dari mereka sesungguhnya hanya mencari perhatian, validasi, atau pelarian dari kenyataan hidup yang sedang dihadapi.

Lebih dari itu, tidak jarang keterbukaan di media sosial justru menjadi celah bagi pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab untuk melakukan tindakan manipulatif. Mulai dari rayuan yang mengarah pada hubungan seksual di luar batas, ajakan dari orang tidak dikenal yang mencurigakan, hingga eksploitasi yang berpotensi membahayakan.

Solusi mendasar dari permasalahan ini adalah komunikasi. Namun, yang dimaksud bukanlah komunikasi formal seperti dalam forum resmi, melainkan komunikasi dari hati ke hati. Cukup dengan saling menyapa, menanyakan kabar tanpa nuansa interogatif, serta menciptakan suasana yang mendorong keinginan untuk saling mendengarkan.

Bagi para orang tua, kini saatnya untuk membuka telinga dan hati lebih luas. Anak-anak masa kini hidup dalam realitas yang jauh berbeda dengan generasi sebelumnya. Ketika mereka tidak merasa aman untuk berbagi di rumah, mereka akan mencari tempat lain yang belum tentu lebih baik atau aman.

Media sosial memang dapat menjadi wadah untuk mengekspresikan diri, namun idealnya, rumah adalah tempat paling aman untuk menjadi diri sendiri. Jangan sampai kita tumbuh menjadi generasi yang mudah membagikan cerita kepada para pengikut di media sosial, namun kesulitan berbicara dengan keluarga sendiri.

Tidak mengapa apabila pada awalnya terasa canggung. Akan tetapi, mari kita berproses secara perlahan untuk saling hadir secara emosional. Sebab, di balik layar ponsel yang terang, ada banyak hati yang sebenarnya hanya membutuhkan pelukan hangat, bukan sekadar notifikasi.

Artikel ini adalah publikasi tugas mata kuliah Sosiologi Keluarga untuk Kesejahteraan Sosial dengan dosen pengampu Dr. Hairani Siregar S.Sos., M.SP. dan Dra. Berlianti, M.SP.

Redaktur: Indira Rivany

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.