
Oleh: Kezia Simarmata
Suara USU, Medan. Akhirnya, setelah lebih dari satu jam bergelut dengan riuh dan padatnya lalu lintas, ditambah perjuangan menahan kantuk di gerbong kereta, aku tiba juga di rumah. Dua kakiku menapaki lantai yang dingin, menjemput kehangatan yang selalu kutemukan di balik pintu itu.
Ibu berdiri di ambang pintu, matanya menelisik, menatapku penuh cemas.
“Ini sudah jam berapa, An?”
Namaku Antya, orang-orang memanggilku Tya tapi hanya ibu yang memanggilku An, singkatan yang sarat kasih. Aku anak tunggal, dan sejak Ayah tiada, hanya kami berdua yang tersisa di rumah ini.
“Jam sebelas, Bu,” jawabku lirih. Sembari mencium tangannya yang mulai keriput, aku menahan dengus napas. Lelah menjalari sendi-sendiku. Terlalu letih rasanya untuk beradu argumen di malam hari.
“Kamu kenapa, sih? Tiap Ibu kirim pesan, balasnya lama banget. Susah ya balas pesan dari orang tua sendiri?”
Nada suaranya tidak tinggi, tapi cukup tajam menusuk kelelahan yang belum sempat reda.
“Namanya juga banyak kegiatan, Bu. Aku ketua pelaksana acara, jadi ya sibuk.”
“Apa pun alasannya, Antya… Dulu Ibu ini prioritas kamu.”
Ah, kalimat itu. Kalimat yang belakangan ini sering ia ulang. Kalimat yang membuatku merasa seperti seseorang yang lupa jalan pulang.
Aku menarik napas panjang, mencoba menahan rasa. Mataku melirik ke arah dapur. “Bu, lapar…” rengekku, berharap suasana melunak.
Ibu menghela napas, tapi bibirnya mengulas senyum kecil. “Itu Ibu masakin takoyaki.”
Mataku langsung berbinar. “Asyik!” seruku, melangkah cepat ke dapur, diikuti tawa kecil Ibu yang menenangkan.
Kami melangkah ke dapur. Tempat itu, sesederhana apapun keadaannya, selalu menjadi altar kehangatan keluarga kami. Tempat di mana tawa dan tangis berbaur bersama aroma masakan. Ayah dulu sering duduk di sudut meja, menyuapi ibu candaan-candaan receh yang tetap bisa membuatnya tertawa. Kini tinggal aku dan ibu. Ayah sudah lama berpulang.
Dulu, aku dan ayah seperti sahabat. Dekat, hangat, dan penuh pemahaman. Bukan berarti aku tak dekat dengan ibu, hanya saj ayah lebih ringan menerima. Sedangkan ibu, seiring waktu sejak kepergian ayah, sepertinya lebih sering menjadi tembok yang harus kutabrak setiap hari.
Usai makan, aku merebahkan tubuh di kasur. Dompet yang tadi terselip di saku celana jatuh ke lantai. Sebuah foto terselip keluar. Foto kami bertiga aku, ayah, dan ibu. Mataku memanas. Aku yang memotret mereka saat kami menaiki bianglala. Saat itu usiaku masih sembilan tahun. Aku memegang kamera, berdiri di tengah, senyum kami membeku dalam bingkai usang.
Aku menarik selimut, mencoba tidur. Dan seperti biasa, mimpi lebih lembut daripada kenyataan.
Hari ini akhir pekan. Aku berjanji akan bertemu dengan teman-temanku. Kukenakan pakaian terbaikku, menaburkan parfum mint yang menjadi ciri khasku. Aku ingin merasa hidup, sejenak melepaskan beban dunia.
Aku melangkah ke ruang tengah, bersiap berpamitan.
“Aku izin keluar, Bu. Mau ketemu teman-teman,” ucapku seraya menyalami tangan Ibu.
“Mau ke mana, Nak? Bajunya itu lho ganti dulu,” komentar Ibu, menatapku dari kepala sampai kaki.
Aku menghela napas berat. Ini lagi. “Kenapa, sih, Bu? Harus banget kita ribut tiap hari? Masa soal baju aja jadi masalah?”
“Ih, kamu ini ya… Boleh kamu berpakaian begitu, An. Tapi inget, sekarang nafsunya laki-laki nggak bisa ditebak. Kita udah bener aja masih bisa jadi korban.”
Aku memandang Ibu, mataku tak kuasa menyembunyikan letih.
“Aku nggak harus mikirin nafsu orang terus, Bu. Jadi, aku nggak bisa bebas jadi diri sendiri cuma karena ketakutan yang bukan salahku?”
Tatapan ibu menajam. Dahinya mengerut. Aku tahu arah percakapan ini akan menuju jurang yang sama.
“Kita tinggal di Indonesia, Nak. Masih belum terbiasa dengan kebebasan yang kamu maksud. Ibu cuma takut kamu kenapa-kenapa.”
“An, kita tinggal di Indonesia. Negara ini belum bisa menormalisasi hal-hal seperti itu. Ibu cuma nggak mau kamu kenapa-kenapa.”
“Alasan ibu selalu sama…”
Aku melangkah kembali ke kamar, membanting pintu perlahan. Di dalam sana, aku menangis. Tidak marah, hanya sedih. Sedih karena jarak ini makin nyata. Dulu, kami bertengkar hanya soal menu makan malam atau warna baju. Kini, seakan segala hal tentangku salah di matanya.
Keesokan harinya aku dan teman-teman pergi ke sebuah instansi untuk observasi tugas kampus. Terlalu sibuk hingga lupa memberi kabar. Setelah ingat, aku buru-buru mengirim pesan.
“Ibu baru dari pasar,” balasnya.
Syukurlah, pikirku, beliau tidak marah. Kami sempat bertukar pesan, tapi terakhir kali aku membalasnya, tak ada jawaban lagi. “Ibu sedang masak,” tulisnya.
Aku melanjutkan tugas. Kegiatan kami cukup melelahkan. Seorang temanku bersikap menyebalkan, terlalu banyak menyuruh. Aku kesal. Biasanya, hal seperti ini akan kuceritakan ke ibu. Ia selalu mendengar, meski kadang menyelipkan nasihat yang menyebalkan juga.
Sore harinya, aku memutuskan untuk pulang naik motor. Jalanan ramai, tapi aku berhasil tiba di gang rumah. Tapi ada yang aneh. Dari jauh, aku melihat bendera kuning tergantung lesu. Jantungku berdegup tak karuan.
Siapa?
Tapi… aku hanya tinggal berdua dengan Ibu.
Langkahku makin berat. Di depan rumah, orang-orang telah berkumpul. Dadaku semakin sesak. Wajah-wajah asing dan akrab. Pelukan demi pelukan mendarat di tubuhku yang kini seperti boneka kain, kosong dan rapuh.
Di dalam rumah, Ibu sudah terbaring namun bukan di tempat tidurnya. Bukan di sofa tempat kami biasa bercengkerama. Tapi di pembaringan terakhirnya.
“Ibu masuk rumah sakit tadi pagi, nak. Jatuh di kamar mandi. Jantungnya kambuh. Tadi tante yang balas chat kamu. Dia nggak mau nyuruh kamu pulang, katanya kamu pasti lagi sibuk…”
Semua runtuh. Tangisku meledak. Kakiku lemas, hatiku terkoyak. Ibu berbaring dalam peti kayu yang sangat kubenci. Tak ada lagi aroma teh hangat, tak ada lagi suara cerewetnya dari ruang tengah.
Dunia mendadak bisu.
Semua yang ingin kusampaikan pada Ibu, tak sempat lagi terucap. Semua perdebatan kami, kini menggema di kepalaku. Ia tak pernah berniat menyakitiku. Ia hanya ingin aku mendengarkannya sebab aku adalah satu-satunya alasannya bertahan.
Kini aku menatap kosong ke langit-langit kamar. Duduk diam dalam ruangan yang entah mengapa terasa lebih luas, lebih sunyi. Di atas meja, ada buku resep tulisan tangannya. Di dinding, foto kami bertiga masih tergantung. Tapi sekarang, hanya bayanganku yang berdiri di tengah.
Ibu, andai aku bisa memutar waktu, aku ingin menyimpan setiap kata-katamu, bahkan yang paling menyebalkan sekalipun. Aku ingin membalas setiap pesanmu lebih cepat, menatap matamu lebih lama, dan mendengarkan nasihatmu tanpa mengeluh.
Dulu aku pikir ibu hanya ingin mengatur. Kini aku sadar, ibu hanya ingin menjaga. Ia tahu dunia tak selalu ramah, dan ia ingin menjadi benteng terakhirku. Tapi aku sibuk membangun tembok di antara kami, hingga lupa bahwa ia satu-satunya rumah yang kupunya.
Air mataku jatuh. Bukan lagi karena sedih, tapi karena menyesal. Karena tak ada lagi waktu. Karena kini, selamanya pun tak akan cukup untuk membalas cintamu, Bu.
Ibu, maaf. Aku baru mengerti arti segalanya.
Jika waktu memberiku kesempatan hidup selamanya bersamamu, aku tahu, Bu…
Selamanya pun belum cukup untuk mencintaimu seutuhnya.
Redaktur: Jesika Yusnita Laoly
Leave a comment