Oleh: Rosani Margaretha Samosir
Suara USU, Medan. Sebab di ladang yang sempit itu, Ayah tidak sedang menabur benih jagung, ia menanam masa depan yang kini tercetak di atas selembar kertas.
Subuh di desa itu selalu sunyi. Kabut turun perlahan di antara pepohonan pisang, sementara embun menggantung di ujung daun dan udara dingin merayap masuk lewat celah-celah rumah kayu yang mulai rapuh dimakan usia. Di saat sebagian orang masih terlelap dalam sisa mimpi, seorang lelaki sudah berjalan menyusuri jalan tanah yang gelap dengan cangkul di pundaknya. Namanya Darma.
Tubuhnya kurus dan sedikit membungkuk, namun langkahnya pelan dan terbiasa. Seolah-olah jalan kecil menuju ladang itu telah menghafal suara sandal lusuhnya sejak bertahun-tahun silam. Tangannya kasar menyerupai kulit batang pohon tua dengan garis-garis keras yang memenuhi telapak tangan. Itulah jejak akibat terlalu lama menggenggam tanah, pupuk, dan harapan yang tak pernah pasti kapan akan tumbuh.
Ladang miliknya tidak luas, bahkan mungkin terlalu kecil untuk disebut menjanjikan. Hanya sebidang tanah di ujung desa yang saat hujan berubah menjadi lumpur lengket, dan saat kemarau retak layaknya kulit yang kehausan. Tidak ada mesin modern ataupun pekerja lain di sana. Hanya ada Darma, cangkul tuanya, dan langit yang setiap hari menyaksikan perjuangan seorang ayah bertaruh melawan takdir hidup.
Namun, dari tanah sempit itulah ketiga anaknya dibesarkan. Uang sekolah dibayar, beras dibeli, serta obat-obatan, seragam, dan buku dipaksa tumbuh meski hasil panen sering kali lebih kecil daripada kebutuhan yang harus dipenuhi. Hidup mereka memang tidak pernah benar-benar cukup, tetapi Darma selalu berusaha memastikan keluarganya tidak merasa kekurangan terlalu dalam.
Ia jarang membeli sesuatu untuk dirinya sendiri. Kemeja yang dipakainya telah pudar warnanya hingga sulit membedakan antara biru dan abu-abu. Sandalnya menipis di bagian tumit, bahkan payung yang selalu dibawanya saat musim hujan telah beberapa kali dijahit karena sobek diterpa angin sawah. Namun anehnya, anak-anaknya selalu memiliki buku baru saat tahun ajaran dimulai. Selalu ada uang untuk membayar ujian dan selalu ada nasi di atas meja, meski terkadang hanya ditemani garam dan sambal. Seolah-olah seorang ayah memang diciptakan dengan kemampuan untuk menyembunyikan lapar tanpa membuat keluarganya ikut merasa takut.
Darma bukan lelaki yang pandai mengungkapkan sayang. Ia tidak pernah memeluk anak-anaknya sambil mengucapkan kata-kata manis seperti adegan di televisi. Ia mencintai dalam diam melalui tubuh yang terus dipaksa kuat, melalui punggung yang rela terbakar matahari, dan melalui kaki yang tetap melangkah ke ladang bahkan ketika demam membuat kepalanya terasa sangat berat. Sayangnya, anak sulungnya yang bernama Raka tumbuh tanpa memahami hal itu.
Semasa kecil, Raka hanya mengenal ayahnya sebagai lelaki yang pulang membawa bau tanah dan keringat. Saat teman-temannya diantar ke sekolah dengan motor bagus dan ayah berpakaian rapi, Darma datang memakai sandal lusuh dengan ujung celana yang masih dipenuhi lumpur kering. Kadang Raka merasa malu. Ia membenci perasaan itu, tetapi ia tidak bisa menghindarinya. Ada masa ketika ia berharap ayahnya memiliki pekerjaan lain yang lebih bersih dan lebih membanggakan di mata orang-orang. Ia ingin bisa bercerita dengan bangga tentang profesi ayahnya tanpa merasa lebih kecil dibanding teman-temannya.
Namun, hidup selalu punya cara yang unik untuk membuat manusia mengerti. Suatu malam, hujan turun sangat deras. Angin mengguncang dinding rumah hingga lampu di ruang tengah berkedip-kedip lemah. Atap bocor di beberapa bagian, memaksa ibu mereka menaruh ember di lantai untuk menampung tetesan air. Darma belum juga pulang. Jam terus bergerak sementara hujan semakin menderu. Jalan menuju ladang pasti sudah berubah menjadi lumpur licin yang berbahaya.
Ibu mereka mondar-mandir di depan pintu dengan wajah cemas yang tak bisa disembunyikan. Ketika akhirnya Darma datang, tubuhnya basah kuyup dengan baju penuh lumpur dan napas yang terasa berat. Tetapi di tangannya, ia masih memeluk erat karung kecil berisi hasil panen seolah itu adalah sesuatu yang paling berharga di dunia. Malam itu, untuk pertama kalinya, Raka melihat ayahnya terbatuk lama hingga tubuhnya gemetar. Namun setelahnya, lelaki itu tetap duduk di lantai dapur untuk membantu ibunya menghitung uang hasil penjualan panen.
Jumlahnya tidak banyak, bahkan terlalu sedikit untuk kerja keras yang sedemikian rupa. Raka melihat ibunya diam-diam mengusap mata saat menghitung lembar demi lembar uang yang mulai kusut karena sering berpindah tangan. “Apa cukup?” tanya Ibu dengan suara lirih. Darma terdiam beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk kecil. Namun, Raka tahu ayahnya sedang berbohong demi ketenangan mereka.
Sejak malam itu, ada sesuatu yang berubah dalam diri Raka. Ia mulai memperhatikan hal-hal kecil yang selama ini luput dari pandangannya; tentang ayahnya yang selalu bangun paling pagi dan tidur paling akhir, tentang punggung yang semakin membungkuk setiap tahun, serta tentang napas yang kadang terdengar payah sepulang dari ladang. Raka sadar bahwa waktu diam-diam sedang mencuri kekuatan ayahnya sedikit demi sedikit.
Musim terus berganti. Kadang panen berhasil, namun terkadang gagal total karena hujan yang terlalu panjang atau hama yang datang tanpa ampun. Meski demikian, Darma tidak pernah benar-benar berhenti. Bahkan ketika tubuhnya mulai melemah, ia tetap pergi ke ladang seolah hidup tidak memberinya pilihan lain. Ia tahu bahwa di rumah ada anak-anak yang sedang tumbuh bersama mimpi mereka masing-masing, dan mimpi sering kali membutuhkan pengorbanan yang tidak kecil.
Tahun demi tahun berlalu hingga akhirnya Raka diterima di universitas negeri di kota. Pada hari pengumuman itu, tidak ada perayaan besar, kue, ataupun foto mewah. Hanya ada rumah kecil dengan udara sore yang tenang dan seorang ayah yang duduk lama di teras sambil memandang langit. Matanya merah dan tangannya gemetar saat memegang surat kelulusan anaknya.
Lalu untuk pertama kalinya dalam hidup, Raka melihat ayahnya menangis. Bukan tangisan keras, melainkan hanya air mata yang jatuh perlahan dari wajah seorang lelaki yang terlalu lama memendam lelah sendirian. Pemandangan itu terasa jauh lebih menyakitkan daripada apa pun bagi Raka. Di momen itulah, ia akhirnya memahami sesuatu yang selama ini gagal ia lihat.
Ayahnya tidak pernah benar-benar hanya menanam jagung atau cabai di ladang kecil itu. Yang ditanam lelaki itu selama bertahun-tahun adalah masa depan anak-anaknya. Setiap luka di telapak tangannya adalah harga dari pendidikan mereka. Setiap tetes keringatnya adalah jalan agar anak-anaknya bisa berjalan lebih jauh daripada dirinya. Tiba-tiba, ladang kecil di ujung desa itu tidak lagi terlihat sempit, karena dari tanah yang sederhana itulah, seorang ayah diam-diam sedang membangun harapan yang jauh lebih luas daripada langit.
Redaktur: Alya Nayla Sahirah
Leave a comment