
Reporter: Ardina Mendrofa
Suara USU, Medan. Di era serba digital, hanya butuh satu sentuhan jari untuk menembus jutaan layar dalam hitungan detik. Teknologi telah menciptakan ruang baru untuk berbagi informasi dan membentuk opini publik. Namun, dalam gegap gempita kemajuan ini, ada sesuatu yang perlahan terkubur di bawah gemuruh layar, yaitu empati. Kamera kini lebih sigap dari hati nurani, tragedi yang seharusnya mengundang duka dan solidaritas malah diperlakukan sebagai komoditas visual demi sensasi dan eksistensi. Bukan lagi soal peduli, melainkan soal siapa yang pertama mengabadikan dan menyebarkan.
Fenomena ini bukan sekadar gejala sosial, tetapi telah menjelma menjadi penyakit kolektif masyarakat digital. Budaya viral mencetak generasi yang mengukur empati dengan angka impresi dan mengutamakan validasi digital ketimbang nilai-nilai kemanusiaan. Ungkapan “kebelet viral sampai rasa kemanusiaan hilang” kini bukan sekadar kritik sosial, tapi potret menyedihkan dari kenyataan sehari-hari. Ponsel lebih cepat diangkat daripada niat untuk membantu, dan jari-jari lebih gesit menggulir layar daripada bergerak memberi pertolongan. Dalam masyarakat semacam ini, kemanusiaan bukan hilang karena lupa, tetapi karena sengaja disisihkan demi menjadi yang pertama tampil di linimasa.
Tanpa disadari, banyak individu telah larut dan menjadi aktor dalam lingkaran eksploitasi digital yang terus berulang. Tragedi tak lagi dipandang sebagai peristiwa yang memerlukan kepekaan, melainkan bahan konten yang dibagikan secepat kilat, lengkap dengan caption bernada simpati yang tak lebih dari kosmetik digital. Ironisnya, empati kini dikurasi layaknya estetika dan ditata rapi demi menaikkan jumlah pengikut dan citra pribadi. Dalam realitas ini, kepedulian berubah fungsi menjadi performa visual. Solidaritas tidak lagi hadir sebagai tanggung jawab moral, melainkan sekadar strategi konten yang disusun demi relevansi di linimasa. Aksi nyata kalah oleh narasi semu yang viral, dan nurani ditukar dengan algoritma.
Salah satu contoh paling menyayat dan mengiris hati adalah kasus penembakan Ilyas Abdurrahman di Rest Area KM 49 Tol Tangerang-Merak. Ilyas, seorang pemilik rental mobil, tewas saat berusaha mengambil kembali kendaraannya yang dibawa kabur penyewa. Namun, tragedi ini bukan hanya tentang keberingasan pelaku yang menarik pelatuk, yang lebih menakutkan justru adalah respons masyarakat di sekitarnya yang diam, pasif, dan apatis. Tak ada satu pun yang berinisiatif menolong, seolah nyawa manusia bukan lagi panggilan kepedulian, melainkan tontonan bisu. Sang anak, Agam, bahkan harus menelan pahitnya penolakan dari aparat Polsek Cinangka saat putus asa meminta bantuan. Ia juga sempat mencari pertolongan di SPBU terdekat, namun di sana pun tak ada tangan yang terulur. Yang bergerak justru kamera yang diangkat tanpa ragu, merekam tanpa empati. Inilah wajah buram masyarakat digital, di mana keberanian digantikan rasa takut, kemanusiaan dikalahkan egoisme, dan tragedi dijadikan latar belakang untuk konten.
Fenomena masyarakat yang lebih sibuk merekam tragedi daripada memberi pertolongan nyata adalah cerminan telanjang dari krisis empati yang telah mengakar dalam budaya digital. Tragedi yang semestinya menggugah solidaritas berubah menjadi panggung visual demi kepentingan personal untuk mencari eksistensi, likes, dan validasi semu di dunia maya. Lebih mengkhawatirkan lagi, batas antara kenyataan dan rekayasa semakin kabur. Banyak video insiden yang viral di media sosial ternyata merupakan hasil skenario palsu, sengaja diciptakan demi panen atensi.
Pada tahun 2023, AKBP Jhoni Eka Putra dari Ditlantas Polda Metro Jaya menyatakan, bahwa sejumlah kecelakaan lalu lintas yang beredar luas di media sosial ternyata direkayasa. Namun, yang lebih ironis dari temuan ini adalah mentalitas para pelaku baik saksi maupun pembuat konten yang secara sadar lebih memilih memburu viralitas daripada menjalankan tanggung jawab sosial, seperti melapor ke aparat atau memberikan bantuan. “Kasus dibuat viral soal kecelakaan, itu justru menyebarkan ke medsos, istilahnya diviralin. Tapi dia enggak membuat laporan,” ujar Jhoni dalam wawancaranya dengan pihak Kompas.
Situasi ini memperlihatkan sebuah pergeseran nilai yang sangat mengkhawatirkan, ketika tragedi dijadikan alat tukar demi validasi sosial, dan kemanusiaan dipinggirkan demi impresi digital. Budaya dokumentasi tanpa intervensi ini bukan hanya menunjukkan lemahnya kepedulian sosial, tapi juga membuka ruang bagi manipulasi realitas demi konten. Dalam masyarakat yang dikendalikan oleh algoritma dan jumlah likes, sering kali kebenaran dan keselamatan dikorbankan hanya demi membuat cerita yang menarik perhatian. Maka, bukan hanya teknologi yang harus dikritisi, tapi juga cara menggunakannya. Apakah sebagai alat bantu kemanusiaan, atau justru sebagai cermin dari kegagalan moral kolektif.
Dalih bahwa menjadi budaya merekam terlebih dahulu adalah untuk meningkatkan kesadaran atau agar cepat untuk ditindak sering kali menjadi pembenaran. Padahal, tanpa adanya tindakan nyata untuk menolong atau memberi dampak positif, rekaman yang ada tak lain hanyalah bentuk eksploitasi digital. Terlebih lagi, banyak dari konten viral tersebut justru memunculkan trauma baru bagi keluarga korban, mempermalukan salah satu pihak, atau bahkan mengganggu proses hukum. Tragedi berubah menjadi panggung tontonan, dan pelakunya bukan lagi hanya media, melainkan individu yang kini merasa berhak menjadi content creator atas nyawa dan luka orang lain.
Saatnya masyarakat kembali menilai nilai-nilai kemanusiaan yang terkikis oleh kebisingan digital. Merekam peristiwa bukanlah masalah jika dilakukan dengan pertimbangan etis, tapi saat tragedi dijadikan alat untuk mendapatkan likes, yang rusak bukan hanya jari yang menggulir layar, melainkan hati yang tak peka. Dalam dunia yang mengukur eksistensi lewat views dan followers, empati menjadi ilusi, dan rasa kemanusiaan dianggap hambatan untuk viral. Kamera tak hanya menangkap tragedi, tetapi juga mencerminkan kerusakan moral masyarakat yang tak merasa bersalah. Pendidikan digital tidak cukup hanya mengajarkan anti-hoaks, tetapi juga etika dalam merekam, membagikan, dan merespons konten. Regulasi penting, tetapi kesadaran kolektif jauh lebih mendesak. Menjadi saksi bukan alasan untuk diam, dan viralitas bukan pembenaran untuk mengabaikan. Jika terus menyalahkan teknologi, penderitaan akan terus dijadikan konten, sementara hanya mereka yang memiliki nurani yang akan benar-benar bertindak.
Redaktur: Fatimah Roudatul Jannah
Leave a comment