Reporter: Abdullah Umar Al Faruk
Suara USU, Medan. Yayasan Komunitas Keluarga Bersama Down Syndrome (KOMBUR DS) Medan, Sumatera Utara, menggelar perayaan Hari Down Syndrome Sedunia 2026 pada Minggu (03/05) di Aula Graha Prodia Medan. Kegiatan ini menghadirkan talkshow kesehatan sebagai upaya mengedukasi para orang tua agar lebih memperhatikan kesehatan anak.
Hari Down Syndrome Sedunia (World Down Syndrome Day/WDSD) diperingati setiap 21 Maret untuk meningkatkan kesadaran, mendorong inklusi, serta menghapus stigma terhadap penyandang down syndrome. Tanggal tersebut dipilih untuk merepresentasikan trisomi kromosom ke-21 yang menjadi penyebab down syndrome.
Mengusung tema “Bersama Melawan Kesepian”, kegiatan ini menekankan bahwa anak-anak down syndrome tidak sendiri dan membutuhkan pendampingan dari orang-orang di sekitarnya, terutama orang tua. Acara tersebut diharapkan menjadi wadah bagi para orang tua untuk memperoleh edukasi mengenai kesehatan serta tumbuh kembang anak.
Rangkaian acara diawali dengan pentas seni berupa fashion show yang diikuti seluruh anak down syndrome. Acara kemudian dilanjutkan dengan penampilan menyanyikan lagu “Ibu” oleh Sofiya, pembacaan puisi oleh Luqman, pertunjukan tari oleh Indira, serta penampilan lagu “Laskar Pelangi” dan “Pariban dari Jakarta”. Selanjutnya, salah seorang perwakilan orang tua KOMBUR DS memimpin doa bersama, kemudian seluruh peserta menampilkan tari Sinanggar Tulo. Pentas seni ditutup dengan pembacaan puisi oleh Rizki dan beberapa anak down syndrome lainnya.
Memasuki sesi inti, talkshow kesehatan menghadirkan narasumber Prof. Dr. dr. Siska Mayasari Lubis, M.Ked(Ped), Sp.A(K), dan dr. Ade Rachmat Yulianto, M.Ked(Ped), Sp.A. Dalam sesi tersebut, narasumber menjelaskan bahwa anak-anak down syndrome memiliki berbagai penyakit penyerta. Oleh sebab itu, orang tua diharapkan lebih peduli terhadap kesehatan anak sejak usia dini dengan rutin melakukan pemeriksaan kesehatan, mengawasi aktivitas anak, serta memperhatikan kesehatan saluran pencernaan mereka.
Ketua Yayasan KOMBUR DS Medan, Mastuana Sari, menjelaskan bahwa perayaan Hari Down Syndrome Sedunia merupakan salah satu program yayasan yang memiliki tujuan berbeda pada setiap kegiatannya. Fashion show, misalnya, bertujuan memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk menunjukkan talenta yang mereka miliki. Begitu pula dengan kegiatan bernyanyi, membaca puisi, dan menari yang menjadi bagian dari aktivitas keseharian mereka.
Dalam pelaksanaannya, kegiatan ini tidak selalu berjalan lancar karena terdapat berbagai tantangan. Salah satunya ialah mengajak para orang tua agar lebih terbuka menerima informasi mengenai pentingnya kepedulian terhadap kesehatan anak down syndrome. Menurut Mastuana, sebagian orang tua masih menganggap kondisi anak mereka baik-baik saja sehingga pemeriksaan kesehatan hanya dilakukan ketika anak sakit dan dibawa ke klinik atau dokter. Akibatnya, upaya pencegahan masih minim dilakukan.
Selain itu, tantangan lain yang dihadapi ialah pendanaan. Yayasan Komunitas Keluarga Bersama Down Syndrome merupakan komunitas nirlaba yang dikelola secara mandiri sehingga dana yang terkumpul dari para anggota akan kembali digunakan untuk kepentingan anggota.
Di sisi lain, selama sesi talkshow berlangsung, anak-anak down syndrome mengikuti berbagai kegiatan seperti bermain boneka, menggambar, melukis, dan mewarnai yang didampingi guru serta relawan. Suasana acara berlangsung aktif dan interaktif sehingga mampu mendorong kreativitas anak serta meningkatkan antusiasme para orang tua untuk bertanya kepada narasumber.
Setelah sesi talkshow selesai, acara dilanjutkan dengan pemberian cenderamata kepada para narasumber berupa hasil kerajinan karya anak-anak down syndrome. Kegiatan kemudian ditutup dengan sesi foto bersama.
Salah seorang orang tua berharap kegiatan serupa dapat lebih sering diselenggarakan agar tersedia ruang diskusi yang mampu meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap anak-anak down syndrome.
Redaktur: Lucy Kezia Simarmata
Leave a comment