Home Tulisan Bahaya Toxic Parenting terhadap Anak dalam Keluarga
Tulisan

Bahaya Toxic Parenting terhadap Anak dalam Keluarga

Share
Parentidia.com

Oleh: Nazhmud Duror Izdihar, Rahma Aisyah Br Barus

Suara USU, Medan. Keluarga adalah fondasi utama dalam pembentukan karakter dan moral anak. Setiap keluarga memiliki cara pengasuhan yang berbeda, dan pola ini sangat berpengaruh terhadap perkembangan anak. Sayangnya, tidak semua pola pengasuhan itu bersifat positif. Ada yang disebut toxic parenting, yaitu pola asuh di mana orang tua tanpa sadar melakukan tindakan yang merugikan kesehatan mental anak. Ini bisa berupa kekerasan fisik, verbal, atau bahkan pengabaian emosional.

Toxic parenting adalah pengasuhan beracun, maksudnya yaitu pola pengasuhan yang dilakukan oleh keluarga, terutama orang tua, yang salah atau keliru. Dalam hal ini, orang tua tanpa sadar menjalankan pola asuh yang dapat melukai psikologis anak. Toxic parenting biasanya terjadi secara berulang seperti mata rantai. Orang tua yang melakukan toxic parenting bisa jadi merupakan korban dari pola pengasuhan yang sama dari orang tuanya terdahulu. Lama kelamaan, hal ini menumpuk dan tanpa sadar akan diteruskan kepada anak-anak mereka.

Toxic parenting sering muncul karena ketidakpahaman orang tua tentang cara mendidik yang baik. Mereka mungkin membandingkan anak dengan orang lain, memiliki harapan yang terlalu tinggi, atau terlalu mengontrol kehidupan anak. Semua ini bisa membuat anak merasa tertekan dan tidak mampu mengekspresikan diri. Dalam jangka panjang, dampak dari pola asuh ini sangat merusak, bahkan dapat menyebabkan gangguan mental dan masalah emosional yang serius.

Perlu diketahui, ciri-ciri orang tua yang melakukan toxic parenting antara lain menuntut anak untuk selalu menuruti keinginan mereka tanpa mempertimbangkan beban mental yang ditanggung anak. Sering meremehkan, menghina, dan mengkritik kemampuan anak juga menjadi ciri lain dari pola asuh beracun ini. Orang tua merasa anak tidak memiliki kemampuan untuk aktif di luar rumah, sehingga tidak terjalin hubungan yang baik antara anak dan orang tua. Akibatnya, anak tidak betah di rumah dan cenderung melawan orang tua.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan orang tua terjerumus dalam pola toxic parenting. Salah satunya adalah lingkungan sosial yang kurang mendukung. Banyak orang tua merasa tertekan untuk memenuhi ekspektasi masyarakat, sehingga menuntut anak-anak untuk mencapai hal-hal yang di luar kemampuan mereka. Selain itu, kurangnya komunikasi yang baik antara orang tua dan anak juga menjadi penyebab utama. Jika orang tua tidak mampu berkomunikasi secara efektif, anak akan merasa diabaikan dan tidak dipahami.

Kondisi sosial ekonomi juga berperan penting. Orang tua yang mengalami tekanan finansial atau merasa terisolasi dari dukungan sosial cenderung mengalami stres, yang pada akhirnya berdampak negatif pada pola asuh mereka. Dalam situasi seperti ini, anak sering kali menjadi korban dari ketidakmampuan orang tua dalam mengelola emosi dan stres.

Dampak toxic parenting terhadap perkembangan anak sangat berbahaya. Apa saja dampak yang muncul ketika anak berhadapan dengan toxic parenting?

Dampaknya sangat serius. Anak-anak yang tumbuh di lingkungan beracun dapat mengalami rasa ketakutan, kecemasan tinggi, dan merasa tidak aman di mana pun mereka berada. Anak-anak dalam lingkungan seperti ini kesulitan menjalin hubungan dengan orang lain dan merasa kesepian karena didikan yang mereka terima tidak sesuai harapan. Mereka juga bisa kehilangan tujuan hidup. Bahkan, toxic parenting dapat menyebabkan gangguan mental dan fisik seperti depresi, kecemasan, dan gangguan tidur.

Selain itu, anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan toxic akan kesulitan mengembangkan keterampilan sosial dan emosional. Mereka takut mengembangkan potensi karena khawatir memicu kemarahan orang tua. Akhirnya, bakat mereka terpendam demi menyenangkan orang tua. Dalam jangka panjang, toxic parenting bisa menyebabkan anak menjadi dewasa yang tidak percaya diri, sulit membangun hubungan yang sehat, dan berisiko tinggi mengalami gangguan mental dan fisik.

Sebagai anak, penting untuk mengenali tanda-tanda bahwa mereka berada dalam lingkungan toxic parenting. Apa saja tandanya? Beberapa di antaranya adalah orang tua yang kasar secara fisik atau verbal, tidak peduli, atau terlalu mengontrol. Orang tua toxic memiliki harapan tidak realistis, sering membandingkan anak dengan anak lain, sehingga anak merasa tidak percaya diri dan tidak mendapat dukungan. Orang tua seperti ini juga sering memberikan hukuman berlebihan dan mengabaikan kebutuhan serta perasaan anak, sehingga anak terus-menerus merasa bersalah dan tidak cukup baik di hadapan orang tua.

Apa yang harus dilakukan anak ketika menghadapi orang tua yang toxic?
Jika anak memiliki orang tua yang toxic, ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk menghadapi situasi tersebut:

  1. Tetapkan batasan yang jelas dengan orang tua. Ini penting agar anak bisa melindungi diri dari perilaku orang tua yang tidak sehat.

  2. Batasi kontak jika perlu. Jika interaksi dengan orang tua menyebabkan stres atau kecemasan berlebihan, maka membatasi kontak bisa menjadi solusi.

  3. Jangan memperburuk keadaan. Misalnya, dengan membalas perilaku toxic orang tua. Hal ini hanya akan memperkeruh suasana dan menambah tekanan psikologis. Lebih baik tetap tenang dan tidak reaktif.

  4. Cari dukungan dari orang lain. Jika merasa kurang mendapat dukungan dalam keluarga, carilah dukungan dari teman atau anggota keluarga lain. Mereka bisa menjadi tempat bersandar dan memberi semangat.

Sebagai orang tua, sangat penting untuk tidak menjadi toxic. Apa saja langkah yang dapat diambil agar tidak menciptakan pola pengasuhan yang merusak?

  1. Pahami kebutuhan dan perasaan anak. Jadilah orang tua yang peduli dan empatik, yang mampu mendengar serta memberi dukungan dan kasih sayang.

  2. Hindari memaksakan kehendak. Anak perlu ruang untuk memilih dan mengambil keputusan sendiri. Jika pilihan mereka kurang tepat, berikan arahan dengan bijak.

  3. Hargai usaha anak. Tidak hanya hasil, tapi juga proses yang mereka jalani. Ini dapat membangun kepercayaan diri dan semangat anak.

  4. Gunakan nada suara yang lembut. Dalam menasihati anak, nada suara yang tenang membuat mereka lebih terbuka dan tidak takut mencoba hal baru.

  5. Jangan mengungkit kesalahan masa lalu. Mengungkit kesalahan hanya akan membuat anak merasa bersalah dan kehilangan kepercayaan diri. Fokuslah membantu anak belajar dari kesalahan dan tumbuh menjadi lebih baik.

Kesimpulannya, toxic parenting sangat berdampak pada pertumbuhan, perkembangan, serta emosi anak. Oleh karena itu, penting bagi orang tua memahami tanda dan gejala dari pola pengasuhan ini, serta mengambil langkah untuk menghindarinya. Dengan menciptakan lingkungan yang positif dan mendukung, kita dapat membantu anak-anak tumbuh dan berkembang secara optimal, menjadi pribadi yang percaya diri, memiliki keterampilan sosial dan emosional yang baik, serta siap menghadapi tantangan hidup.

Artikel ini adalah publikasi tugas mata kuliah Sosiologi Keluarga untuk Kesejahteraan Sosial dengan dosen pengampu Dr. Hairani Siregar S.Sos., M.SP. dan Dra. Berlianti, M.SP.

Redaktur: Indira Rivany

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.