Home Sosok Benny Martjius, Menyuarakan Anti-Kekerasan Lewat Gaya Hidup Vegan
Sosok

Benny Martjius, Menyuarakan Anti-Kekerasan Lewat Gaya Hidup Vegan

Share
Sumber: Suara USU

Oleh: Nazirotun Nikmah & Anjali Simanjuntak

Suara USU, Medan. Benny Martjius, pemilik kafe Socrates Vegan, berbincang bersama kru Suara USU mengenai perjalanan hidupnya sebagai seorang vegan. Di usianya yang ke-65 tahun, ia telah menjalani pola hidup vegan sejak tahun 2000. Keputusannya berawal dari rasa tidak tega terhadap hewan yang disembelih untuk dikonsumsi. Baginya, memakan daging adalah hal yang menakutkan, apalagi jika makanan tersebut masih menyerupai makhluk hidup.

“Ketika kami mulai menjadi vegan, sangat sulit mencari makanan. Sebagian besar restoran menyediakan telur dan susu,” ujarnya saat ditemui di restorannya di Jalan Airlangga, Senin (5/5). “Jadi kami memutuskan untuk memasak sendiri. Namun, karena kami juga bekerja, akhirnya kami membuka restoran, menggaji orang untuk memasak, dan kami yang mengontrolnya.”

Meski bukan seorang koki profesional, Benny belajar memasak seiring waktu. Ia bahkan menjadi pembimbing bagi para koki yang sebelumnya bekerja di restoran non-vegan.

“Kami bukan ahli masak, tapi kami belajar. Para koki juga harus belajar karena sebelumnya mereka koki di restoran yang menyajikan daging,” jelasnya. “ Kami memberi tahu apa yang boleh dan tidak boleh digunakan.”

Menurutnya, memasak makanan vegan tidaklah sulit. Namun, ia enggan membagikan resep secara tertulis demi menjaga keunikan rasa setiap makanan.

“Memasak vegan itu mudah. Saya bisa mengajarkan, tapi jika memberikan resep tertulis, rasanya akan jadi duplikasi,” ujarnya. “Saya ingin setiap masakan memiliki cita rasa yang khas.”

Didirikan pada 2005, Socrates Vegan kini menjadi salah satu restoran berbasis nabati yang konsisten di Medan. Berlandaskan prinsip etika dan kesadaran lingkungan, restoran ini bertujuan mengedukasi masyarakat bahwa veganisme lebih dari sekadar pola makan.

“Saya berharap setiap orang memiliki kesadaran atas konsekuensi dari pilihannya. Orang menjadi vegan karena berbagai alasan, keluarga, lingkungan, gaya hidup, atau kesehatan,” kata Benny. “Namun sebenarnya, veganisme bukan hanya soal kesehatan, melainkan soal bagaimana kita bisa hidup selaras dengan alam tanpa menyakitinya.”

Benny juga menekankan bahwa veganisme mencerminkan nilai cinta kasih universal.

“Bagaimana kita bisa hidup selaras dengan makhluk hidup lain jika terus merusak mereka? Yang saya tawarkan adalah cinta kasih yang melampaui waktu dan keadaan, seperti itulah sifat Tuhan,” ujarnya.

Ia meyakini bahwa saat manusia menjaga energi positif dalam dirinya, alam pun akan merespons secara selaras.

“Jika kita menjaga energi positif, alam semesta akan selaras dengan kita. Jika belum bisa, kita bisa belajar. Segala sesuatu memiliki energi dan mampu menyebarkannya. Energi negatif menciptakan lingkungan yang buruk karena sifatnya menular.”

Melalui diskusi ini, Benny berharap mahasiswa dapat turut menyuarakan gerakan anti kekerasan dalam seluruh aspek kehidupan melalui gaya hidup vegan. “Harapan saya, kita terus menyuarakan anti kekerasan melalui veganisme. Karena veganisme bukan hanya soal makanan, tapi juga mencerminkan nilai-nilai kita sebagai manusia dalam, ucapan, tindakan, dan pikiran.”

Redaktur: Nisya Augia

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.