
Oleh: Marnala Tambunan
Suara USU, Medan. Target pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 8% pada tahun 2029 menjadi salah satu janji ambisius pemerintahan baru. Namun, melihat realitas ekonomi saat ini dan proyeksi ke depan, target tersebut tampak semakin sulit dicapai dan lebih dekat pada kategori mimpi daripada rencana yang realistis.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang melambat pada awal 2025 menimbulkan pertanyaan serius mengenai realistisnya target pertumbuhan 8% yang ingin dicapai pada tahun 2029. Berdasarkan dokumen resmi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia secara bertahap, dimulai dari 5,3% pada tahun 2025, lalu naik menjadi 6,3% pada 2026, 7,5% pada 2027, 7,7% pada 2028, dan akhirnya mencapai 8% pada tahun 2029. Target 8% ini merupakan puncak dari strategi pembangunan lima tahun ke depan. Namun, kondisi ekonomi saat ini dan proyeksi berbagai lembaga menunjukkan bahwa target tersebut sangat menantang.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, pada kuartal I tahun 2025, ekonomi Indonesia hanya tumbuh sebesar 4,87% secara tahunan (y-on-y), lebih rendah dibandingkan 5,11% pada periode yang sama tahun sebelumnya. Perlambatan ini terutama disebabkan oleh melemahnya konsumsi rumah tangga yang tumbuh hanya 4,89%, sedikit menurun dari tahun sebelumnya, serta investasi yang masih lesu. Konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang utama ekonomi dengan kontribusi sekitar 54,5% terhadap PDB, sehingga stagnasi di sektor ini sangat memengaruhi laju pertumbuhan ekonomi.
Selain itu, ketidakpastian global, termasuk ketegangan geopolitik dan perlambatan ekonomi negara mitra dagang utama, turut menekan ekspor dan investasi Indonesia. Meskipun ada perbaikan di sektor ekspor seperti komoditas CPO, besi, baja, dan mesin, tekanan eksternal tetap menjadi tantangan besar.
Berbagai lembaga internasional memberikan proyeksi yang cukup konservatif untuk pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam beberapa tahun ke depan. IMF memproyeksikan pertumbuhan Indonesia sebesar 4,7% pada 2025 dan 2026, turun dari proyeksi sebelumnya yang sebesar 5,1%. Bank Dunia juga memperkirakan pertumbuhan sekitar 4,7% pada 2025, naik sedikit menjadi 5% pada 2027. Proyeksi ini masih jauh dari target pemerintah yang ingin melihat pertumbuhan ekonomi mencapai 8% pada 2029 secara bertahap.
Target 8% bukanlah target untuk tahun 2025, melainkan target jangka menengah yang ingin dicapai secara bertahap selama lima tahun ke depan, dengan target tahunan yang meningkat dari 5,3% pada 2025 menjadi 8% pada 2029.
Apakah Target 8% Masih Mungkin?
Target pertumbuhan ekonomi sebesar 8% pada tahun 2029 yang dicanangkan oleh pemerintahan Presiden Prabowo Subianto merupakan salah satu janji ambisius yang menarik perhatian banyak kalangan. Meski penuh tantangan, sejumlah pakar dan politisi tetap meyakini bahwa target ini masih dapat dicapai, asalkan didukung oleh strategi pembangunan yang tepat, konsistensi kebijakan, serta sinergi yang kuat antara lembaga pemerintah dan pelaku ekonomi.
Wihadi Wiyanto, Anggota Komisi XI DPR RI, menekankan bahwa keberhasilan mencapai pertumbuhan 8% sangat bergantung pada penguatan sektor-sektor strategis dalam perekonomian nasional, khususnya hilirisasi dan pengembangan industri secara menyeluruh. Menurutnya, hilirisasi industri membutuhkan investasi besar yang mampu menciptakan lapangan kerja baru dan meningkatkan nilai tambah produk domestik. Selain itu, ia menyoroti pentingnya peran aktif kementerian teknis dalam mengawal program-program strategis nasional serta keterlibatan Kementerian Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) dalam memastikan implementasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) berjalan secara menyeluruh hingga ke tingkat daerah. Sinergi lintas kementerian dan adanya roadmap yang jelas serta terukur dalam lima tahun ke depan menjadi faktor utama dalam mewujudkan target ambisius ini.
Namun, tidak sedikit ekonom yang masih meragukan optimisme tersebut. Mereka berpendapat bahwa untuk mencapai pertumbuhan ekonomi sebesar 8% dalam waktu kurang dari lima tahun, diperlukan reformasi mendalam di berbagai bidang, termasuk hukum, politik, dan ekonomi. Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Mohammad Faisal, menilai bahwa meskipun Indonesia memiliki potensi untuk mencapai angka tersebut, lompatan pertumbuhan sebesar 3% dalam waktu satu hingga tiga tahun belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah perekonomian nasional. Hal serupa juga disampaikan oleh Direktur Institute for Demographic and Poverty Studies (IDEAS), Yusuf Wibisono, yang berpendapat bahwa pemerintah harus melakukan reformasi besar-besaran agar target tersebut benar-benar dapat terealisasi.
Selain tantangan internal, faktor eksternal juga menjadi perhatian utama. Ketidakpastian geopolitik, perlambatan ekonomi global, serta fluktuasi nilai tukar berpotensi memberikan tekanan tambahan yang dapat menghambat pencapaian target pertumbuhan. Oleh karena itu, penguatan daya beli masyarakat, perbaikan iklim investasi, serta peningkatan produktivitas menjadi langkah-langkah strategis yang harus dijalankan secara simultan.
Target 8% ini merupakan puncak dari strategi pembangunan lima tahun ke depan, tetapi jika tidak dibarengi dengan akselerasi reformasi struktural, capaian tersebut hanya akan menjadi angan-angan. Ketimpangan antara proyeksi pemerintah dan lembaga internasional menjadi sinyal peringatan bahwa pendekatan saat ini belum cukup menjawab kompleksitas tantangan ekonomi.
Ketidakpastian global bukan sekadar faktor luar yang harus ditoleransi, melainkan ujian nyata bagi ketahanan ekonomi nasional. Tanpa ketangguhan domestik yang dibangun dari fondasi kebijakan yang terukur dan konsisten, setiap lonjakan pertumbuhan akan rapuh dan tidak berkelanjutan.
Secara keseluruhan, target pertumbuhan ekonomi sebesar 8% pada 2029 memang bukanlah sesuatu yang mustahil. Namun, untuk mewujudkannya, diperlukan komitmen yang kuat, perencanaan yang matang, serta eksekusi kebijakan yang konsisten dari seluruh pemangku kepentingan. Tanpa reformasi struktural yang nyata dan sinergi antar sektor, target ini berisiko hanya menjadi sekadar retorika di tengah berbagai tantangan ekonomi yang ada.
Redaktur: Merry Agnus Dei Gultom
Leave a comment