
Oleh: Emmi Simatupang
Suara USU, Medan. Di balik semangat kolaborasi dan solidaritas yang diagungkan dalam kehidupan kampus, diam-diam ada racun sosial yang menyebar dalam sunyi crab mentality. Fenomena ini, meski tidak selalu terlihat jelas di permukaan, tumbuh subur di lingkungan pertemanan mahasiswa yang penuh tekanan dan ekspektasi sosial.
Secara sederhana, crab mentality merujuk pada perilaku sosial ketika seseorang enggan melihat orang lain berhasil. Alih-alih mendukung, mereka justru secara sadar maupun tidak sadar berusaha menjatuhkan, menghambat, atau menghalangi kesuksesan temannya. Fenomena ini dinamai demikian karena menyerupai perilaku kepiting dalam ember ketika satu kepiting mencoba keluar, yang lain menariknya kembali, sehingga tidak satu pun yang berhasil keluar.
Ironisnya, lingkungan kampus yang seharusnya menjadi ruang pertumbuhan bersama justru menjadi ladang subur bagi mentalitas ini. Mahasiswa sebagai agen perubahan dan calon intelektual masa depan ternyata tak luput dari rasa takut tertinggal, kecemasan akan kompetisi, dan keinginan untuk menjadi yang paling menonjol. Semua itu menciptakan ruang sosial yang tampak tenang di permukaan, tetapi penuh tekanan dan persaingan tak kasat mata di dalamnya.
Crab mentality dalam pertemanan mahasiswa biasanya muncul dalam bentuk yang sangat halus. Tidak ada kata-kata kasar atau serangan langsung, tetapi hadir dalam bentuk sinis yang dibungkus gurauan, respons dingin terhadap pencapaian teman, atau bahkan diam seribu bahasa saat teman mengalami pencapaian besar. Ada pula yang menyembunyikan informasi penting terkait kesempatan akademik atau karier agar tidak “disaingi”, serta merasa bangga ketika teman tidak berhasil dalam seleksi tertentu, seolah kegagalan orang lain menjadi pembuktian atas keunggulan dirinya.
Fenomena ini muncul karena adanya budaya membandingkan diri yang sangat kuat. Mahasiswa tidak hanya bersaing dalam hal akademik dan organisasi, tetapi juga dalam narasi sosial yang dibentuk media sosial. Ketika seseorang membagikan pencapaian mereka, yang muncul bukan lagi kebanggaan kolektif, melainkan rasa terancam. Di satu sisi, kita diajarkan untuk saling mendukung dan bekerja sama, tetapi di sisi lain, kita juga dituntut untuk selalu tampil unggul dan tak tertinggal. Ketegangan antara dua nilai ini menciptakan kondisi psikologis yang rawan bagi munculnya perilaku negatif.
Ketakutan akan tertinggal yang dikenal sebagai FOMO (fear of missing out) merupakan salah satu pemicu utama dari crab mentality. Dalam lingkungan kampus yang kompetitif, mahasiswa merasa harus terus bergerak maju agar tidak kalah dari yang lain. Namun ketika melihat temannya lebih dulu mencapai sesuatu, muncul rasa cemas dan minder yang tak terelakkan. Tanpa sadar, emosi negatif ini bisa berubah menjadi sikap tidak mendukung, atau bahkan menjatuhkan teman itu secara perlahan. Hal yang lebih mengkhawatirkan adalah bahwa perilaku seperti ini sering kali dibenarkan sebagai “bagian dari persaingan sehat”. Padahal, di balik topeng “biasa saja”, ia menyimpan luka dalam bagi korban yang mungkin kehilangan kepercayaan terhadap pertemanan dan lingkungan sosialnya.
Dampak dari crab mentality tidak bisa disepelekan. Mahasiswa yang menjadi korban bisa mengalami krisis kepercayaan diri, menarik diri dari lingkungan sosial, bahkan kehilangan motivasi untuk berkembang. Mereka merasa bahwa semakin tinggi mereka berusaha naik, semakin banyak tangan yang siap menarik ke bawah. Ini menciptakan suasana belajar yang tidak sehat di mana keberhasilan dipandang dengan curiga, dan kolaborasi digantikan oleh persaingan diam-diam. Dalam jangka panjang, hal ini merusak nilai solidaritas dan empati yang seharusnya menjadi dasar kebersamaan mahasiswa.
Lebih jauh lagi, budaya crab mentality di lingkungan kampus bisa berdampak pada masa depan mahasiswa itu sendiri. Dunia kerja tidak lagi sekadar menuntut individu yang unggul, tetapi juga mereka yang mampu bekerja dalam tim, membangun komunikasi, dan menunjukkan empati. Jika sejak awal mahasiswa terbiasa menjatuhkan satu sama lain, bagaimana mungkin mereka bisa menjadi pemimpin yang mampu membangun tim kerja yang harmonis dan kolaboratif? Sikap saling menjegal hanya akan melahirkan individu-individu yang tidak percaya pada kolaborasi, dan hanya mengandalkan taktik individualis untuk bertahan hidup.
Namun demikian, crab mentality bukan sesuatu yang tidak bisa diatasi. Pertama-tama, kita perlu mengakui bahwa kita semua, pada satu titik, mungkin pernah menjadi bagian dari siklus ini entah sebagai korban, pelaku, atau saksi yang diam. Mengakui keberadaan fenomena ini merupakan langkah awal untuk mengatasinya. Selanjutnya, kita perlu membangun budaya apresiasi yang sehat. Sudah saatnya kita belajar untuk benar-benar tulus dalam memberi ucapan selamat, memuji kerja keras teman, dan merasa bangga atas keberhasilan orang lain. Ini bukan hanya soal etika sosial, tetapi juga soal kesehatan mental kita bersama.
Menciptakan ruang aman bagi keberhasilan bukan berarti kita menekan semangat kompetisi. Justru sebaliknya, lingkungan yang suportif akan mendorong lebih banyak orang untuk berani bermimpi dan bekerja keras, karena mereka tahu bahwa keberhasilan mereka tidak akan dijadikan alasan untuk dijatuhkan. Solidaritas yang dibangun dari empati dan saling dukung akan melahirkan komunitas belajar yang sehat, kuat, dan berdaya saing tinggi.
Peran institusi kampus juga sangat penting dalam merespons fenomena ini. Dosen, pembina organisasi, hingga lembaga kemahasiswaan seharusnya tidak hanya fokus pada pencapaian akademik, tetapi juga aktif mendorong pembentukan karakter sosial mahasiswa. Program-program pelatihan kepemimpinan, pelatihan komunikasi empati, serta diskusi terbuka tentang kesehatan mental dan etika sosial perlu ditingkatkan. Mahasiswa perlu dibiasakan untuk melihat keberhasilan sebagai hasil proses, bukan sebagai ancaman. Mereka juga perlu dilatih untuk membangun resiliensi, agar tidak mudah runtuh saat melihat orang lain melaju lebih cepat.
Di sisi lain, media sosial sebagai medium yang memperbesar narasi pencapaian juga harus dihadapi secara bijak. Kita perlu membangun kesadaran bahwa setiap orang memiliki waktunya masing-masing. Hanya karena orang lain berhasil lebih dulu, bukan berarti kita gagal. Jalan kita mungkin berbeda, tetapi bukan berarti lebih rendah. Membandingkan diri secara terus menerus hanya akan menumbuhkan rasa minder dan dengki yang berujung pada kebiasaan menjatuhkan orang lain.
Yang tak kalah penting adalah keberanian untuk saling mengingatkan. Bila kita menyadari adanya teman yang mulai terjebak dalam sikap iri atau sinis terhadap keberhasilan orang lain, kita perlu hadir sebagai cermin yang ramah, bukan sebagai hakim. Sebab kadang, mereka pun tidak sadar bahwa mereka sedang menjadi bagian dari crab mentality. Dengan cara yang baik, kita bisa membuka ruang dialog, membantu mereka menyadari emosi negatif yang sedang mereka alami, dan mengarahkan mereka untuk merespons dengan cara yang lebih sehat.
Crab mentality adalah penyakit sosial yang tidak kasat mata, tetapi sangat merusak. Ia tidak hanya mengganggu hubungan pertemanan, tetapi juga mengikis integritas pribadi. Dalam jangka panjang, lingkungan yang dipenuhi dengan mentalitas ini hanya akan melahirkan individu-individu yang saling curiga, tidak mampu bekerja sama, dan kesepian di tengah keramaian.
Sebaliknya, ketika kita memilih untuk saling mendukung, maka keberhasilan orang lain bukan lagi ancaman, melainkan sumber inspirasi. Kita akan saling menguatkan, belajar bersama, dan tumbuh bersama. Kampus bukan lagi medan persaingan yang penuh kecemasan, tetapi menjadi taman belajar tempat semua orang memiliki ruang untuk berkembang.
Sebagai mahasiswa, kita memiliki tanggung jawab moral untuk mengubah budaya ini. Kita bisa memulainya dari hal kecil: memberi selamat dengan tulus, berbagi informasi kesempatan, tidak sinis terhadap keberhasilan orang lain, dan terus belajar mengelola emosi ketika merasa tertinggal. Kita mungkin tidak bisa menghapus crab mentality sepenuhnya, tetapi kita bisa memilih untuk tidak menjadi bagian darinya.
Jika kita semua memutuskan untuk berhenti menarik satu sama lain ke bawah, lalu mulai saling mendorong ke atas, bukan tidak mungkin satu per satu dari kita akan berhasil keluar dari “ember” dan bersama-sama mencapai permukaan.
Redaktur: Zahra Zaina Rusty
Leave a comment