Home Life Style Mengatasi Sindrom Platypus Di Era Modern
Life Style

Mengatasi Sindrom Platypus Di Era Modern

Share
Ilustrator: Erika Anggraini

Oleh: Shafira Amanda

Suara USU, Medan. Di dunia yang serba cepat dan penuh label, terkadang kita merasa seperti orang asing di tengah keramaian. Ketika ditanya, “kamu tipe orang yang seperti apa? Anak sains atau seni? Mempunyai skill di bidang apa? Ekstrovert atau introvert?” Akan tetapi, jika kita merasa berada di tengah-tengah atau tidak sepenuhnya di satu sisi pun? Inilah yang disebut platypus syndrom. Sindrom Platypus adalah kecenderungan seseorang melakukan banyak hal tetapi tidak satu pun yang benar-benar dikuasai dengan baik.

Istilah platypus syndrom diambil dari hewan platypus, hewan yang berasal dari Australia dan dianggap sebagai salah satu mamalia ikonik di dunia dengan ciri-ciri paruh seperti bebek, tetapi berekor dan berkaki seperti berang-berang. Platypus dapat berenang, dapat bertelur dan bisa menyusui anak-anaknya. 

Ahli zoologi, George Shaw adalah orang Barat pertama yang mendeskripsikan platipus. Pada tahun 1799, George Shaw mempelajari platipus ketika meneliti sampel satwa liar eksotis dari Australia. Dalam upayanya memahami hewan unik ini, Shaw bahkan sempat menduga bahwa platipus adalah makhluk palsu karena terlalu “campur aduk”. Namun nyatanya, platipus adalah nyata, unik, dan tetap hidup dengan caranya sendiri.

Keanehan platypus ini cocok untuk menggambarkan ketidakpastian di era modern saat ini. Kita hidup di zaman di mana banyak orang dipaksa untuk bisa segalanya. Menjadi seorang multitalenta tapi malah tidak tahu jati diri sendiri. Platypus, dengan segala keunikannya, bisa jadi simbol dari rasa bingung dan ambiguitas yang sering kita rasakan. Di tengah tuntutan untuk bisa segalanya tetapi,  tidak pernah jadi yang terbaik di satu hal pun.

Fenomena ini semakin sering terjadi di era modern. Tekanan dari media sosial, standar kesuksesan yang kaku dan tuntutan untuk “menjadi sesuatu” membuat banyak orang merasa tersesat secara identitas. Bahkan, tidak jarang orang merasa rendah diri hanya karena tidak tahu “mau jadi apa”.

Tekanan untuk mengidentifikasi diri dalam satu label tertentu seringkali menimbulkan kebingungan bagi mereka yang berada diantara kategori-kategori tersebut. Sering muncul pertanyaan dalam diri: Apakah ada yang salah dengan diriku karena tidak bisa memilih satu sisi? atau mengapa aku tidak sepenuhnya cocok dalam bidang mana pun? Hal ini dapat memicu insecure dan menghambat potensi diri untuk dapat berkembang secara utuh.

Namun, menjadi “platypus” di era modern ini, tidak menjadi hal yang dikhawatirkan karena posisi ini bukanlah sebuah kekurangan. Justru individu dengan sindrom platypus dapat belajar untuk merangkul keunikan mereka sebagai sebuah kekuatan. Kemampuan untuk melihat dunia dari berbagai perspektif, beradaptasi dengan berbagai situasi, dan memiliki pemahaman yang lebih luas merupakan aset yang paling berharga dari segalanya .

Berikut beberapa langkah yang dapat membantu kita mengatasi kecemasan label serta merangkul keunikan diri, yaitu:

  • Mencintai kemampuan yang dimiliki diri sendiri dengan menghargai kemampuan yang ada dalam diri. Sadar bahwa setiap skil yang dimiliki merupakan salah satu keunikan diri sendiri.
  • Mencari komunitas yang sesuai dengan orang-orang yang juga memiliki sindrom platypus  agar dapat saling memberi dukungan satu sama lain. 
  • Mempelajari dan mengeksplor hal-hal baru yang menarik minat tanpa takut dicap, jangan biarkan label tersebut membatasi diri sendiri.
  • Menjadi diri sendiri, hidup selaras dengan nilai dan keyakinan yang dimiliki.

Dengan demikian, sindrom platypus mengajarkan kita bahwa tidak masuk dalam kategori manapun bukanlah kegagalan. Justru ini adalah bentuk keunikan.

Seperti halnya platypus, hewan ini diakui sebagai makhluk yang luar biasa dengan beragam keunikan yang ia miliki. Oleh karena itu, kita pun perlu merayakan keunikan diri kita. Kita berada di era yang terus berkembang, kemampuan untuk beradaptasi, berpikir, dan membawa perspektif yang beragam menjadi semakin berharga. 

Jangan biarkan tekanan untuk memilih satu sisi yang dapat menghambat potensi yang dimiliki. Rangkulah sindrom platypus dalam diri, karena disitulah letak kekuatan dan keistimewaan diri. Jadilah versi terbaik dari diri anda, unik dan otentik. 

Redaktur: Katrin Alina

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.