Oleh: Ruth Jelita Laia
Suara USU, Medan. Di tengah riuh dunia yang menuntut kesempurnaan, kita sering kali terjebak dalam pusaran ekspektasi yang melelahkan. Sebuah lingkaran tanpa ujung yang memaksa kita untuk terus memahat diri demi memenuhi definisi kecantikan di mata orang lain. Lagu Who Says karya Selena Gomez menjadi pengingat sederhana namun bermakna. Lagu ini sebagai pernyataan tegas bahwa nilai diri seseorang tidak ditentukan oleh komentar orang lain serta sebagai bentuk perlawanan terhadap standar kesempurnaan yang semu, sekaligus pelukan hangat yang mengajak kita untuk merayakan diri apa adanya.
Dirilis pada 2011, lagu ini telah menjadi anthem kepercayaan diri yang konsisten bagi generasi muda. Lagu Who Says tidak hanya hadir sebagai produk musik pop, tetapi menjelma menjadi simbol nyata untuk menerima diri apa adanya. Pesan ini semakin relevan dengan realitas hari ini, di mana banyak remaja terjebak dalam krisis kepercayaan diri yang akut. Mereka merasa tidak cukup cantik, tidak cukup unggul, bahkan meragukan potensi unik mereka sendiri hanya karena terbentur oleh standar eksternal yang tidak realistis dan penuh tekanan. Di tengah gempuran ekspektasi tersebut, lagu ini hadir sebagai pengingat bahwa jati diri kita jauh lebih berharga daripada tuntutan sosial yang kaku.
Dalam konteks inilah, lagu Who Says kembali menemukan daya gaungnya. Lagu ini tidak sekadar menghibur, melainkan menyentuh ruang-ruang rapuh dalam diri pendengarnya. Ia seolah menjadi suara yang menenangkan sekaligus tegas, yang berkata bahwa kamu tidak perlu berubah hanya untuk diterima oleh dunia yang seringkali lupa cara menghargai keaslian.
Who says, who says you’re not perfect?
Who says you’re not worth it?
Who says you’re the only one that’s hurting?
Trust me, that’s the price of beauty
Who says you’re not pretty?
Who says you’re not beautiful?
Who says?
Penggalan lirik tersebut melempar tantangan langsung kepada pendengar yaitu mempertanyakan siapa sebenarnya yang memiliki otoritas untuk menentukan standar kesempurnaan dan harga diri seseorang? Melalui serangkaian pertanyaan retoris ini, Selena Gomez berhasil membalikkan keraguan menjadi kekuatan, serta mengubah rasa rendah diri menjadi keberanian untuk menerima diri seutuhnya. Lewat liriknya, lagu ini menanamkan keyakinan bahwa perbedaan atau keunikan bukanlah sebuah cacat yang harus disembunyikan di balik filter, melainkan sebuah identitas yang patut dirayakan. Pesan ini menegaskan bahwa menjadi berbeda adalah bentuk perlawanan paling jujur terhadap standar dunia yang kaku.
I’m no beauty queen
I’m just beautiful me
Kalimat sederhana itu menjadi deklarasi penerimaan diri. Dalam lagu, Selena menolak gagasan bahwa kecantikan harus mengikuti satu definisi sempurna. Tidak semua orang harus menjadi “Ratu kecantikan” yang identik dengan tubuh yang ideal, mata yang indah, pakaian glamor, dan citra yang sempurna hanya untuk merasa layak dan berharga. Menjadi diri sendiri, dengan segala guratan pengalaman dan keaslian yang ada, adalah bentuk kecantikan yang paling jujur dan murni.
Pesan ini mengingatkan kita bahwa keberagaman fisik dan karakter adalah kekayaan, bukan kekurangan yang harus diperbaiki.Lebih dari satu dekade setelah dirilis, lagu Who Says tetap relevan di tengah budaya yang sarat perbandingan. Ketika citra diri sering dikurasi agar terlihat sempurna, lagu ini hadir sebagai pengingat bahwa keunikan bukanlah kekurangan. Ia adalah identitas yang patut dirayakan. Di tengah dunia yang terus menghakimi, pertanyaan itu masih perlu kita dengar berulang kali:
Who says, who says you’re not perfect?
Who says you’re not worth it?
Who says you’re the only one that’s hurting?
Pada akhirnya, pesan paling kuat yang terus hidup dari lagu Who Says bermuara pada satu kebenaran sederhana namun sangat mendalam. Nilai diri tidak ditentukan oleh seberapa jauh kita bisa memenuhi ekspektasi lingkungan, melainkan dari keberanian untuk menerima seluruh aspek diri sendiri. Di tengah dunia yang tidak pernah berhenti menuntut lebih, berani berkata “Aku sudah cukup apa adanya” adalah bentuk penghargaan tertinggi bagi diri sendiri.
Redaktur: Rifatul Suaidah
Leave a comment