Home Kabar SUMUT Sihoda Rayakan 11 Tahun dengan Pertunjukan “Simalungun Menari”
Kabar SUMUT

Sihoda Rayakan 11 Tahun dengan Pertunjukan “Simalungun Menari”

Share
Sumber: IG @officialsihoda


Reporter: Muhammad Shalihul Amri

Suara USU, Pematangsiantar. Sanggar Simalungun Home Dancer (Sihoda) merayakan 11 tahun kiprahnya dalam dunia seni budaya dengan menggelar pertunjukan bertajuk Simalungun Menari pada Sabtu (10/3) di Tugu Sang Naualuh Damanik, Pematangsiantar. Acara ini menjadi bentuk selebrasi atas perjalanan panjang Sihoda dalam memperkenalkan dan melestarikan seni tari Simalungun, khususnya di kalangan generasi muda.

Pertunjukan dimulai dengan aksi menari tanpa henti selama 11 jam, sebagai simbol usia Sihoda. Meski diguyur hujan dan cuaca kurang bersahabat, kegiatan tersebut tetap berlangsung selama delapan jam penuh. Para penari menunjukkan semangat tinggi, membuktikan komitmen dan kecintaan terhadap budaya Simalungun.

Rangkaian kegiatan berlanjut pada malam hari, mulai pukul 19.00 hingga 21.30 WIB. Berbagai tarian tradisional Simalungun ditampilkan secara bergantian, antara lain Tortor Sombah, Tatasiari, Haloan Bolon, Tari Pematangsiantar, Medley Simalungun, Manortor, hingga Halibitongan. Tarian-tarian ini dibawakan oleh berbagai kelompok, mulai dari Sihoda Kids, kelas besar, hingga ibu-ibu Persit Kartika Chandra Kirana.

Keberagaman usia dan latar belakang para penari menunjukkan bahwa seni dapat menjadi ruang yang inklusif dan mempersatukan. Suasana makin semarak dengan penampilan musisi Zufentus Purba yang membawakan lagu tradisional Botou-Botou, menambah kekayaan nuansa budaya malam itu.

Puncak acara ditandai dengan pertunjukan drama tari Mararga yang mengisahkan perjalanan 11 tahun Sihoda, sejak berdiri hingga berbagai pencapaian yang telah diraih. Salah satu momen paling mengharukan terjadi saat para penari memberikan bunga mawar kepada orang tua mereka yang hadir di lokasi. Aksi simbolis ini menjadi ungkapan terima kasih atas dukungan yang diberikan selama ini. Suasana pun berubah haru, dan banyak penonton terlihat menitikkan air mata.

Dalam sambutannya, pendiri Sihoda, Laura Sinaga, menyampaikan apresiasi kepada para orang tua. “Tanpa dukungan orang tua, anak-anak ini tidak mungkin bisa tampil. Sihoda menjadi bukti bahwa seni bisa hidup karena ada cinta dan dukungan dari keluarga,” ujar Laura.

Ia juga menegaskan bahwa Sihoda lahir pada tahun 2014 karena rasa cinta yang mendalam terhadap tanah Simalungun. “Saya ingin membawa nama Simalungun agar tidak hanya dikenal oleh orang Simalungun saja, tetapi juga disukai dan dikenal secara nasional maupun internasional. Ahap, atau rasa cinta itu, harus dimiliki siapa pun yang berpijak di tanah ini,” tambahnya.

Acara ditutup dengan sesi menari bersama, sebagai simbol kebersamaan dan semangat kolektif dalam menjaga warisan budaya.

Redaktur: Jesika Yusnita Laoly

 

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.