Reporter: Ruth Jelita Laia
Suara USU, Medan. Tim delegasi Fakultas Hukum (FH) Universitas Sumatera Utara (USU) berhasil menembus babak delapan besar dalam Kompetisi Debat Penegakan Hukum Pemilu V Antar Perguruan Tinggi se-Indonesia Tahun 2025. Kompetisi ini diselenggarakan pada 24–29 November 2025 di Mercure Hotel Ancol, Jakarta Utara. Tim FH USU yang beranggotakan Dea Br. Bangun, Marasi Sinaga, dan Martinus Lature berhasil mengharumkan nama Universitas Sumatera Utara di tingkat nasional.
Kompetisi Debat Penegakan Hukum Pemilu V merupakan ajang bergengsi yang diselenggarakan oleh Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Republik Indonesia dan digelar setiap tahun. Kompetisi ini menjadi wadah bagi mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi untuk menampilkan gagasan, ketajaman analisis, serta komitmen terhadap penyelenggaraan pemilu yang berintegritas.
Tahun ini, kompetisi diikuti oleh 311 tim dari 244 universitas di seluruh Indonesia. Dari ratusan peserta tersebut, hanya delapan tim yang berhasil lolos ke babak delapan besar, yakni Universitas Sumatera Utara, Universitas Indonesia, Universitas Diponegoro, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Universitas Pelita Harapan, Universitas Trisakti, dan Universitas Airlangga.
Salah satu anggota tim, Marasi Sinaga, mengungkapkan bahwa proses persiapan dilakukan secara intensif, baik dari segi materi maupun fisik. “Persiapan materi disesuaikan dengan tahapan kompetisi yang terbagi ke dalam dua fase, yaitu tahap pembuatan dan presentasi karya tulis ilmiah (KTI) melalui video, serta tahap debat nasional,” ujarnya. Pada tahap KTI, tim melakukan riset mendalam sesuai topik yang ditentukan, sementara pada tahap debat nasional persiapan difokuskan pada penyusunan argumentasi dari posisi pro dan kontra.
Selain materi, persiapan fisik juga menjadi perhatian penting. Marasi menjelaskan bahwa rangkaian lomba berlangsung cukup panjang sehingga kondisi tubuh harus tetap prima. “Persiapan fisik juga tidak kalah penting, mengingat kompetisi berlangsung hingga dua bulan,” tambahnya.
Tantangan terbesar yang dihadapi tim selama persiapan adalah pembagian waktu antara perkuliahan dan kompetisi. “Membagi waktu menjadi tantangan utama karena kami tetap memiliki tanggung jawab akademik,” kata Marasi. Untuk mengatasi hal tersebut, tim menyusun skala prioritas dan berusaha menyelesaikan tugas perkuliahan lebih awal agar tidak berbenturan dengan agenda lomba.
Kompetisi Debat Bawaslu ini meninggalkan kesan mendalam bagi tim delegasi FH USU. Marasi menilai penyelenggaraan lomba berjalan dengan sangat baik, mulai dari opening ceremony, kesiapan teknis, tempat debat, hingga akomodasi dan pendampingan peserta oleh pihak Bawaslu. Kesempatan membangun relasi dengan mahasiswa terbaik dari berbagai universitas serta merasakan tekanan dan adrenalin di setiap pertandingan menjadi pengalaman berharga bagi tim.
Dari kompetisi ini, Marasi mengaku memperoleh banyak pelajaran, terutama mengenai pentingnya kepercayaan diri. Ia menegaskan bahwa mahasiswa tidak perlu merasa minder terhadap almamater lain. “Dalam dunia kompetisi, semua hal bisa terjadi,” ujarnya.
Ia juga berpesan kepada mahasiswa yang ingin mengikuti kompetisi debat agar bergabung dengan lingkungan yang mendukung, rutin berlatih, serta percaya pada kemampuan diri sendiri. Menurutnya, kompetisi pada akhirnya menilai kesiapan dan kompetensi peserta, bukan semata nama besar perguruan tinggi.
Redaktur: Merry Agnus Dei Gultom
Leave a comment