Reporter: Dhita Luna, Dinda Sajidah
Suara USU, Medan. Dua akademisi Fakultas Teknik (FT) Universitas Sumatera Utara (USU), Prof. Dr. Ir. Tulus Burhanuddin Sitorus, S.T., M.T., IPM. dan Dr. Eng. Ir. Taufiq Bin Nur, S.T., M.Eng., Sc., merancang strategi inovatif untuk meningkatkan performa mesin diesel sekaligus menekan emisinya. Hasil riset kolaboratif dari Ketua dan Sekretaris Program Studi Magister dan Doktor Ilmu Teknik Mesin FT USU ini telah dipublikasikan dalam Applied Energy, salah satu jurnal energi bereputasi internasional.
Gagasan penelitian ini lahir dari keresahan terhadap tingginya polutan berbahaya seperti NOx, CO, HC, CO2, dan partikulat akibat gas buang kendaraan berbahan bakar fosil. Di sektor industri, mesin diesel memang masih menjadi andalan karena efisiensinya yang tinggi serta dukungan infrastruktur yang sudah matang. Sayangnya, mesin jenis ini diakui sangat sulit untuk di dekarbonisasi.
“Tujuan penelitian ini sebenarnya mencari bahan bakar apa yang harus dipakai mesin diesel supaya efisiensinya tinggi, performansinya bagus, tapi emisi gas buangnya rendah,” ujar Prof. Tulus saat diwawancarai pada (01/05).
Menyikapi hal tersebut, keduanya mengkaji potensi pemanfaatan bahan bakar terbarukan seperti biodiesel, alkohol, hidrogen, dan amonia sebagai alternatif yang lebih ramah lingkungan. Dari hasil analisis, mereka menemukan fakta bahwa tidak ada satupun bahan bakar alternatif yang sempurna di segala aspek.
“Tidak ada bahan bakar alternatif yang unggul secara universal. Masing-masing ada keunggulan dan kekurangan,” jelasnya ketika membahas biodiesel, alkohol, hidrogen, hingga amonia sebagai alternatif bahan bakar diesel.
Untuk mengganti kelemahan bawaan dari tiap-tiap bahan bakar tersebut, riset ini menawarkan solusi lewat penambahan partikel nano (nano-aditif). Partikel berukuran sangat kecil ini bekerja efektif memperbaiki proses pengabutan (atomisasi) bahan bakar di dalam ruang bakar, sehingga reaksi pembakarannya menjadi jauh lebih optimal. Imbasnya, kadar CO dan hidrokarbon (HC) sukses ditekan hingga lebih dari 20 persen.
Secara garis besar, temuan ini menjadi semacam peta panduan bagi industri otomotif dalam merancang spesifikasi mesin masa depan. Riset tersebut menegaskan bahwa upaya membersihkan emisi mesin diesel tidak akan berhasil jika hanya mengandalkan satu teknologi tunggal. Mesin yang bersih dan efisien menuntut integrasi yang harmonis dari berbagai sistem, mulai dari racikan kimia bahan bakar, desain injektor, pengaturan gas buang (EGR), teknologi penyaring emisi (after-treatment), hingga sistem kontrol cerdas berbasis komputer. Perpaduan komprehensif inilah yang diproyeksikan mampu menciptakan generasi mesin diesel yang lebih irit, bertenaga, dan minim polusi.
Meskipun menunjukkan potensi besar dan sukses secara teoritis, jalan menuju penerapan massal di masyarakat nyatanya masih cukup panjang. Para peneliti masih memiliki pekerjaan rumah untuk mengkaji efek jangka panjang dari penggunaan nano-aditif terhadap keausan komponen injektor. Selain itu, uji coba lanjutan mutlak diperlukan pada mesin multi-silinder dengan kondisi beban di jalanan yang sesungguhnya.
Rencana pengembangan tingkat lanjut, seperti penerapan sistem kecerdasan buatan (AI) untuk mengatur rasio bahan bakar secara otomatis dan real-time, sebenarnya sudah disiapkan. Akan tetapi, langkah progresif ini terpaksa tersendat akibat terbatasnya dana riset dan kurang memadainya kelengkapan fasilitas laboratorium di kampus. Proses pengembangan inovasi sering terhenti atau mandek total karena peralatan vital yang rusak lebih sering dibiarkan terbengkalai tanpa adanya inisiatif perbaikan yang cepat.
Oleh sebab itu, beliau sangat berharap adanya dukungan pendanaan yang lebih serius serta peremajaan alat-alat laboratorium. Lewat perbaikan fasilitas penunjang tersebut, inovasi karya akademisi USU ini diharapkan tidak hanya sebatas menjadi naskah publikasi di jurnal internasional, melainkan dapat diproduksi secara nyata untuk membawa manfaat langsung bagi masyarakat dan lingkungan raya.
“USU sebenarnya sudah bagus, tetapi untuk kelengkapan dan perawatan peralatan laboratorium itu yang perlu ditingkatkan supaya mahasiswa, terutama S2 dan S3, bisa lebih maksimal melakukan riset dan eksperimen.” ungkapnya.
Redaktur: Rifatul Suaidah
Leave a comment