Home Kuliner Lempok Durian, Warisan Kuliner Legit dari Sumatera
Kuliner

Lempok Durian, Warisan Kuliner Legit dari Sumatera

Share
Sumber: Folklor.kosabudaya.id

Oleh: Ines Eliyana Br Ginting

Suara USU,Medan. Saat musim durian tiba, aroma khas buah berduri ini menyeruak dari pasar hingga ke pelosok desa. Di beberapa daerah di Sumatera, durian tidak hanya dinikmati langsung, tetapi juga diolah menjadi makanan khas bernama lempok durian. Sajian tradisional ini dikenal karena rasa legitnya yang melekat di lidah dan di hati. Lempok durian dapat ditemukan  di berbagai wilayah, seperti Bengkulu, Jambi, Bengkalis, Pekanbaru, Palembang, Bangka Belitung, Lampung dan Kepulauan Riau.

Secara sederhana, lempok merupakan olahan daging durian yang dimasak bersama gula dan sedikit garam selama berjam-jam hingga membentuk adonan padat menyerupai dodol. Berbeda dari dodol durian yang umumnya mengandung tepung ketan, lempok dibuat murni dari daging durian tanpa tambahan bahan pengisi. Hal ini membuat cita rasa dan aromanya lebih kuat dan autentik. Lempok memiliki tekstur yang kenyal, cenderung padat, dan tidak terlalu berminyak. Warna cokelat tua kehitaman menjadi ciri khas dari proses pemasakan yang panjang. Selain awet disimpan berbulan-bulan tanpa bahan pengawet, makanan ini juga memiliki nilai ekonomi tinggi, terutama jika menggunakan durian unggulan seperti durian tembaga atau montong lokal.

Lempok sangat digemari masyarakat Sumatera Selatan. Konon, makanan ini dulunya disajikan dalam berbagai acara adat, seperti pernikahan dan selamatan. Namun, seiring waktu, lempok durian menjadi camilan harian sekaligus oleh-oleh favorite. Tidak seperti camilan instan, proses pembuatan lempok membutuhkan kesabaran dan tenaga. Pembuatan dimulai dengan memilih durian yang benar-benar matang. Daging buah dipisahkan lalu dimasak bersama gula pasir dan garam di atas api kecil selama 3 hingga 5 jam. Campuran ini harus diaduk terus hingga mengental dan berubah warna menjadi cokelat tua. Setelah mencapai tekstur lengket dan berat, adonan dituangkan ke dalam loyang atau dibungkus plastik makanan. Beberapa perajin masih mempertahankan tradisi dengan membungkusnya menggunakan daun pisang kering.

Tebing Tinggi di Sumatera Selatan dikenal sebagai salah satu sentra industri rumahan pembuat lempok. Para perajinnya sebagian besar merupakan pelaku usaha turun-temurun. Mereka memulai proses dengan memisahkan daging dan biji durian, yang meskipun tampak sederhana, memerlukan ketelitian karena kualitas durian sangat memengaruhi hasil akhir lempok.

Meskipun banyak camilan modern bermunculan, lempok durian tetap memiliki tempat khusus di hati masyarakat. Bagi sebagian orang, lempok adalah rasa masa kecil saat musim durian tiba. Bagi yang lain, Lempok menjadi oleh-oleh wajib saat pulang kampung atau penawar rindu akan kampung halaman. Saat ini, lempok juga dipasarkan secara daring oleh UMKM lokal. Produk ini dikemas modern dalam toples kecil atau berbentuk permen blok, bahkan tersedia versi mini untuk camilan perjalanan.

Namun, eksistensi lempok durian tradisional kini menghadapi tantangan. Produk serupa dengan harga murah dan kualitas rendah mulai membanjir pasar. Beberapa di antaranya bahkan mengandung pewarna serta perasa buatan. Hal ini menjadi tantangan besar bagi para perajin untuk menjaga kualitas dan keaslian produk, serta bagu pemerintah daerah untuk mendukung pelestarian warisan kuliner ini.

Redaktur: Nisya Augia

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.