Oleh: Tania Renata Panjaitan
Suara USU, Medan. 08 Maret menjadi hari ketika perempuan di berbagai belahan dunia merayakan dirinya sendiri sekaligus sesama perempuan. Peringatan Hari Perempuan Sedunia bukan sekadar seremonial tahunan, tetapi juga momentum untuk kembali mengingat bahwa perempuan memiliki ruang dan peluang untuk berkembang melalui ambisi serta talenta yang dimilikinya. Keyakinan bahwa ambisi dan talenta selalu hidup dalam diri setiap manusia, khususnya perempuan, kembali mengingatkan pada kisah dalam film Little Women yang berlatar waktu 1860-an.
Film Little Women merupakan adaptasi dari novel klasik karya Louisa May Alcott. Film ini mengisahkan kehidupan empat perempuan bersaudara dari keluarga March yang tumbuh dalam suasana penuh kehangatan dan kesederhanaan. Meg March adalah anak sulung yang dikenal lembut dan rendah hati. Jo March digambarkan sebagai sosok perempuan idealis dengan ambisi yang kuat. Beth March adalah pribadi pemalu yang hidup dalam dunia musik, sementara Amy March merupakan si bungsu yang memiliki bakat artistik. Keempatnya dibesarkan dengan penuh kasih sayang oleh sang ibu, Marmee, sementara ayah mereka harus pergi berperang.
Film ini tidak hanya menggambarkan kehidupan keluarga March yang penuh kehangatan, tetapi juga memperlihatkan perjalanan masing-masing tokoh dalam menghadapi kehidupan ketika mereka beranjak dewasa. Little Women menyoroti bagaimana keempat saudari tersebut menghadapi perbedaan kepribadian dan berusaha mengejar impian hidup masing-masing.
Perbedaan karakter di antara mereka kerap memunculkan konflik dalam hubungan persaudaraan. Konflik tersebut muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari kesalahpahaman hingga persoalan percintaan yang melibatkan Jo, Amy, dan Laurie, tetangga sekaligus sahabat masa kecil mereka. Dinamika ini menambah kompleksitas hubungan di antara para tokoh sekaligus memperlihatkan bagaimana mereka belajar memahami satu sama lain.
Di antara keempat tokoh tersebut, karakter Jo March menjadi sosok yang paling banyak menarik perhatian penonton. Jo March dikenal sebagai sosok perempuan tomboi yang bercita-cita menjadi penulis. Karakternya digambarkan memiliki watak keras dan sering mempertanyakan batasan-batasan sosial yang diberlakukan terhadap perempuan. Bagi sebagian orang, sikapnya mungkin terlihat sebagai bentuk pemberontakan, terutama karena ia tidak mudah tunduk pada aturan yang membatasi jalan hidup perempuan.
Salah satu batasan yang ditolak Jo adalah keterbatasan akses perempuan dalam aspek ekonomi. Pada masa itu, perempuan sering kali sulit untuk mandiri secara finansial sehingga pernikahan dengan laki-laki dianggap sebagai cara utama untuk memperoleh stabilitas hidup. Melalui karakter Jo, film ini menunjukkan bagaimana perempuan berusaha keluar dari pola tersebut dengan mengejar impian dan kemandirian.
Selain persoalan ekonomi, Jo juga menghadapi stereotip gender ketika mengirimkan karya tulisnya kepada penerbit. Pengalaman tersebut memperlihatkan adanya keterbatasan dan stigma yang masih melekat pada perempuan. Ekspektasi sosial mengenai bagaimana seharusnya perempuan bersikap sering kali menjadi penghalang bagi perempuan untuk mengembangkan mimpi dan potensinya.
Gagasan mengenai perempuan yang memiliki ambisi dan talenta, bukan sekadar kecantikan, tergambar kuat melalui karakter Jo March dalam film Little Women. Hal ini terlihat dalam salah satu dialog yang cukup dikenal dalam film tersebut.
“Women, they have minds, and they have souls, as well as just hearts. And they’ve got ambition, and they’ve got talent, as well as just beauty. I’m so sick of people saying that love is all a woman is fit for.”
Melalui dialog tersebut, Jo March menegaskan bahwa perempuan tidak hanya dipandang dari sisi perasaan dan kelembutannya, tetapi juga memiliki pikiran, jiwa, ambisi, dan talenta. Cinta bukanlah satu-satunya hal yang layak bagi perempuan, sebab perempuan juga berhak bertumbuh dan berkembang di atas pijakannya sendiri tanpa harus bergantung pada orang lain demi stabilitas hidupnya.
Nalita, salah satu mahasiswi Ilmu Komunikasi Universitas Sumatera Utara, menyatakan bahwa ambisi dan talenta merupakan hal yang penting dalam kehidupan seorang perempuan. “Sangat amat penting karena menurut saya dengan adanya ambisi dan talenta hidup seorang perempuan tentu akan lebih terarah. Saya pribadi merasa ambisi yang saya miliki sangat berguna karena dengan adanya ambisi hidup saya seperti lebih ada tantangannya gitu. Menjadi perempuan yang memiliki banyak talenta juga menjadi tujuan saya karena saya rasa kalau perempuan bertalenta, perempuan akan semakin diakui dan perempuan akan menjadi lebih berani,” ucapnya.
Nalita juga mengungkapkan kesedihannya karena ruang bagi perempuan untuk menunjukkan ambisi dan talenta masih terbatas sehingga banyak kesempatan menjadi terlewatkan. Kondisi ini sejalan dengan stereotip yang dialami Jo March dalam mengejar mimpinya sebagai penulis, di mana perempuan sering menghadapi berbagai keterbatasan, keraguan, serta pandangan orang sekitar tentang bagaimana seharusnya perempuan bersikap. Menurut Nalita, pandangan tersebut terkadang mematahkan semangatnya untuk tetap fokus mengejar mimpi.
Namun dalam film Little Women, Jo March tidak menyerah pada ambisinya dan tetap mempertahankan mimpinya meskipun menghadapi berbagai keterbatasan. Sikap tersebut sejalan dengan pandangan Nalita yang mengatakan, “Dunia saja masih jahat pada perempuan yang berambisi dan bertalenta, apalagi kamu yang masih ragu untuk melakukan keduanya.” Ia juga berharap tidak ada lagi perempuan yang terjebak dalam stigma negatif tentang perempuan.
Seperti Meg March yang lembut dan hangat, Jo March yang tidak mudah menyerah, Beth March yang tulus, serta Amy March yang percaya diri dengan bakat dan keinginannya, setiap perempuan memiliki cara masing-masing untuk menjadi dirinya sendiri.
Perempuan memiliki kebebasan untuk mengekspresikan diri dan mengejar impiannya. Mereka tidak perlu ragu untuk berdiri di atas kaki sendiri dan menentukan jalan hidup yang diinginkan.
Pada akhirnya, kisah dalam film Little Women mengingatkan bahwa ambisi dan talenta perempuan layak untuk diakui. Di tengah dunia yang masih sering mempertanyakan ambisi perempuan, setiap perempuan tetap memiliki hak untuk merayakan dirinya sendiri dan menunjukkan potensi yang dimilikinya.
Redaktur: Debora Gracia Nauli
Leave a comment