
Oleh: Cynthia Ma
Suara USU, Medan. TikTok kini menjelma menjadi panggung baru bagi dunia pendidikan. Banyak guru dan siswa memanfaatkan platform ini untuk menyampaikan materi ajar secara singkat dan menarik. Di satu sisi, ini mencerminkan kreativitas dan adaptasi terhadap zaman digital. Namun di sisi lain, muncul pertanyaan penting: apakah semua bentuk hiburan layak dibawa ke ruang kelas?
Menurut data dari Campaign Indonesia yang diterbitkan pada Februari 2025, pengguna TikTok di Indonesia menghabiskan rata-rata 45 jam per bulan di platform tersebut. Dengan lebih dari 100 juta pengguna aktif, Indonesia mencatatkan waktu penggunaan TikTok tertinggi secara global. Ini menunjukkan bahwa TikTok memiliki daya tarik luar biasa di masyarakat, termasuk di kalangan pendidik dan peserta didik.
Namun, daya tarik ini membawa konsekuensi. Baru-baru ini, video unggahan akun TikTok @musikupdateid menunjukkan seorang guru memutar lagu viral “Aku Dah Lupa” di lapangan sekolah. Murid-murid SD tampak larut dalam suasana ceria, menyanyikan lirik tentang putus cinta dan move on: “Aku dah lupa, tak ingat lagi, nama kau pun hilang dari hati.” Lagu yang dinyanyikan oleh Zia dan Mikky ini memang populer di kalangan remaja, namun patut dipertanyakan kesesuaiannya untuk siswa sekolah dasar.
Berbagai komentar warganet pun bermunculan menanggapi video tersebut.
“Miris, orang tua sudah berusaha menghindari konten seperti ini, eh ternyata gurunya sendiri yang memperkenalkannya di sekolah,” tulis seorang pengguna TikTok.
Sementara itu, komentar lain bernada sindiran menyebut, “Wow … calon generasi cemerlang, Gini dong bagus, daripada bikin robot atau belajar teknologi gak ada manfaatnya ya. Hebat.”
Respons-respons ini menunjukkan bahwa masyarakat sebenarnya menyadari dampak negatif dari konten tidak layak di ruang pendidikan. Di lingkungan rumah, orang tua memegang peranan penting dalam mengawasi konten yang dikonsumsi anak. Namun, usaha tersebut bisa sia-sia jika di sekolah justru anak-anak diperkenalkan pada konten yang tidak sesuai usia.
Menurut data dari Kutest Kids, sekitar 30% pengguna TikTok berasal dari kelompok usia 5 hingga 7 tahun. Ini adalah kelompok usia yang masih dalam tahap pembentukan karakter dan pemahaman nilai. Jika mereka lebih banyak terpapar konten hiburan dewasa, bukan konten pembelajaran yang sesuai, maka tujuan pendidikan bisa melenceng.
Dan memang, konten edukasi bukanlah yang dominan di TikTok. Menurut Notta.ai, hanya sekitar 16,1% dari total konten yang diunggah di TikTok tergolong edukatif. Sementara itu, kategori hiburan menjadi yang paling populer, dengan lebih dari 535 miliar tampilan hashtag. Dominasi ini menunjukkan bahwa TikTok pada dasarnya adalah platform hiburan, bukan ruang utama untuk kegiatan belajar-mengajar.
Meski demikian, bukan berarti semua konten TikTok buruk. Beberapa guru kreatif berhasil menggunakan TikTok untuk mengajarkan konsep sains sederhana, tips belajar efektif, hingga membangun literasi digital siswa. Namun, praktik baik seperti ini masih kalah gaung dibanding konten hiburan viral yang lebih banyak menjual sensasi.
Kecenderungan membawa tren TikTok ke kelas menciptakan situasi di mana guru merasa harus menjadi entertainer agar didengarkan. Sulit dipahami bagaimana seorang guru bisa menganggap lagu bertema patah hati cocok dijadikan bahan literasi untuk anak SD. Ini bukan sekadar soal selera, tapi soal kepekaan pedagogis. Ketika seorang pendidik kehilangan nalar kritis dalam memilah konten, maka yang dipertaruhkan adalah arah pendidikan itu sendiri.
Padahal, sebagaimana ditegaskan oleh Dr. Daryanto dalam bukunya Implementasi Pendidikan Karakter di Sekolah (2013), pendidikan bukan sekadar soal menyenangkan siswa. Ia adalah proses pembentukan cara berpikir dan karakter yang membutuhkan kesungguhan serta arah yang jelas.
Pendidikan adalah ranah yang sakral dan terarah. Ia tak bisa didikte oleh algoritma media sosial yang mementingkan viralitas. Bukan berarti TikTok harus dijauhi sepenuhnya. Platform ini bisa menjadi media tambahan yang kreatif jika digunakan secara bijak dan terarah. Namun batas antara hiburan dan pendidikan harus dijaga dengan tegas. Jangan sampai, demi terlihat seru, kita kehilangan arah dalam mendidik generasi muda.
Alih-alih memilih lagu-lagu viral bertema patah hati yang belum sesuai usia, guru sebenarnya punya banyak alternatif yang lebih layak dan mendidik. Lagu-lagu nasional dan daerah, misalnya, bisa menjadi alternatif yang tak kalah menarik jika disajikan dengan cara yang kreatif.
Lagu seperti Tanah Airku karya Ibu Sud bisa menumbuhkan rasa cinta tanah air sejak dini. Lagu Garuda Pancasila dan Bangun Pemudi Pemuda juga sangat relevan untuk membentuk karakter siswa yang berjiwa nasionalis dan penuh semangat. Sementara itu, lagu daerah seperti Ampar-Ampar Pisang dari Kalimantan Selatan, Yamko Rambe Yamko dari Papua, atau Anging Mammiri dari Sulawesi Selatan, bisa mengenalkan keberagaman budaya sekaligus memperkaya wawasan kebangsaan anak-anak.
Menggunakan lagu-lagu ini bukan berarti membosankan. Guru bisa menyisipkan unsur tarian, permainan, atau visual menarik untuk membuat penyampaian lebih menyenangkan, tanpa mengorbankan nilai edukatifnya. Banyak sekolah di Indonesia yang berhasil membangkitkan semangat nasionalisme siswa lewat paduan suara lagu daerah atau pertunjukan seni berbasis budaya lokal. Inilah bentuk hiburan yang tetap mendidik dan relevan dengan dunia anak-anak.
Guru harus mampu memilah konten yang mendidik dan relevan dengan usia serta kebutuhan siswa. Ketika ruang kelas mulai menjadi panggung viral semata, nilai-nilai pendidikan yang seharusnya dibangun bisa tergantikan oleh euforia sesaat. Sebagai negara dengan pengguna TikTok terbanyak, Indonesia sepatutnya lebih bijak dalam menyikapi pengaruh platform ini, terlebih di sektor pendidikan yang menyangkut masa depan bangsa.
Redaktur: Muhammad Halim
Leave a comment