
Oleh: Rifatul Suaidah
Suara USU, Medan. Do it yourself (DIY) adalah metode membangun, memodifikasi, atau memperbaiki sesuatu sendiri tanpa bantuan langsung dari profesional atau ahli bersertifikat. Penelitian akademis telah menggambarkan DIY sebagai perilaku dimana individu menggunakan bahan dan suku cadang mentah dan setengah mentah untuk memproduksi, mengubah, atau merekonstruksi barang-barang material, termasuk yang diambil dari lingkungan alam (Wolf dan McQuitty, 2011). Menurut McKellar dan Sparke (2004), Frasa “do it yourself” telah menjadi penggunaan umum pada tahun 1950-an, yaitu mengacu pada munculnya tren orang yang melakukan perbaikan rumah dan berbagai proyek kerajinan dan konstruksi kecil lainnya sebagai kegiatan kreatif-rekreasi dan penghematan biaya.
Di zaman sekarang, aktivitas DIY (Do It Yourself) telah menjelma menjadi bagian dari gaya hidup yang diminati banyak orang. Peran internet dan media sosial sangat besar dalam perkembangan ini, karena memungkinkan siapa saja untuk dengan mudah menemukan berbagai tutorial dan ide kreatif yang menginspirasi. Salah satu daya tarik utama DIY bagi generasi Milenial dan Gen Z adalah kesempatan untuk mengekspresikan diri. Melalui proses membuat diri sendiri, mereka dapat menghasilkan karya yang unik dan mencerminkan kepribadian masing-masing. Lebih dari sekadar kegiatan kreatif, DIY juga sering dijadikan sarana relaksasi. Banyak orang merasa tenang dan lebih fokus saat melakukan aktivitas ini.
Menjadi mahasiswa di era sekarang bukanlah perkara mudah. Tuntutan akademik, tekanan sosial, hingga kebutuhan hidup yang terus meningkat, semua datang bersamaan tanpa kompromi. Di tengah harga kos yang semakin tinggi dan kebutuhan kuliah yang tak terelakkan, gaya hidup DIY bukan sekadar kegiatan iseng membuat kerajinan tangan. Bagi mahasiswa, ini bisa menjadi jalan pintas yang cerdas untuk meretas biaya hidup yang mencekik. Melalui kreativitas dan kemauan untuk belajar, seseorang mahasiswa bisa mengubah keterbatasan menjadi keunggulan.
Hal-hal kecil seperti membuat sendiri rak buku dari kardus bekas bukan cuma menghemat pengeluaran, tapi juga melatih kemandirian dan kacakapan hidup yang jarang diajarkan di bangku kuliah. Lewat DIY, mahasiswa belajar bahwa kenyamanan dan estetika bukan monopoli barang mahal, akan tetapi semuanya bisa diakali dengan ide, inovasi, dan sedikit keberanian mencoba dan memulai.
Lebih dari sekadar bertahan, gaya hidup DIY tidak hanya membantu mahasiswa bertahan secara finansial, tetapi juga membuka peluang bisnis yang menjanjikan. Aspek terpenting dari pendekatan ini adalah pembentukan mental kemandirian yang sangat dibutuhkan di tengah dunia yang penuh ketidakpastian. Mahasiswa yang terbiasa mengandalkan kreativitas untuk menyelesaikan masalah sehari-hari akan tumbuh menjadi individu yang tangguh, adaptif, dan solutif.
Nah, sobat Suara USU! Berikut beberapa tips menjadi DIY Hacker yang bisa dilakukan mahasiswa.
1. Mulai dari Kebutuhan Sehari-hari
Pengeluaran rutin yang dipangkas dengan membuat sendiri meliputi membuat minuman atau makanan favorit, serta memperbaiki barang yang rusak alih-alih membeli yang baru, sehingga mengurangi kebutuhan untuk pengeluaran yang tidak diperlukan.
2. Manfaatkan Sumber Daya Digital
Kurangi pengeluaran dengan belajar dari tutorial DIY gratis di YouTube, bergabung dengan komunitas DIY online, serta gunakan aplikasi untuk menemukan ide kreatif dan hemat biaya.
3. Transformasi Barang Bekas
Manfaatkan barang bekas dengan mengubah kardus menjadi rak buku, kain bekas menjadi totebag yang dikreasikan sendiri, serta botol plastik menjadi pot tanaman atau tempat penyimpanan. Hal tersebut dilakukan untuk mengurangi sampah.
4. Kreatif dalam Hidup Sehari-hari
Dekorasi kamar kos bisa dilakukan dengan bahan terjangkau seperti barang bekas yang disulap jadi hiasan, sementara aksesoris fashion unik dapat dibuat sendiri dari manik-manik atau kain sisa. Selain itu, meracik masker wajah alami dari bahan dapur seperti madu atau alpukat juga menjadi alternatif hemat untuk perawatan diri.
5. Kembangkan Potensi Bisnis
Identifikasi proyek DIY yang diminati banyak orang, mulailah menerima pesanan dari orang-orang terdekat dan lanjutkan dengan memasarkan produk buatan tangan tersebut melalui platform digital.
Hidup sebagai mahasiswa memang penuh tantangan ekonomi dan akademik. Namun, dengan mengadopsi semangat DIY sebagai filosofi hidup, setiap mahasiswa memiliki kesempatan untuk menjadi peretas yang cerdas dalam menghadapi kehidupan yang mahal. Kita tidak perlu menjadi kaya untuk hidup layak dan bermakna, cukup dengan menjadi kreatif dan inovatif. Mari kita semua menjadi DIY Hacker sejati yaitu individu yang berani menciptakan kenyamanan dan keindahan dari keterbatasan, sekaligus membuktikan bahwa hidup berkualitas tidak harus identik dengan pengeluaran yang besar.
Redaktur: Vimelia Hutapea
Leave a comment