Home Opini Mengikis Budaya Keterlambatan, Sebuah Tuntutan untuk Kehidupan yang Lebih Produktif
Opini

Mengikis Budaya Keterlambatan, Sebuah Tuntutan untuk Kehidupan yang Lebih Produktif

Share

Oleh: Nadira Arfan

Suara USU, Medan. Untuk anak-anak muda di era sekarang, istilah ‘ngaret’ merupakan salah satu bahasa gaul yang sering ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak tepat waktu atau terlambat sudah menjadi suatu kebiasaan buruk masyarakat Indonesia. Sifat tidak menghargai waktu ini tentu bukan sesuatu yang pantas untuk dibanggakan dan harus dirubah. 

Sebagian besar orang pasti pernah menghadiri suatu acara atau kegiatan yang dimulai tidak sesuai dengan waktu yang direncanakan. Baik pada acara formal maupun non-formal, keterlambatan dimulainya suatu acara sudah sangat sering ditemukan. Tidak terkecuali acara-acara di kampus yang melibatkan mahasiswa. Tak jarang pada saat waktu acara harus dimulai, baru sedikit peserta acara yang hadir. Hal ini menyebabkan panitia acara terpaksa menunda pembukaan acara untuk menunggu para peserta. Akibatnya, peserta yang hadir tepat waktu seolah “dihukum” menunggu lama sampai dengan acara dimulai. Kebalikannya, peserta acara yang terlambat tidak harus membuang waktu yang berharga hanya untuk menunggu acara dimulai. Apakah hal tersebut merupakan sesuatu yang adil?

Seringnya ditemui keterlambatan ini membawa racun bagi orang-orang yang tepat waktu. Karena sering “dihukum” menunggu lama, akhirnya malah ikut-ikutan untuk sengaja terlambat. Muncul anggapan “acaranya pasti bakal terlambat dimulai” yang menyebabkan makin banyak peserta yang datang tidak tepat waktu. Jika hal ini terus berlanjut, maka kebiasaan buruk ini akan terus mengakar di kehidupan kita sehari-hari.

Perubahan dimulai dari diri sendiri, kesadaran untuk menghilangkan kebiasaan buruk ini sudah sepatutnya dimiliki semua orang. Oleh karena itu, ayo mulai menghargai waktu. Mulai membiasakan diri untuk hadir setidaknya 10 menit sebelum waktu yang telah ditentukan atau disepakati. Jika semua orang dapat menerapkan kebiasaan tepat waktu ini, maka kegiatan yang akan diikuti dapat berjalan dengan lebih baik. 

Budaya terlambat ini tidak dapat dibiarkan, juga tidak sepantasnya dinormalisasikan. Daripada mencari-cari alasan untuk terlambat, lebih baik mengusahakan diri untuk tepat waktu. Seperti kemacetan yang sering dijadikan dalih untuk terlambat. Walaupun alasan kemacetan ini dapat dengan sangat mudah diantisipasi dengan berangkat lebih cepat.

Dengan menumbuhkan kesadaran untuk mengubah kebiasaan buruk terlambat ini, kita dapat menghilangkan salah satu budaya negatif di masyarakat. Sebagai mahasiswa, sudah seharusnya kita menjadi contoh dalam menerapkan kebiasaan tepat waktu ini. Mulai dari hadir di kelas serta mengumpulkan tugas tepat waktu, hingga kegiatan atau acara kampus lainnya.

Redaktur: Feby Simarmata

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.