Home Musik Nilai Moral dalam Lagu Tradisional Bali Ratu Anom
Musik

Nilai Moral dalam Lagu Tradisional Bali Ratu Anom

Share

Oleh: Fatima Az-Zahra

Suara USU, Medan. Ratu Anom merupakan lagu tradisional asal Bali yang sudah tidak asing bagi masyarakat Bali, terutama karena makna dan pesan yang terkandung di dalamnya. Lagu ini kerap diperkenalkan melalui jalur pendidikan dan kebudayaan. Bahkan, Ratu Anom juga sering dijadikan lagu pengantar tidur oleh masyarakat Bali karena lantunan melodinya yang menenangkan. Namun, masih banyak masyarakat yang belum mengetahui lagu Ratu Anom beserta pesan moral yang terkandung di dalamnya.

Ditinjau dari sejarahnya, lagu Ratu Anom diciptakan oleh Raja Denpasar VI yang juga dikenal sebagai sastrawan, yakni I Gusti Ngurah Made Agung atau Ida Cokorda Mantuk Ring Rena. Lagu ini merupakan salah satu karya sastra yang diciptakannya untuk disosialisasikan kepada masyarakat. Istilah Ratu Anom sendiri merujuk pada kaum muda dan masyarakat yang berada di wilayah Kerajaan Badung.

Dalam liriknya terdapat sejumlah kalimat yang ditujukan kepada masyarakat pada masa itu, salah satunya “Mailen ilen” yang berarti bangun dan sadar. Ungkapan ini mengandung ajakan untuk menumbuhkan kesadaran kolektif dalam membangun negara. Selain itu, terdapat lirik “Dong pirengin munyi sulinge di jaba” yang berarti ayo dengarkan suara suling di halaman. Kalimat ini dimaknai sebagai ajakan kepada masyarakat untuk mendengarkan informasi dari kerajaan yang disampaikan melalui karya sastra raja di puri atau keraton.

Pada bagian berikutnya terdapat kalimat “nyen ento menyuling di jaba tengah” yang berarti siapakah yang mengalunkan suara suling di halaman tengah. Kalimat ini berkaitan dengan lirik selanjutnya, yaitu “Gusti Ngurah Alit Jambe Pemecutan”, yang merupakan nama lain atau sebutan bagi penyampai informasi kerajaan. Kata Alit menunjukkan bahwa sosok tersebut merupakan raja pengganti. Pergantian kepemimpinan ini terjadi karena Raja Denpasar V wafat akibat sakit, sementara putra mahkota yang seharusnya menggantikannya masih berusia sangat muda. Oleh karena itu, melalui rapat kerajaan diputuskan penunjukan raja pengganti untuk memimpin Kerajaan Badung.

Latar sejarah tersebut menjadikan lagu Ratu Anom tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media penyampai pesan moral dan nilai kehidupan yang diwariskan secara turun temurun. Bagian bagian dalam lirik lagu ini dimaknai sebagai gambaran manusia yang belum sepenuhnya menyadari peran dan tanggung jawabnya, baik terhadap diri sendiri maupun lingkungan sekitar.

Secara keseluruhan, lagu Ratu Anom mengandung ajakan agar manusia senantiasa memiliki semangat dan bersikap produktif. Dorongan dalam liriknya untuk bangun dan memiliki kesadaran menjadikan lagu ini relevan untuk didengarkan oleh generasi muda sebagai pengingat pentingnya kesadaran diri dalam menjalani kehidupan sosial.

Dengan demikian, jika ditinjau dari aspek pendidikan, lagu Ratu Anom mengandung kiasan yang bersifat edukatif dan disampaikan secara tidak langsung. Sementara dari aspek budaya, lagu ini menjadi warisan budaya Bali yang memperkenalkan bahasa serta irama khas daerah tersebut. Oleh karena itu, lagu Ratu Anom tetap relevan dalam kehidupan masyarakat saat ini.

Redaktur: Alicia Reylina

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.