Oleh : Emmi Simatupang
Suara USU, Medan. Nepotisme kerap hadir sebagai isu yang dibicarakan setengah hati. Ia diakui keberadaannya, namun sering kali dinormalisasi sebagai “kenyataan hidup” yang sulit dihindari. Melalui buku Jejak Nepotisme: Mengurai Benang Kusut Ketidakadilan, pembaca diajak untuk tidak lagi memandang nepotisme sebagai praktik sepele, melainkan sebagai akar persoalan yang membentuk ketidakadilan struktural dalam berbagai aspek kehidupan sosial.
Buku ini tidak berdiri sebagai tuduhan kosong, melainkan sebagai upaya reflektif yang berangkat dari realitas sehari-hari. Penulis menempatkan nepotisme bukan hanya sebagai persoalan moral individu, tetapi sebagai mekanisme sistemik yang bekerja secara diam-diam dalam institusi pendidikan, dunia kerja, birokrasi, hingga ruang politik. Dalam kerangka tersebut, nepotisme digambarkan sebagai benang kusut yang saling terkait, sulit dipisahkan, dan terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Salah satu kekuatan utama buku ini terletak pada keberaniannya membedah nepotisme dari sudut pandang struktural. Ketidakadilan tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan dibentuk oleh sistem yang memberi ruang istimewa bagi mereka yang memiliki relasi, akses, dan kekuasaan. Sementara itu, individu yang memiliki kompetensi dan integritas sering kali harus tersingkir hanya karena tidak berada dalam lingkaran yang “tepat”. Buku ini menyoroti bagaimana kondisi tersebut melahirkan ketimpangan kesempatan yang semakin melebar.
Dalam dunia pendidikan, misalnya, nepotisme tidak selalu tampil dalam bentuk yang kasatmata. Ia dapat hadir dalam bentuk rekomendasi yang bias, peluang yang hanya berputar di kalangan tertentu, atau akses terhadap fasilitas yang tidak merata. Buku ini menunjukkan bahwa praktik semacam ini perlahan menggerus makna meritokrasi. Prestasi tidak lagi menjadi ukuran utama, melainkan kedekatan personal dan latar belakang sosial.
Tidak berhenti di sana, Jejak Nepotisme juga mengulas dampak jangka panjang praktik tersebut terhadap kepercayaan publik. Ketika masyarakat menyadari bahwa usaha dan kerja keras tidak selalu berbanding lurus dengan hasil, muncul sikap apatis dan ketidakpercayaan terhadap sistem. Buku ini menegaskan bahwa nepotisme bukan hanya merugikan individu yang tersisih, tetapi juga merusak legitimasi institusi secara keseluruhan.
Gaya penulisan buku ini cenderung lugas dan reflektif. Alih-alih menggunakan bahasa akademik yang berat, penulis memilih pendekatan naratif yang dekat dengan pengalaman pembaca. Contoh-contoh yang diangkat terasa akrab dan relevan, sehingga mendorong pembaca melakukan refleksi terhadap pengalaman pribadinya sendiri. Inilah yang menjadikan buku ini tidak hanya informatif, tetapi juga menggugah kesadaran.
Menariknya, buku ini tidak sekadar berhenti pada kritik. Penulis juga mengajak pembaca untuk memahami mengapa nepotisme begitu sulit diberantas. Faktor budaya, relasi kekuasaan, serta ketimpangan ekonomi menjadi elemen yang saling menguatkan. Dalam konteks ini, nepotisme dipahami sebagai gejala dari sistem yang timpang, bukan semata-mata kesalahan individu. Perspektif ini membantu pembaca melihat persoalan secara lebih utuh dan tidak terjebak pada penghakiman yang simplistik.
Namun demikian, buku ini tetap menegaskan bahwa pemahaman struktural tidak boleh menjadi alasan untuk pembiaran. Kesadaran kritis justru harus menjadi titik awal perubahan. Penulis mendorong pembaca, khususnya generasi muda, untuk berani mempertanyakan praktik-praktik yang dianggap “wajar”, tetapi sejatinya tidak adil. Perubahan, menurut buku ini, mungkin tidak instan, tetapi selalu dimulai dari keberanian untuk bersikap jujur terhadap sistem yang ada.
Dalam konteks Indonesia, relevansi buku ini terasa semakin kuat. Di tengah upaya pembangunan dan reformasi, isu nepotisme masih menjadi bayang-bayang yang menghambat terciptanya keadilan sosial. Jejak Nepotisme hadir sebagai pengingat bahwa kemajuan tidak hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi atau pembangunan fisik, tetapi juga dari seberapa adil sistem memberikan kesempatan bagi setiap warga.
Secara keseluruhan, Jejak Nepotisme: Mengurai Benang Kusut Ketidakadilan merupakan buku yang layak dibaca oleh siapa pun yang peduli pada isu keadilan dan integritas sosial. Buku ini tidak menawarkan solusi instan, tetapi memberikan kerangka berpikir yang jernih untuk memahami persoalan yang selama ini kerap diabaikan. Dengan pendekatan yang kritis namun membumi, buku ini berhasil membuka ruang dialog tentang nepotisme sebagai masalah struktural yang membutuhkan perhatian bersama.
Lebih dari sekadar bacaan, buku ini dapat menjadi cermin bagi masyarakat untuk menilai ulang sistem yang selama ini dijalani. Ia mengajak pembaca untuk tidak lagi diam, tidak lagi menganggap ketidakadilan sebagai takdir, serta mulai mempertanyakan praktik-praktik yang merugikan banyak orang. Dalam kesunyian benang-benang kusut itu, Jejak Nepotisme hadir sebagai upaya menarik satu per satu simpul menuju sistem yang lebih adil dan berintegritas.
Redaktur: Alicia Reylina
Leave a comment