Home Tulisan Perbedaan Peran Anak Sulung, Tengah, dan Bungsu dalam Keluarga
Tulisan

Perbedaan Peran Anak Sulung, Tengah, dan Bungsu dalam Keluarga

Share
Sumber: rawpixel

Oleh: Fatimah Azzakirah, Salsa Aurora Novanda

Suara USU, Medan. Dalam dinamika kehidupan keluarga, posisi kelahiran anak kerap dianggap memiliki pengaruh signifikan terhadap pembentukan karakter, pola pikir, hingga peran sosial anak di masa dewasa. Istilah “anak sulung,” “anak tengah,” dan “anak bungsu” bukan hanya sekadar label urutan kelahiran, melainkan juga konstruksi sosial yang membentuk identitas dan tanggung jawab individu di dalam sistem keluarga. Berangkat dari perspektif psikologi perkembangan dan teori komunikasi keluarga, kita dapat mengurai lebih dalam bagaimana perbedaan peran antara anak sulung, tengah, dan bungsu terbentuk dan mengapa pemahaman atas peran ini penting dalam konteks relasi sosial yang lebih luas.

Anak Sulung, Sang Pemikul Tanggung Jawab

Anak pertama atau anak sulung sering kali digambarkan sebagai sosok yang bertanggung jawab, mandiri, dan menjadi perpanjangan tangan orang tua dalam mengasuh adik-adiknya. Penelitian klasik Alfred Adler (1928) mengenai birth order menempatkan anak sulung sebagai figur yang cenderung perfeksionis, berorientasi pada prestasi, dan konservatif dalam pengambilan keputusan. Hal ini berakar dari pengalaman mereka menjadi satu-satunya anak yang pernah mendapatkan perhatian penuh dari orang tua sebelum kehadiran adik-adik mereka.

Setelah kelahiran anak kedua, anak sulung biasanya mengalami dethronement atau penurunan posisi eksklusif dalam keluarga. Namun kondisi ini justru membentuk pribadi yang lebih bertanggung jawab dan kompetitif. Dalam banyak budaya termasuk budaya Indonesia yang patriarkal, anak sulung (terutama laki-laki) juga memikul harapan sebagai penerus nilai, penjaga kehormatan keluarga, bahkan pengganti figur ayah jika terjadi disfungsi peran.

Anak Tengah, Sang Penjaga Keseimbangan

Berbeda dengan anak sulung yang sarat tanggung jawab, anak tengah sering kali menempati posisi yang lebih ambigu. Mereka tidak mendapat “kehormatan” sebagai anak pertama maupun “kemanjaan” sebagai anak terakhir. Inilah yang disebut sebagai middle child syndrome, yakni kondisi di mana anak tengah merasa kurang diperhatikan dan mencari identitas yang berbeda dari kakak atau adiknya (Salmon, 2003).

Namun posisi ini juga melahirkan keunggulan tersendiri. Anak tengah biasanya berkembang menjadi sosok yang fleksibel, diplomatis, dan memiliki keterampilan sosial tinggi. Mereka terbiasa menjadi penengah konflik dalam keluarga, menjembatani perbedaan sudut pandang antar saudara, serta membangun hubungan secara horizontal ketimbang vertikal. Banyak tokoh dunia seperti Martin Luther King Jr. dan Madonna adalah anak tengah yang menonjol karena daya adaptasi mereka terhadap lingkungan sosial yang kompleks. Dalam keluarga Indonesia yang sering kali tidak memiliki pola komunikasi simetris, anak tengah kerap menjadi mediator emosional yang tak terlihat namun sangat penting.

Anak Bungsu, Si Kreatif yang Dimanja

Anak bungsu acapkali diasosiasikan dengan keceriaan, kreativitas, dan keleluasaan dalam berekspresi. Karena menjadi anak terakhir mereka sering diperlakukan lebih lunak oleh orang tua. Perlakuan ini dalam beberapa kasus mendorong anak bungsu menjadi pribadi yang berani mengambil risiko, ekspresif, dan adaptif terhadap perubahan.

Penelitian oleh Eckstein et al. (2010) menyebutkan bahwa anak bungsu lebih cenderung memilih profesi yang kreatif dan berorientasi pada relasi interpersonal, seperti seniman, entertainer, atau public speaker. Hal ini disebabkan oleh kebebasan relatif yang mereka miliki dibanding saudara-saudaranya.

Namun, pola asuh yang terlalu permisif juga bisa berdampak negatif seperti kurangnya rasa tanggung jawab atau ketergantungan tinggi terhadap dukungan emosional keluarga. Oleh karena itu, meski anak bungsu cenderung lebih bebas, mereka tetap membutuhkan batas dan struktur yang sehat.

Struktur Keluarga dan Dinamika Sosial

Perlu digarisbawahi bahwa posisi kelahiran bukan satu-satunya faktor pembentuk karakter anak. Lingkungan, nilai budaya, pola asuh orang tua, serta pengalaman hidup turut memengaruhi perkembangan psikososial individu. Namun memahami dinamika urutan kelahiran dapat membantu keluarga dan masyarakat membangun relasi yang lebih sehat dan empatik.

Di era modern dengan jumlah anak yang semakin sedikit dan pola keluarga yang semakin beragam (seperti keluarga tunggal, keluarga tanpa anak, hingga keluarga patchwork), urgensi memahami peran anak dalam struktur keluarga menjadi semakin penting. Ketika peran-peran ini dipahami dengan bijak, keluarga dapat berfungsi sebagai ruang tumbuh yang adil dan menyeluruh bagi semua anggotanya terlepas dari posisi mereka lahir.

Mengasuh anak bukan hanya soal memenuhi kebutuhan fisik mereka tetapi juga menyediakan ruang yang setara untuk tumbuh dan berkembang sesuai potensi unik masing-masing. Anak sulung, tengah, maupun bungsu memiliki tantangan dan keunggulannya masing-masing. Kesadaran orang tua terhadap perbedaan peran ini bisa menjadi awal dari praktik pengasuhan yang lebih adil dan personal. Akhirnya keharmonisan keluarga terwujud bukan karena satu alat yang mendominasi, melainkan karena orang memainkan perannya dengan porsi yang tepat. Dalam keluarga, harmoni bukan soal kesamaan, melainkan kesalingan.

Artikel ini adalah publikasi tugas mata kuliah Sosiologi Keluarga untuk Kesejahteraan Sosial dengan dosen pengampu Dr. Hairani Siregar S.Sos., M.SP. dan Dra. Berlianti, M.SP.

 

Redaktur: Indira Rivany

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.