Oleh: Ruth Jelita Laia
Industri perfilman Indonesia belakangan ini seakan tak pernah berhenti memanjakan penonton dengan berbagai genre. Di tengah gempuran film aksi dan drama romansa yang penuh konflik pelik, hadir sebuah karya yang mencoba menyentuh sisi emosional paling dasar manusia, yakni film berjudul Ayah, Ini Arahnya Ke Mana, Ya?. Film ini bukan sekadar tontonan biasa, melainkan sebuah adaptasi menyentuh dari novel best-seller karya Khoirul Trian yang terbit pada 2024.
Melalui kepiawaian sang sutradara Kuntz Agus, Ayah, Ini Arahnya Ke Mana, Ya? menawarkan pengalaman sinematik yang kini semakin jarang ditemukan. Film ini mengajak penonton untuk sejenak “pulang” dan bernapas di tengah dinamika keluarga yang penuh akan kenangan kehilangan, kehangatan, serta pencarian arah sang anak dalam menghadapi kehidupannya.
Mengambil latar waktu kontemporer di sudut kota kecil Indonesia, Ayah, Ini Arahnya Ke Mana, Ya? segera mencuri perhatian para pencinta sinema. Keberaniannya menyajikan narasi tentang fenomena fatherless, yakni absennya figur ayah secara emosional meski hadir secara fisik menjadi sebuah keunikan baru yang menyegarkan. Di saat layar lebar didominasi oleh konflik yang meledak-ledak, film ini justru tampil sebagai alternatif yang sangat kontras dan memberikan ruang bagi penonton untuk melihat dunia keluarga tanpa distorsi beban pikiran orang dewasa.
Fokus utama cerita ini sepenuhnya bertumpu pada karakter Dira yang diperankan oleh Mawar Eva de Jongh. Dira digambarkan sebagai anak sulung yang tumbuh bersama sang ibu, Lia (diperankan Unique Priscilla), serta adiknya, Darin (diperankan Rey Bong). Mereka hidup di bawah bayang-bayang sosok ayah, Yudi, yang diperankan Dwi Sasono. Yudi masih hadir secara fisik sebagai seorang ayah, tetapi absen secara emosional.
Melalui kacamata anak muda, kita diajak untuk kembali menyelami momen-momen kehidupan keluarga yang mungkin sudah mulai terkubur di bawah tumpukan kesibukan era modern. Alur ceritanya sendiri sengaja dirancang untuk tidak berfokus pada konflik besar yang dramatis atau dibuat-buat. Sebaliknya, keunggulan film ini justru terletak pada peristiwa-peristiwa kecil, seperti rutinitas di warung Soto Bu Lia yang terasa sangat bermakna, hingga sebuah insiden tragis berupa ledakan kompor yang mengubah segalanya.
Keunggulan narasi film ini juga berakar pada kemampuan penulis naskah Kuntz Agus dan Oka Aurora dalam menangkap esensi pola pikir keluarga yang retak. Terkadang, cara bertahan seorang anak bisa jauh lebih tangguh dibandingkan orang tua yang sudah terlalu banyak berkompromi dengan realitas.
Kehidupan Dira adalah sebuah potret jujur tentang bagaimana memikul beban rumah tangga, cara bertanya tanpa rasa takut pada ayah, dan cara mencintai keluarga dalam bentuk yang paling rapuh. Kehadiran film ini seolah menjadi sebuah teguran halus sekaligus pengingat bahwa jauh sebelum hidup menjadi begitu rumit dengan berbagai urusan pekerjaan dan tanggung jawab, kita semua pernah merindukan “arah” dari sosok ayah yang sejati.
Secara teknis, Ayah, Ini Arahnya Ke Mana, Ya? sangat berhasil membangkitkan memori kolektif manusia melalui sinematografi apik oleh tim Kults Creative. Film ini memilih palet warna yang cenderung hangat dengan sapuan visual yang lembut, menciptakan kesan mendalam seolah-olah penonton sedang membuka album foto keluarga. Detail artistik seperti rumah sederhana warung soto dan perabotan sehari-hari digarap dengan presisi, semuanya dihadirkan untuk membangun atmosfer nostalgia emosional.
Salah satu aspek yang paling patut mendapatkan apresiasi lebih adalah penggunaan teknik pengambilan gambar yang konsisten pada posisi eye-level atau setinggi mata anak muda. Secara psikologis, pilihan teknis ini berhasil “memaksa” penonton dewasa untuk merunduk dan kembali merasakan dunia dari perspektif Dira yang terpaksa dewasa sebelum waktunya. Di posisi serendah itu, segala sesuatu di dunia keluarga tampak jauh lebih luas, lebih besar, dan penuh dengan misteri retakan yang menanti untuk dipecahkan. Rumah warung yang tenang digambarkan sebagai medan perjuangan emosional yang tak berujung bagi Dira.
Di tengah perjalanan cerita yang mengalir, terdapat satu fragmen yang terasa seperti jiwa dari keseluruhan film ini. Momen tersebut terjadi saat Dira dipaksa menghadapi rahasia keluarga setelah ibunya terluka parah, ia kemudian mempertanyakan “arah” dari ayahnya. Ungkapan hati seperti “Ayah, ini arahnya ke mana, ya?” bukanlah sekadar dialog, melainkan sebuah metafora kehilangan bimbingan yang sangat mudah dicerna. Melalui analogi tersebut, film ini berhasil menjelaskan bahwa setiap jarak emosional, sekecil apa pun, akan selalu menyisakan rasa tidak nyaman yang mengganjal dalam setiap langkah keluarga, kecuali jika ada keberanian untuk berkomunikasi dan saling memaafkan.
Meski demikian, sebagai sebuah karya seni, Ayah, Ini Arahnya Ke Mana, Ya? tentu tidak terlepas dari aspek-aspek yang memerlukan catatan kritis. Jika ditinjau dari sisi ritme dan tempo, film ini memang tergolong cukup lambat dengan gaya episodik yang berfokus pada momen keseharian. Bagi penonton yang terbiasa dengan struktur plot konvensional yang penuh klimaks tajam, gaya seperti ini mungkin terasa kurang menegangkan. Namun, kelemahan ini berhasil ditutupi dengan sangat baik oleh kualitas akting para pemerannya yang autentik, terutama Mawar de Jongh dan Dwi Sasono yang dapat membuat penonton tetap terikat emosional.
Kehadiran Ayah, Ini Arahnya Ke Mana, Ya? di layar lebar saat ini menjadi sangat krusial sebagai penyeimbang di tengah industri film nasional yang mulai terasa jenuh dengan formula itu-itu saja. Film produksi Five Elements Pictures yang telah tembus 1 juta penonton ini, menjadi bukti bahwa sebuah cerita sederhana tentang trauma antar generasi tetap mampu menyentuh relung hati jika dikemas dengan baik.
Di tengah kepelikan hidup modern, Ayah, Ini Arahnya Ke Mana, Ya? hadir sebagai ruang kontemplasi yang menenangkan. Film ini seolah mengajak kita untuk sejenak berhenti, mengambil napas panjang, serta kembali pada nilai-nilai komunikasi dan cinta keluarga yang tulus. Tayang sejak 9 April 2026, film ini layaknya sebuah pelukan hangat dan pengingat bahwa arah hidup sering ditemukan melalui pengampunan dan kebersamaan.
Redaktur: Muhassanah Nasution
Leave a comment