Home Film Menimbang Sisi Kemanusiaan Yang Terenggut Dalam Film “Selamat Ulang Tahun”
Film

Menimbang Sisi Kemanusiaan Yang Terenggut Dalam Film “Selamat Ulang Tahun”

Share

Oleh: Agnes Dhea Oktavia Sinaga

Suara USU, Medan. “Bagaimana perasaan Anda menjelang eksekusi?”Tidak menjawab pertanyaan yang pada tak masuk akal itu, Atika, seorang ibu tunggal yang akan dieksekusi, menatap kosong pewawancaranya. Yang di kepalanya hanyalah Nina, putri semata wayangnya, dan segala besitan kenangan baik dengannya.“Perasaan saya berantakan.” Itulah yang bisa keluar dari mulutnya sembari kepalanya memutar kembali saat Nina berulang tahun, kejadian lucu saat menjual baju bekas, hingga malam-malam sulit yang mereka lewati dengan menopang tangan satu sama lain.

Begitulah Film Selamat Ulang Tahun membuka dirinya kepada penonton. Tidak dengan ledakan emosi, pun tidak dengan musik yang menggurui, hanya tatapan kosong seorang ibu yang hampir seluruh jiwanya sudah pergi jauh sebelum eksekusi itu tiba.

Film pendek berdurasi 19 menit ini diproduksi oleh Lembaga Bantuan Hukum Masyarakat (LBHM) bersama CreativEight dan Doa Mama Pictures, dan dirilis tepat pada Hari HAM Internasional, 10 Desember 2025. Pilihan tanggal itu bukan kebetulan, sebab film ini lahir dari keresahan yang sudah lama diam-diam mengendap, bahwa dalam setiap perdebatan tentang hukuman mati, yang paling sering luput dari perhatian justru adalah manusia-manusianya, bukan pasal di berkas pengadilan.

Selamat Ulang Tahun terinspirasi dari kisah nyata, dari ketidakadilan yang benar-benar pernah terjadi dan meninggalkan bekas. Untuk memastikan pesan ini sampai seluas mungkin, film ini juga menyertakan penerjemah bahasa isyarat di sudut bawah layar sepanjang percakapan dalam penayangannya. Diperankan oleh Vonny Anggraini sebagai Atika (52 tahun), seorang terpidana mati yang tengah diwawancarai menjelang eksekusinya, dan Gayatri Dewi sebagai Nina (25 tahun), anak perempuan satu-satunya yang harus terus hidup setelah kepergian ibunya.

Di balik sesi wawancara itu, perlahan terungkap kisah Atika yang tertipu oleh hubungan asmara jarak jauh hingga tanpa sadar terjebak sebagai kurir narkotika. Sebuah kesalahan yang tidak ia rencanakan, namun harus ia bayar dengan nyawanya. Kejahatan dan persidangan tidak menjadi fokus utama yang diceritakan film ini. Yang dipilihnya justru potongan-potongan kecil kehidupan yang hangat dan manusiawi. Ulang tahun yang sederhana, tawa kecil di antara tumpukan baju bekas, tangan yang saling menggenggam di malam-malam yang berat. Dari serpihan itulah kita diajak memahami apa yang sesungguhnya direnggut oleh sebuah vonis mati.

Adegan singkat saat Nina sedang menulis skripsinya terlihat sedang menulis tentang praktik hukuman mati. “Bahkan negara Kanguru tersebut mengancam untuk melarang warganya yang berkunjung ke Indonesia apabila Indonesia tetap menerapkan hukuman mati,” sebut Nina dalam tulisannya. Kenyataannya, pemerintah Australia memang pernah dikabarkan melarang warga Australia untuk berkunjung ke Indonesia jika eksekusi hukuman mati untuk dua orang warganya yang terbukti bersalah tetap dilaksanakan. (detiknews, 14/02/2015).

Potongan adegan ini adalah sebuah ironi yang mengiris hati. Nina menulis tentang hukuman mati sebagai isu global sebagai abstraksi akademik, sementara di sisi lain, ia adalah seseorang yang paling tahu bagaimana rasanya hidup dalam luka kehilangan yang disebabkan vonis itu seumur hidup. Luka itu pun tidak hilang setelah eksekusi. Bertahun-tahun kemudian, Nina menjalani hidupnya seorang diri. Setiap kali tanggal kelahirannya tiba, ia memutar kembali rekaman wawancara terakhir itu, menjadikannya semacam ritual tahunan untuk merayakan sekaligus meratapi.

Kekuatan film ini terletak pada bagaimana ia dibawakan secara visual dan performatif. Setiap orang yang memerankan karakter menghidupi karakternya. Setiap helaan napas Atika di depan kamera jurnalis terasa seperti sesuatu yang sungguh-sungguh ditahan. Begitu pula Nina, dalam keheningan dan tangisnya, menyisakan sesak yang berat untuk ditanggung penonton. Pilihan sinematografi film ini mendukung hal itu sepenuhnya. Gambar-gambarnya terasa nyata dan dekat dengan kejujuran komposisi yang membiarkan wajah dan gestur berbicara tanpa banyak intervensi.

Dalam 19 menit, Film Selamat Ulang Tahun membawa pertanyaan yang besar tentang sistem hukum yang keputusannya tidak bisa ditarik kembali dan tentang siapa yang sesungguhnya menanggung beban dari keputusan itu. Ia mengajak kita duduk sebentar, membuka pikiran setiap orang yang menontonnya untuk berpikir dua kali tentang harga yang harus dibayar dari sebuah sistem hukum yang mengukur keadilan dengan kematian.

Redaktur: Rifatul Suaidah

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.