Reporter: Muthia El Istiqomah
Suara USU, Medan. Program Studi Kesejahteraan Sosial Universitas Sumatera Utara (USU) menghadirkan akademisi asal Maladewa, Assoc. Prof. Dr. Aminath Riyaz, dalam kegiatan kuliah umum pada Selasa (05/05). Kegiatan ini membahas pentingnya memahami kebahagiaan (happiness) dan kepuasan hidup (life satisfaction) di tengah modernisasi, pengaruh global, serta perubahan struktur sosial masyarakat.
Penelitian yang dilakukan Aminath diharapkan dapat relevan dengan kondisi Indonesia karena adanya kesamaan sebagai negara berkembang dengan dinamika sosial yang kompleks.
Acara dibuka oleh pembawa acara dan dilanjutkan dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya serta pembacaan doa. Sambutan pertama disampaikan oleh Fajar Utama S.Sos., M.Kesos. Ia berharap kunjungan akademisi dari Maladewa tersebut dapat membuka peluang kerja sama antara pihak kampus dengan universitas di Maladewa, baik dalam bentuk pengalaman, kolaborasi, maupun pengabdian yang berdampak positif.
Sambutan berikutnya disampaikan oleh Moulita, S.Sos., M.A. Ia berharap kegiatan ini dapat memberikan pengalaman baru dan pengetahuan dari riset internasional yang dibawakan Aminath. Menurutnya, mahasiswa tidak hanya hadir sebagai peserta, tetapi juga diharapkan memperoleh perspektif baru di luar materi perkuliahan.
Dalam pemaparannya, Aminath memperkenalkan berbagai kondisi sosial di Maladewa. Ia menjelaskan bahwa masyarakat di negara tersebut sangat beragam karena adanya pekerja migran dari India, Sri Lanka, Bangladesh, Nepal, hingga Filipina. Maladewa sendiri terdiri dari lebih dari 1.000 pulau, tetapi hanya sekitar 194 pulau yang dihuni. Mobilitas masyarakat antarpulau juga bergantung pada transportasi laut.
Aminath turut menjelaskan mengenai World Values Survey, yaitu survei global untuk memahami nilai, pandangan, serta tingkat kebahagiaan masyarakat di berbagai negara. Maladewa baru pertama kali berpartisipasi pada periode ketujuh dan kini memasuki periode kedelapan.
Ia menjelaskan bahwa survei dilakukan secara tatap muka dan terdiri dari sekitar 290 pertanyaan. Pengumpulan data memiliki tantangan tersendiri karena saat pelaksanaan, Maladewa sedang menghadapi pandemi Covid-19 sehingga proses penelitian menjadi lebih sulit. Data survei tersebut dikumpulkan dari sampel representatif masyarakat di seluruh negara.
Dalam penjelasannya, Aminath membedakan makna kebahagiaan dan kepuasan hidup. Menurutnya, kebahagiaan merupakan sesuatu yang dirasakan individu, sedangkan kepuasan hidup berkaitan dengan bagaimana seseorang menilai kualitas kehidupannya secara keseluruhan.
Ia juga memaparkan beberapa faktor penentu kebahagiaan dan kepuasan hidup berdasarkan literatur, seperti pendapatan, kondisi ekonomi, relasi atau pernikahan, pendidikan, agama, serta kesehatan. Pendapatan disebut kurang signifikan di negara kaya, tetapi memiliki pengaruh penting di negara berpenghasilan rendah.
Maladewa sendiri masih termasuk negara berkembang meskipun memiliki gross domestic product (GDP) yang tinggi karena sektor pariwisata. Namun, pendapatan di negara tersebut masih belum merata dan berfokus pada sektor tertentu. Selain itu, Maladewa juga dikenal sebagai negara dengan tingkat perceraian yang tinggi.
Salah satu mahasiswa Kesejahteraan Sosial, Rizka Ramadhani, menilai Aminath menyampaikan kuliah umum secara jelas dan luas. Menurutnya, materi yang dibawakan tidak hanya membahas sisi positif penelitian, tetapi juga mengungkapkan berbagai aspek kerentanan yang jarang disampaikan dalam penelitian pada umumnya. Ia juga menilai pembahasan yang disampaikan cukup luas karena mencakup berbagai aspek, seperti kebahagiaan, kemiskinan, serta kondisi life satisfaction masyarakat di Maladewa.
“Dalam penelitian tersebut, kebahagiaan (happiness) dan kepuasan hidup (life satisfaction) dipandang sebagai dua hal yang berbeda, karena masing-masing memiliki indikator dan sudut pandang yang tidak sama, meskipun keduanya tetap penting untuk memahami kesejahteraan masyarakat secara menyeluruh,” jelas Rizka.
Secara keseluruhan, kuliah umum tersebut memberikan perspektif baru mengenai perbedaan antara kebahagiaan dan kepuasan hidup, sekaligus memperkenalkan berbagai fakta sosial di Maladewa kepada mahasiswa.
Redaktur: Debora Gracia Nauli
Leave a comment